Dejurnal.com, Bandung – Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat Tantan Sulthon Bukhawan, menegaskan pentingnya menjaga persatuan dan solidaritas organisasi dalam menghadapi berbagai tantangan dunia jurnalistik, khususnya di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan disrupsi media.
Hal tersebut disampaikannya saat membuka Rapat Kerja (Raker) PWI Kabupaten Bandung di Patuha Resort, Kabupaten Bandung, Selasa (29/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Ketua PWI Jabar juga menyinggung pentingnya menjaga proses demokrasi dalam Kongres PWI yang akan dilaksanakan pada akhir tahun 2026. Ia berharap kongres dapat berjalan lancar dan menghasilkan keputusan yang membawa kebaikan bagi organisasi.
Menurutnya, seluruh anggota PWI harus mengutamakan persatuan dan solidaritas, terlepas dari perbedaan pandangan dalam proses kongres.
Ia mengingatkan bahwa PWI pernah menghadapi ujian berat akibat dualisme kepengurusan. Namun, saat ini organisasi wartawan tertua di Indonesia tersebut telah kembali bersatu dan harus terus membangun kebersamaan.
“Kita harus tetap menjaga persatuan dan solidaritas karena yang paling mahal adalah solidaritas itu. Kita sudah lelah dengan perbedaan dan perpecahan yang terjadi beberapa tahun lalu. Alhamdulillah, hari ini PWI sudah bersatu kembali,” katanya.
Selain persoalan organisasi, Ketua PWI Jabar juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi insan pers pada era disrupsi media. Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola masyarakat dalam memperoleh informasi.
Saat ini, masyarakat lebih banyak mengakses informasi melalui media sosial, seperti TikTok, Instagram, dan Facebook. Kondisi tersebut membuat arus informasi semakin deras, tetapi tidak semuanya dapat dipastikan kebenarannya.
Menurutnya, masyarakat kerap mengalami kesulitan membedakan informasi yang benar, informasi yang belum terverifikasi, dan berita bohong atau hoaks.
Bahkan, informasi yang salah apabila disebarluaskan secara masif berpotensi dianggap sebagai sebuah kebenaran oleh masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi media massa untuk mempertahankan perannya sebagai penyedia informasi yang akurat dan terpercaya.
“Teman-teman media menjadi salah satu ujung tombak untuk menjaga agar informasi yang benar tetap ada. Masyarakat membutuhkan informasi yang terverifikasi di tengah derasnya arus informasi saat ini,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi turut dirasakan oleh insan pers. Bahkan, masyarakat kini cenderung membuka media sosial terlebih dahulu untuk mendapatkan berita terbaru dibandingkan mengunjungi situs berita.
Oleh karena itu, perusahaan media dan wartawan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik.
Di sisi lain, ia menilai media memiliki peran strategis dalam menjembatani komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Pers diharapkan dapat membantu mengurangi kesalahpahaman informasi serta menyampaikan informasi yang benar kepada publik.
Tantan juga menyoal tentang peran Artificial Intelligence (Al) pada industri media. Menurutnya, media atau wartawan jangan takut tersaingi oleh Al, justru Al mempercepat proses pekerjaan media.
Melalui Raker PWI Kabupaten Bandung tersebut, diharapkan para wartawan semakin memperkuat kebersamaan, meningkatkan profesionalisme, dan mampu menghadapi tantangan industri media yang terus berkembang.***Sopandi



















