• Garut
  • Karawang
  • Purwakarta
  • Bandung
  • Ciamis
  • Cianjur
  • Subang
  • Sukabumi
  • indramayu
No Result
View All Result
  • Login
deJurnal.com
Senin, Oktober 5, 2026
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel
No Result
View All Result
deJurnal.com
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel
No Result
View All Result
deJurnal.com
No Result
View All Result

in Regional

Pemerhati Anak Merasa Prihatin Kasus Kekerasan di Dunia Pendidikan Tak Bisa Hilang

bydejurnalcom
Minggu, 5 Maret 2023
Reading Time: 4 mins read
Pemerhati Anak dan Pendidikan, Retno Listyarti 

Pemerhati Anak dan Pendidikan, Retno Listyarti 

ShareTweetSend

Dejurnal.com, Bandung – Kasus kekerasan anak berupa perundungan atau kekerasan fisik dan bully tak pernah hilang dari kehidupan manusia saat ini. Pemerhati anak dan pendidikan menemukan pada awal tahun 2023 saja tercatat 6 kasus berbagai bentuk kekerasan berupa perundungan atau kekerasan fisik dan bully yang terjadi di satuan pendidikan.

Ada santri yang dibakar santri senior di Kabupaten Pasuruan, Kepala Madrasah di Gresik menampar 15 anak karena jajan diluar kantin sekolah, siswa membawa parang ke sekolah di Samarinda karena marah kepada guru olahraganya, Guru di Garut menampar siswa yang kedapatan merokok dan menyuruh anak lain di kelas tersebut menghukum siswa perokok tersebut, dan terakhir di kabupaten Banyuwangi ada siswa SD (11 tahun) bunuh diri diduga karena dibully tidak memiliki ayah.

“Fenomena berbagai kekerasan verbal dan fisik yang melibatkan pelaku usia anak menunjukkan bahwa kekerasan adalah keseharian yang dilihat dan bahkan dialami anak-anak kita, baik dari pengasuhan di lingkungan keluarga maupun dlingkungan tempat anak bermain dan bersekolah, serta dari media sosial. Saking seringnya melihat dan mengalami, lama-lama anak-anak kita menganggap bahwa kekerasan adalah hal yang wajar,” kata Pemerhati Anak dan Pendidikan, Retno Listyarti dalam rilis yang dikirim, Minggu (5/3/2023).

BacaJuga :

Pemkab Purwakarta Bahas AMDAL Proyek Data Center BDX AI Jatiluhur, Belum Ada Kesimpulan

Kapolres Garut Berserta Jajaran Beri Kejutan di HUT ke-81 TNI

Disnakkan Ciamis Benahi Standar Penyembelihan Hewan

Menurutnya, kasus penganiayaan Ananda David (17 tahun) yang dilakukan oleh 3 orang pelaku yang salah satunya juga masih usia anak, menunjukkan bahwa menyelesaikan masalah dengan kekerasan adalah pilihan yang dianggap biasa dan tidak khawatir ada resiko hukum jika melakukan.

“Anak adalah peniru ulung, apa yang dia lihat, rasakan dan alami dari lingkungan dia tumbuh dan dibesarkan, dapat dipastikan akan ditiru dalam perilaku dan bagaimana anak menyelesaikan masalah dengan sesama anak, pendekatan kekerasan menjadi pilihan anak,” tuturnya.

Anak, kata Retno, bukan manusia dewasa yang bentuknya mini, tapi anak adalah manusia yang belum dewasa. Sehingga anak tidak mengerti resiko dan kurang berpikir panjang. Oleh karena itu, anak bisa melakukan kesalahan dalam tumbuh kembangnya menjadi dewasa.

“Oleh karena itu, kesalahan anak tidak berdiri sendiri, karena ada factor pengasuhan keluarga dan lingkungan dia dibesarkan. Pengasuhan keluarga dan disekolah lah yang seharusnya mengajarkan anak anak mengetahui hal baik dan buruk. Role model dari orang dewasa sekitar anak akan menentukan anak menjadi baik atau tidak,” ungkap Retno.

Siswa SD Gantung Diri, Diduga Karena Sering Dibully

Sebagai Pemerhati Anak, Retno menyampaikan duka mendalam pada keluarga korban MR (11 tahun) yang diduga mengalami perundungan dari teman-teman di sekolah dan ditempat mengaji. Korban dirudung karena tidak punya ayah (yatim), sang ayah meninggal setahun yang lalu. Kehilangan ayah tentu merupakan tekanan psikologi berat bagi anak, ketika masalah psikologi kehilangan ini belum sembuh, anak korban justru di bully lantaran kehilangan ayahnya.

Penyebab seseorang bunuh diri memang tidak tunggal, namun kondisi kehilangan ayah dan dibully karena tidak punya ayah lagi tentu bisa menjadi faktor utama si anak memutuskan mengakhiri hidupnya.

“Yang seharusnya dilakukan oleh pendidik adalah membangun empati dan simpati pada sesama anak atas musibah atau ketidakadilan yang dialami orang lain, bukan malah membully,” urai Retno.

Menurut Retno, jika menyimak penjelasan pihak sekolah, ada bantahan pembullyan anak, padahal pihak keluarga menyatakan kalau anak korban kerap curhat pada ibunya karena di bully, bahkan seringkali enggan berangkat ke sekolah, maka hal itu menunjukkan bahwa guru kelas dan lingkungan sekolah anak korban tidak memiliki kepekaan terhadap anak didiknya.

Menurutnya, pihak sekolah seharusnya belajar dari kasus ini, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi dilingkungan sekolah, apalagi dugaan pembullyan sudah berlangsung lama, hampir satu tahun. Bahkan ananda baru kehilangan ayahnya karena meninggal.

Harusnya, kata Retno, ada perhatian khusus ketika terjadi perubahan sikap, karena pihak keluarga menyatakan kalau anaknya berubah murung sejak mendapatkan pembullyan karena tidak punya ayah. Menepis tidak ada pembullyan adalah bentuk melepas tanggungjawab dan upaya menjaga citra sekolah.

“Sementinya ini jadi pembelajaran mahal bagi sekolah dan sekolah harus mulai membangun sistem sekolah yang aman dari kekerasan sebagaimana amanat pasal 54 UU Perlindungan anak dan Permendikbud No. 82 Tahun 2015 tentang pencegahan dan penanggulangan tindak kekerasan di satuan pendidikan”, ujar Retno.

Ia menambahkan, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi seharusnya melakukan pemeriksaaan dan memastikan peristiwa yang sebenarnya. Jika benar, maka jangan ditutupi tetapi harus dibenahi sistem perlindungan anak di seluruh sekolah di wilayah Kabupaten Banyuwangi, agar peristiwa tersebut tidak terulang lagi.

Kasus anak bunuh diri karena di bully bukan kasus pertama, sudah berulang. Seharusnya kasus ananda MR jadi pembelajaran mahal buat kita semua. Ketika orang dewasa di sekitar anak tidak peka, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga, maka anak akan merasa tidak ada jalan keluar karena dia merasa tak ada yang menolongnya. Anak merasa sendiri menghadapi masalahnya. Masalah anak dan orang dewasa tentu berbeda, anak bisa saja sangat terpukul ketika menghadapi suatu masalah yang mungkin bagi orang dewasa dianggap sepele.

“Oleh karena itu, ketika anak mengadukan kekerasan atau pembullyan yang diterimanya, maka keluarga harus mendukungnya dan menanyakan anak apa yang dia buruhkan, peluk anak dan katakan bahwa dia tidak sendirian, hal sesederhana itu saja akan membuat anak tenang dan bisa berpikir logis untuk sama-sama menyelesaikan masalahanya,” pungkas Retno.***Red

Ikuti Whatsapp Channel deJurnalcom
Previous Post

Forum Silaturahmi Ranah Seniman Kabupaten Bandung Gelar Diskusi Sastra “Semesta Para Pengembara”

Next Post

Kunjungan Presiden RI ke Bandung, APBN Untuk Pembangunan Kolam Retensi dan Flyover Kopo Telan Rp 1,26 Triliun

Related Posts

Logo Konfercab XI NU Ciamis Diluncurkan, Tahapan Konfercab Dimulai
deNews

Logo Konfercab XI NU Ciamis Diluncurkan, Tahapan Konfercab Dimulai

Senin, 5 Oktober 2026
Tindak Lanjuti Laporan Warga, Sat Samapta Polres Purwakarta Salurkan Air Bersih
deHumaniti

Tindak Lanjuti Laporan Warga, Sat Samapta Polres Purwakarta Salurkan Air Bersih

Senin, 5 Oktober 2026
Kapolres Purwakarta Perkuat Sinergitas, Hadiri Upacara HUT TNI Ke-81
depemerintahan

Kapolres Purwakarta Perkuat Sinergitas, Hadiri Upacara HUT TNI Ke-81

Senin, 5 Oktober 2026
Pemkab Purwakarta Bahas AMDAL Proyek Data Center BDX AI Jatiluhur, Belum Ada Kesimpulan
depemerintahan

Pemkab Purwakarta Bahas AMDAL Proyek Data Center BDX AI Jatiluhur, Belum Ada Kesimpulan

Senin, 5 Oktober 2026
Kapolres Garut Berserta Jajaran Beri Kejutan di HUT ke-81 TNI
deNews

Kapolres Garut Berserta Jajaran Beri Kejutan di HUT ke-81 TNI

Senin, 5 Oktober 2026
Disnakkan Ciamis Benahi Standar Penyembelihan Hewan
deNews

Disnakkan Ciamis Benahi Standar Penyembelihan Hewan

Senin, 5 Oktober 2026

ADVERTISEMENT

DeepReport

Terkait CSR Peternakan Ayam Manggis, Tak Seorang Pun Mengaku Terima Signifikan

Sabtu, 9 November 2019

Peternakan Ayam Manggis Terkesan Lalai Penetrasikan CSR, Senilai 4 M Pertahun?

Selasa, 5 November 2019

KabarDaerah

Banjir Bandang Dikabarkan Landa Desa Pasawahan Cicurug, Beberapa Rumah Tergerus Air

Senin, 21 September 2020

PDI Perjuangan Garut Berbagi Sembako Kepada Para Janda dan Lansia

Sabtu, 23 Mei 2020

Cetak Buku Nikah WNA Jadi WNI, KUA Sukaresmi “Cuci Tangan”

Minggu, 2 Agustus 2020

Polres Garut Ungkap Komplotan Penyalahguna Narkoba di Cimaragas Pangatikan

Rabu, 2 Desember 2020

HUT RI Ke-77, SMSI Indramayu Kibarkan Merah Putih di Pantai Bali 2

Kamis, 18 Agustus 2022

Iuran Siswa Salah Satu SMK Swasta Di Cibeber Pakai Dana PIP, Akibat Pandemi Covid-19?

Rabu, 30 September 2020

deJurnal.com

© 2025 dejurnal.com. All Right Reserved

Patut Dibaca dan Perlu

  • dePrint
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Karir dan Peraturan Perusahaan Pers
  • Pasang Iklan

Ikuti

No Result
View All Result
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel

© 2025 dejurnal.com. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Tidak diperkenankan copy paste