Dejurnal.com, CIAMIS. Lomba desain motif batik yang digagas pegiat batik asal Ciamis, Mia Sumiari Dewi, melalui Prameswari Galuh, di SMAN 1 Panawangan dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional 2026 melahirkan tiga karya terbaik. Pengumuman pemenang berlangsung pada Selasa (6/10/2026).
Kegiatan tersebut mengusung tema “Ragam Cita Prameswari – Transformasi Kearifan Lokal Galuh” dan menjadi ruang bagi siswa untuk menggali potensi budaya serta kearifan lokal di lingkungan sekitar.
Mia mengatakan, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang mencari pemenang. Para siswa diberi ruang untuk mengenal batik sekaligus menuangkan kreativitas dan gagasan mereka ke dalam sebuah motif.
“Batik itu bukan hanya kain. Di dalam motif ada cerita, ada identitas, ada kearifan lokal yang bisa kita kenalkan kepada generasi berikutnya,” ujar Mia.
Melalui tema yang diusung, peserta didorong menggali berbagai sumber inspirasi, mulai dari sejarah dan budaya Galuh, lingkungan sekitar, flora, fauna, hingga potensi lokal yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Tiga Motif Raih Juara
Setelah melalui proses penilaian, tiga karya ditetapkan sebagai pemenang dan diumumkan pada Selasa (6/10/2026).
Juara pertama diraih Ririn Marlina, siswi kelas XI 1, melalui Motif Batik Galendo.
Juara kedua diraih Raafi Mulyadi dari kelas X 8 dengan Motif Batik Elang. Sedangkan juara ketiga diraih Linda Nuraeni, siswi kelas X 7, melalui Motif Batik Lily & Butterfly.
Menurut Mia ketiga karya tersebut memperlihatkan keberagaman cara siswa dalam menangkap ide dan mengolahnya menjadi motif batik.
Galendo membawa unsur kuliner khas Ciamis ke dalam desain, sementara motif elang serta lily dan butterfly menunjukkan eksplorasi peserta terhadap unsur alam.
Enam Karya Lolos Kurasi
Selain tiga karya juara, proses kurasi juga memilih enam desain lain yang dinilai memiliki gagasan dan potensi untuk dikembangkan.
Enam karya tersebut yakni Aliya Kamiliya Asyufa kelas X 10 dengan Batik Parang Rimpit dan Daun Boled Charolina Dwi R. kelas X 4 dengan Batik Galuh Laras Nagari; serta Rifki Jamaludin Aufa kelas X 2 dengan Batik Cinyasag.
Kemudian Raisa Amelia kelas X 1 dengan Batik Pancagara, Fida Lubada Walid Labibah kelas XII 1 dengan Motif Kembang Bungur dan Vellaudia Citra Sanasty kelas XI 1 dengan Motif Ceplok Kembang Rafflesia.
Keenam karya tersebut menjadi bagian dari hasil kreativitas siswa dalam menerjemahkan berbagai unsur lokal ke dalam desain motif batik.
Batik sebagai Media Pendidikan
Mia menjelaskan, lomba tersebut juga memiliki tujuan lebih luas, yakni menjadikan batik sebagai media pendidikan dan pembentukan karakter.
Melalui proses merancang motif, siswa dilatih mengembangkan kreativitas, imajinasi, kepekaan terhadap lingkungan, serta kemampuan menyampaikan gagasan dalam bentuk visual.
Nilai tersebut sejalan dengan semangat Pancawaluya, yakni pinter, singer, bener, bageur, dan cageur.
Batik juga diperkenalkan bukan sekadar sebagai pakaian atau seragam, melainkan sebagai media komunikasi yang dapat membawa pesan, identitas, serta nilai budaya.
“Kita ingin anak-anak tidak hanya tahu dan memakai batik, tetapi juga memahami bahwa mereka bisa ikut menciptakan motif, membawa cerita daerahnya, dan mengenalkan kearifan lokal melalui karya,” kata Mia.
Didukung SMAN 1 Panawangan
Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Kepala SMAN 1 Panawangan, Wawan, S.Pd., M.Pd.
Wawan mengapresiasi kegiatan yang memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas sekaligus mengenal budaya dan potensi lokal.
Menurutnya, kegiatan semacam ini memiliki nilai edukatif karena siswa tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman menggali ide, mengenali lingkungan, dan menghasilkan karya yang memiliki nilai budaya.
Dukungan sekolah juga menjadi bagian penting agar karya para siswa tidak berhenti sebagai hasil perlombaan, tetapi dapat terus dikembangkan.
Bagi Mia, itulah salah satu tujuan Ragam Cita Prameswari. Karya siswa diharapkan dapat terdokumentasi dan memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi motif batik yang lebih luas.
Dengan demikian, hasil lomba tidak berhenti pada pengumuman juara. Desain yang lahir dari tangan siswa diharapkan menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan kearifan lokal sekaligus membuka ruang bagi pengembangan ekonomi kreatif.
“Melalui Lomba Desain Motif Batik ini, kita tidak hanya menggambar, tapi kita sedang menyulam kembali jati diri Galuh, menyemai karakter Pancawaluya, dan mewariskan kebaikan universal untuk generasi mendatang,” tutur Mia.
Melalui lomba ini, Hari Batik Nasional di SMAN 1 Panawangan menjadi lebih dari sekadar peringatan tahunan.
Para siswa mendapatkan ruang untuk mengenal budaya melalui proses kreatif sekaligus membuktikan bahwa kearifan lokal dapat terus hidup ketika diberi ruang untuk ditafsirkan oleh generasi baru. (Nay Sunarti)


















