Dejurnal.com, CIAMIS. Ruas Jalan Kabupaten Gardu–Ciilat di Desa Selacai, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, terputus setelah tanah longsor membuat badan jalan amblas sepanjang sekitar 60 meter sekitar pukul 05.00 WIB Sabtu (3/10/2026)
Longsor terjadi di Dusun Cinutug Blok Depok, RT 04 RW 06. Kondisi badan jalan yang terputus membuat kendaraan tidak dapat melintas sehingga akses warga di ruas tersebut untuk sementara ditutup.
Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian tersebut. Namun, kondisi tanah di sekitar titik longsor masih berpotensi bergerak sehingga masyarakat diminta tidak mendekati lokasi.
Pemerintah Kabupaten Ciamis langsung melakukan penanganan awal, usai pelaksanaan HUT-81 TNI Bupati Ciamis Dr. H. Herdiat Sunarya meninjau lokasi bersama Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Tata Ruang dan Pertanahan (DPUTRP) Kabupaten Ciamis Dr. H. Taufik Gumelar, jajaran Polres Ciamis, Kodim 0613/Ciamis dan Dinas Perhubungan.

Bupati Herdiat meminta penanganan darurat segera dilakukan untuk mengamankan lokasi. Namun, ia menekankan agar langkah permanen tidak dilakukan secara tergesa-gesa mengingat kondisi medan telah berubah akibat longsor.
“Kami meminta jajaran terkait bergerak cepat melakukan penanganan darurat, tetapi untuk penanganan permanen harus berdasarkan kajian teknis yang tepat. Kondisi lokasi sudah berubah akibat longsor, sehingga solusi yang dibangun harus aman dan dapat memberikan akses yang berkelanjutan bagi masyarakat,” katanya.
Warga Diminta Waspada Longsor Susulan
Bupati Herdiat juga mengingatkan masyarakat agar tidak mendekati lokasi longsor. Kondisi tanah yang belum stabil masih memungkinkan terjadinya pergerakan susulan.
Warga yang berada di sekitar lokasi diminta segera melaporkan apabila menemukan retakan baru, pergeseran tanah maupun tanda-tanda lain yang berpotensi membahayakan.
Badan Jalan Tak Bisa Sekadar Dikembalikan
Kondisi longsor membuat penanganan ruas Gardu–Ciilat tidak cukup hanya dengan menimbun kembali badan jalan yang amblas.
DPUTRP Ciamis menilai perubahan kondisi topografi di lokasi perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan bentuk penanganan.
Salah satu alternatif yang mulai disiapkan adalah pembangunan jembatan sebagai akses penghubung.
Kepala DPUTRP Kabupaten Ciamis Dr. H. Taufik Gumelar mengatakan, rencana tersebut masih berada pada tahap kajian.
“Untuk jalan, melihat kondisi medan sekarang, tentu tidak bisa hanya berpikir mengembalikan seperti kondisi sebelumnya. Salah satu alternatif yang sedang kami siapkan adalah jembatan,” ujar Taufik.
Sebelum menentukan bentuk konstruksi, Pemkab Ciamis akan melakukan penyelidikan tanah. Hasilnya kemudian digunakan sebagai dasar penyusunan Detail Engineering Design (DED).
“Kami akan lakukan penyelidikan tanah terlebih dahulu, kemudian DED. Dari situ baru bisa ditentukan desain dan bentuk penanganan yang paling sesuai dengan kondisi di lapangan,” katanya.
Dengan tahapan tersebut, pembangunan nantinya diharapkan tidak hanya memulihkan akses, tetapi juga mempertimbangkan keamanan konstruksi dan kondisi tanah di sekitar lokasi.
Kebocoran Irigasi Jadi Perhatian
Selain memutus badan jalan, longsor juga berdampak pada tanggul Saluran Irigasi Daerah Irigasi (DI) Nanggela yang berada di atas tebing.
Dari pemeriksaan awal, terdapat kebocoran pada saluran irigasi yang diduga berkaitan dengan kondisi tanah di lokasi. Air yang merembes diduga membuat tanah menjadi jenuh sehingga memperbesar risiko pergerakan tanah.
Meski demikian, Pemkab Ciamis jelas Taufik belum menyimpulkan kebocoran tersebut sebagai penyebab pasti longsor. Kajian teknis masih diperlukan untuk memastikan faktor yang memicu amblasnya badan jalan.
Lebih lanjut Taufik menuturkan, langkah pertama yang dilakukan DPUTRP adalah mengendalikan aliran air agar tidak semakin memperburuk kondisi tanah.
Untuk sementara, bagian saluran yang mengalami kebocoran ditahan menggunakan terpal. Aliran air kemudian dialihkan melalui pipa untuk mengurangi tekanan air ke area terdampak.
“Untuk penanganan awal, kami fokus dulu pada pengamanan lokasi dan pengendalian aliran air. Kebocoran saluran sementara kami tahan menggunakan terpal, kemudian air dialihkan melalui pipa agar tekanan air bisa dikurangi,” tuturnya.
Penanganan tersebut dilakukan sambil menunggu kajian lebih lanjut mengenai kondisi tanah dan saluran irigasi.
Akses Kendaraan Dialihkan
Karena badan jalan terputus, Ruas Gardu–Ciilat untuk sementara ditutup total. Dinas Perhubungan Kabupaten Ciamis langsung melakukan pengaturan lalu lintas di sekitar lokasi untuk mencegah kendaraan mendekati titik longsor.
Pengguna jalan dari arah Ciilat dapat menggunakan jalur alternatif melalui Ruas Jalan Rajadesa–Cikaso dan Ruas Jalan Cibadak–Cipondok.
Sementara dari arah Gardu, kendaraan dapat menggunakan jalan desa menuju Ruas Jalan Cibadak–Cipondok.
Masyarakat diminta mengikuti arahan petugas dan tidak memaksakan diri melewati ruas jalan yang telah ditutup.
Taufik menambahkan Pemkab Ciamis akan terus memantau kondisi lapangan sembari melakukan koordinasi antar instansi untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.
“Untuk saluran irigasi, salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah perubahan trase. Sementara untuk akses jalan, pembangunan jembatan akan dikaji berdasarkan hasil penyelidikan tanah dan DED,” imbuhnya.
Taufik berharap penanganan tersebut dapat memberikan solusi jangka panjang bagi akses masyarakat sekaligus memastikan konstruksi yang dibangun sesuai dengan kondisi medan di lokasi longsor.
“Yang paling penting bukan hanya jalan bisa kembali dilalui, tetapi bagaimana penanganannya benar-benar aman dan sesuai dengan kondisi tanah di lokasi. Sehingga dapat memberikan kepastian akses bagi masyarakat sekaligus mengurangi risiko kerusakan kembali apabila terjadi pergerakan tanah di sekitar lokasi” pungkasnya. (Nay Sunarti)


















