CIAMIS, deJurnal – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-14 Ikatan Wartawan Online (IWO) Kabupaten Ciamis berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan nuansa religius. Bukan hanya menjadi momentum refleksi perjalanan organisasi, kegiatan tersebut juga mempertemukan insan pers dengan ulama dalam semangat memperkuat sinergi dan nilai-nilai kejujuran.
Pimpinan Daerah IWO Kabupaten Ciamis menggelar tasyakuran HUT ke-14 di Lembah Panyawangan, Kampus III Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Desa Sukamaju, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis, Jumat (14/8/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “IWO Berdampak terhadap Kebaikan Bangsa” tersebut turut mendapat dukungan dari Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Ulum Ciamis, KH Arief Ismail Chowas, yang juga Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Ciamis masa khidmah 2021–2026 sekaligus Dewan Kehormatan IWO Kabupaten Ciamis.
Dukungan tersebut tidak hanya berupa penyediaan tempat. KH Arief bersama keluarga besar Pondok Pesantren Miftahul Ulum juga turut menjamu awak media dan tamu undangan yang hadir dalam kegiatan tasyakuran tersebut.
Bagi IWO Ciamis, keterlibatan pimpinan pondok pesantren dalam kegiatan organisasi wartawan menjadi gambaran bahwa hubungan antara insan pers dan ulama dapat dibangun dalam suasana yang saling menghargai dan memberikan manfaat.
Heru: Sinergi dengan Kiai Menjadi Kehormatan bagi IWO
Ketua IWO Kabupaten Ciamis, Heru Pramono, menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada KH Arief Ismail Chowas beserta keluarga besar Pondok Pesantren Miftahul Ulum yang telah memberikan ruang bagi IWO untuk melaksanakan tasyakuran HUT ke-14.
Menurut Heru, dukungan tersebut menjadi bentuk nyata sinergitas antara insan pers dengan tokoh agama dan lingkungan pesantren.
“Kami menyampaikan terima kasih dan merasa bangga karena tasyakuran HUT IWO ke-14 ini bisa dilaksanakan di tempat yang penuh dengan nilai-nilai keagamaan. Terlebih, KH Arief Ismail Chowas merupakan Dewan Kehormatan IWO Ciamis,” ujar Heru.
Ia menilai kedekatan antara IWO dengan KH Arief selama ini tidak hanya sebatas hubungan organisasi. Ada komunikasi dan kepedulian yang terus terbangun antara insan pers dengan ulama.
“Bagi kami, ini bukan hanya soal tempat. Ada nilai kebersamaan dan sinergitas antara wartawan dengan kiai. Kami berharap hubungan baik ini terus terjaga dan memberikan manfaat bagi masyarakat Ciamis,” katanya.
Heru menambahkan, momentum HUT ke-14 IWO menjadi kesempatan untuk kembali mengingatkan seluruh anggota bahwa profesi wartawan memiliki tanggung jawab besar terhadap publik.
Menurutnya, wartawan tidak hanya dituntut menyampaikan informasi secara cepat, tetapi juga harus menjunjung tinggi kejujuran, akurasi, keberimbangan dan etika dalam setiap karya jurnalistik.
Bertepatan Bulan Maulud, IWO Dapat Tausiyah tentang Kejujuran
Suasana tasyakuran semakin terasa religius karena pelaksanaannya bertepatan dengan 1 Rabiul Awal, yang dalam tradisi masyarakat Indonesia dikenal sebagai awal bulan Maulud, bulan yang identik dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Kesempatan tersebut dimanfaatkan KH Arief Ismail Chowas untuk memberikan tausiyah kepada para wartawan dan tamu undangan yang hadir.
Dalam tausiyahnya, KH Arief mengangkat keteladanan Rasulullah SAW, terutama mengenai akhlak dan kejujuran. Nilai tersebut kemudian dikaitkan dengan tanggung jawab seorang wartawan dalam menjalankan profesinya.
Kejujuran, kata dia, merupakan salah satu akhlak penting yang harus menjadi pegangan dalam kehidupan, termasuk ketika seseorang menjalankan tugas jurnalistik.
Seorang wartawan memiliki tanggung jawab menyampaikan informasi kepada masyarakat. Karena itu, informasi yang disampaikan harus bersumber dari fakta dan tidak boleh direkayasa demi kepentingan tertentu.
Keteladanan Rasulullah SAW yang dikenal sebagai pribadi yang jujur menjadi relevan untuk dijadikan pijakan moral bagi siapa pun, termasuk insan pers.
Pesan tersebut sejalan dengan tantangan dunia jurnalistik saat ini. Di tengah derasnya arus informasi digital, wartawan berhadapan dengan tuntutan kecepatan sekaligus kewajiban memastikan informasi yang disampaikan benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sholawat dan Keteladanan Nabi
Selain membahas kejujuran, KH Arief juga menyampaikan tentang besarnya manfaat membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Peringatan HUT IWO yang bertepatan dengan bulan Maulud dinilai menjadi kesempatan yang baik untuk kembali mengingat perjalanan dan keteladanan Rasulullah SAW.
Sholawat bukan sekadar rangkaian kalimat yang dilantunkan, tetapi juga menjadi bagian dari kecintaan umat kepada Nabi Muhammad SAW serta pengingat untuk meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi pesan penting bagi insan pers. Wartawan tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis dalam mencari dan menulis berita, tetapi juga membutuhkan landasan moral agar informasi yang disampaikan tidak merugikan orang lain dan tetap berpihak pada kepentingan masyarakat.
HUT IWO Menjadi Ruang Memperkuat Kebersamaan
Tasyakuran HUT ke-14 IWO Ciamis akhirnya tidak hanya menjadi agenda organisasi. Pertemuan tersebut menjadi ruang silaturahmi antara wartawan, ulama, keluarga besar pesantren dan para tamu undangan.
Kehangatan kegiatan semakin terasa dengan dukungan penuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum yang menyediakan tempat sekaligus menjamu para awak media dan tamu yang hadir.
Bagi IWO Ciamis, suasana tersebut menjadi pengingat bahwa pers tidak berdiri sendiri. Wartawan merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab untuk membangun komunikasi, menyampaikan informasi yang benar dan ikut menjaga kehidupan sosial agar tetap sehat.
Di usia ke-14, IWO Ciamis pun ingin terus membangun kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk ulama dan pesantren.
Sinergi tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi hubungan yang saling menguatkan dalam menghadirkan informasi yang mencerdaskan, menjaga nilai-nilai moral dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Momentum HUT ke-14 yang berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren Miftahul Ulum menjadi salah satu pengingat bahwa kemajuan pers tidak hanya ditentukan oleh perkembangan teknologi, tetapi juga oleh integritas orang-orang yang berada di balik setiap berita.
Kejujuran, keteladanan dan tanggung jawab kepada masyarakat menjadi nilai yang harus terus dijaga agar pers benar-benar mampu memberikan dampak terhadap kebaikan bangsa. (Nay Sunarti)
















