CIAMIS, deJurnal,- Penilaian Kebersihan, Ketertiban dan Keindahan (K3) yang digelar Pemerintah Desa Beber, Kecamatan Cimaragas, Kabupaten Ciamis, menjadi momentum bagi Dusun Mekarsari untuk menunjukkan hasil gotong royong sekaligus inovasi yang selama ini dijalankan masyarakat.
Kegiatan penilaian tersebut dilaksanakan pada Sabtu (15/8/2026).
Penilaian menyasar sejumlah dusun di wilayah Desa Beber. Penilaian dilakukan sebagai bagian dari proses penyaringan untuk menentukan dusun yang akan mewakili Desa Beber dalam penilaian K3 tingkat Kecamatan Cimaragas.
Kepala Desa Beber, Abdul Wahid Miftah Sofa, mengatakan penilaian antar dusun dilakukan untuk melihat sejauh mana kesiapan masyarakat dalam menjaga kebersihan, ketertiban dan keindahan lingkungan.
“Penilaian ini merupakan bagian dari penyaringan di tingkat desa untuk menentukan dusun yang nantinya menjadi perwakilan Desa Beber ke tingkat kecamatan. Yang kami lihat bukan hanya kondisi lingkungan saat penilaian, tetapi juga bagaimana partisipasi dan kesadaran masyarakat dalam menjaganya,” ujar Abdul Wahid.
Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai perlombaan semata. Kebiasaan menjaga lingkungan yang sudah terbentuk di masing-masing dusun harus tetap dilanjutkan setelah proses penilaian selesai.
“Harapannya kegiatan seperti ini bisa membangun kesadaran masyarakat. Jadi kebersihan, ketertiban dan keindahan bukan hanya dilakukan ketika ada penilaian, tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari,” katanya.
Menghadapi penilaian tersebut, warga Dusun Mekarsari tidak hanya melakukan persiapan secara fisik. Kepala Dusun Mekarsari, Nana Mulyana, bersama para ketua RT dan RW melakukan pembenahan lingkungan selama hampir dua pekan.
“Persiapannya kurang lebih hampir dua minggu. Kami bersama RT dan RW mempersiapkan lingkungan untuk menghadapi penilaian K3,” ujar Nana.
Kebersihan Dijaga Lewat Rutinitas Warga
Dusun Mekarsari terdiri dari 6 RT yang terbagi menjadi 2 RW, dengan jumlah penduduk sekitar 521 jiwa dengan 197 kepala keluarga.
Wilayahnya memiliki luas sekitar 9,54 meter persegi dan sebagian besar masih didominasi kawasan pertanian serta lingkungan yang relatif jauh dari pusat desa.
Untuk menjaga kebersihan, Dusun Mekarsari memiliki kegiatan rutin setiap Jumat. Warga secara bergotong royong membersihkan lingkungan, sementara menjelang penilaian K3 kegiatan tersebut ditingkatkan, termasuk pada hari Minggu.
Nana mengatakan persoalan sampah menjadi salah satu perhatian, terlebih kondisi musim kemarau membuat masyarakat harus lebih berhati-hati terhadap potensi kebakaran.
“Apalagi sekarang musim kemarau, kami mengingatkan warga agar tidak membuang sampah sembarangan dan jangan membakar sampah,” katanya.
Hingga saat ini, Dusun Mekarsari memang belum memiliki bank sampah. Namun, masyarakat mulai diarahkan untuk memisahkan dan menempatkan sampah tertentu, terutama sampah plastik, pada lokasi yang telah disediakan.
“Kami memang belum punya bank sampah, tetapi untuk sampah plastik kami arahkan agar dibuang di tempat khusus. Ini terus kami jaga,” ujarnya.
Pertanian Jadi Kekuatan dan Inovasi Mekarsari
Berada di kawasan pertanian membuat Dusun Mekarsari memilih sektor tersebut sebagai salah satu fokus pengembangan masyarakat.
Nana menyebut terdapat sejumlah inovasi yang tengah dikembangkan. Salah satunya pemanfaatan lahan melalui pembagian bibit tanaman kepada masyarakat secara gratis.
Program tersebut mendapat sambutan positif karena warga dapat memperoleh bibit tanpa harus mengeluarkan biaya.
“Alhamdulillah antusias masyarakat cukup bagus. Karena bibitnya gratis, masyarakat banyak yang mau menanam,” katanya.
Saat ini, sekitar 1.500 pohon telah dibagikan kepada masyarakat. Tanaman tersebut ditargetkan mulai dapat dipanen sekitar tujuh bulan mendatang.
Hasil panen nantinya diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi sebagian dapat menjadi sumber pemasukan bagi kas kampung.
Nana mengatakan keberadaan sumber air yang relatif stabil juga menjadi keuntungan tersendiri bagi masyarakat dalam mengembangkan pertanian.
“Alhamdulillah, sumber air di sini masih cukup stabil. Walaupun kemarau panjang, insyaallah masih bisa menunjang kegiatan pertanian,” ujarnya.
Setiap RT Memiliki Poskamling
Dari sisi ketertiban, Dusun Mekarsari memiliki Poskamling di setiap RT. Kegiatan ronda juga telah memiliki jadwal sehingga keamanan lingkungan tidak hanya bergantung pada momentum penilaian.
“Alhamdulillah setiap RT sudah mempunyai Poskamling dan ada jadwal penjagaan. Kegiatan ronda juga berjalan,” kata Nana.
Menurutnya, keberadaan Poskamling menjadi bagian penting dalam membangun kepedulian warga terhadap keamanan lingkungan.
Rutinitas tersebut juga diharapkan tetap dipertahankan setelah penilaian K3 selesai.
Perhatian terhadap Anak Stunting
Selain lingkungan dan keamanan, perhatian terhadap kesehatan masyarakat juga menjadi bagian dari kegiatan kemasyarakatan di Dusun Mekarsari.
Nana menyebut terdapat lima anak yang masuk dalam pemantauan stunting. Upaya pendampingan dilakukan bersama kader dan orang tua, termasuk melalui pemberian makanan tambahan yang dapat diolah sendiri oleh keluarga.
“Biasanya ada pendampingan dan bantuan makanan untuk anak yang membutuhkan. Makanan itu kemudian diolah oleh orang tuanya, misalnya menjadi makanan dengan bahan sayuran,” jelasnya.
Program tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi anak sekaligus meningkatkan perhatian keluarga terhadap tumbuh kembang anak.
PKK dan Kader Terus Dilibatkan
Kegiatan PKK di Dusun Mekarsari juga terus berjalan dengan melibatkan para kader dalam berbagai kegiatan masyarakat.
Nana menilai keberadaan kader sangat membantu pemerintah kewilayahan dalam menjalankan program, terutama yang berkaitan dengan kesehatan, kebersihan dan pemberdayaan masyarakat.
“PKK dan kader sudah berjalan dan tertata. Mereka ikut membantu kegiatan-kegiatan di masyarakat,” katanya.
Penilaian K3 Jangan Berhenti Setelah Lomba
Nana berharap penilaian K3 tidak hanya menjadi pemicu semangat masyarakat menjelang perlombaan. Menurutnya, kebiasaan menjaga kebersihan, keamanan dan ketertiban harus tetap berjalan meski penilaian telah selesai.
Ia mengakui momentum menjelang Hari Kemerdekaan biasanya membuat antusiasme masyarakat meningkat. Apalagi ketika kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk perlombaan antardusun.
“Menjelang 17 Agustus, semangat masyarakat memang biasanya tinggi. Kalau dilombakan, masyarakat lebih terpacu untuk berusaha meraih kemenangan,” ujarnya.
Namun, menurut Nana, yang lebih penting adalah bagaimana semangat tersebut tetap diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kebersihan dan keamanan sudah ada jadwalnya. Jadi harapannya setelah lomba selesai tetap diaplikasikan. Jangan sampai hanya bagus ketika dinilai,” katanya.
Bagi Dusun Mekarsari, penilaian K3 bukan sekadar ajang untuk menunjukkan lingkungan yang bersih dan tertib. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat gotong royong, mengembangkan potensi pertanian dan membangun kesadaran masyarakat secara berkelanjutan. (Nay Sunarti)
















