CIAMIS,deJurnal,- SMP Negeri 4 Ciamis memanfaatkan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 sebagai momentum memperkuat budaya sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan.
Melalui MPLS Ramah Anak yang dipadukan dengan program PUTERI BERANI, sekolah menanamkan keberanian kepada peserta didik untuk berani berkata benar, berani melapor, dan berani mencegah segala bentuk kekerasan di lingkungan sekolah.
Program PUTERI BERANI yang digagas Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Aris Gunanto, tersebut mulai disosialisasikan di SMP Negeri 4 Ciamis pada Jumat (17/7/2026) sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter sekaligus langkah preventif mencegah perundungan di lingkungan sekolah.
Kepala SMP Negeri 4 Ciamis, Memet Pribadi, mengatakan seluruh rangkaian MPLS tahun ini dilaksanakan dengan mengedepankan prinsip ramah anak. Tidak ada praktik kekerasan, intimidasi, maupun bullying dalam setiap kegiatan yang diikuti peserta didik.
“Tahun ini kami melaksanakan MPLS yang benar-benar mengedepankan prinsip ramah anak. Tidak ada kekerasan, tidak ada perundungan, dan seluruh kegiatan diarahkan untuk membantu peserta didik mengenal lingkungan sekolah dengan nyaman serta menyenangkan,” ujar Memet.
Ia menjelaskan, sekitar 300 peserta didik mengikuti kegiatan MPLS yang tidak hanya berisi pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga pembinaan karakter, penguatan disiplin, serta edukasi tentang pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang saling menghargai.
Menurut Memet, kehadiran program PUTERI BERANI menjadi penguat komitmen sekolah dalam membangun karakter peserta didik, khususnya remaja putri, agar memiliki keberanian menyampaikan kebenaran dan menolak segala bentuk kekerasan maupun perundungan.
“Kami berharap putra-putri di SMP Negeri 4 Ciamis memiliki keberanian untuk mengatakan benar apabila memang benar, berani menyampaikan jika ada yang salah, dan tidak takut melapor ketika melihat ataupun mengalami tindakan yang mengarah pada bullying. Itu yang ingin kami bangun melalui program ini,” katanya.
Sebagai bentuk keseriusan, SMP Negeri 4 Ciamis juga telah membentuk Tim Pencegahan Bullying yang melibatkan guru dan peserta didik. Menurut Memet, keterlibatan siswa sangat penting karena mereka lebih memahami dinamika pergaulan di antara teman sebayanya sehingga potensi persoalan dapat dideteksi lebih dini.
“Tim ini terdiri dari guru dan siswa. Justru siswa lebih cepat mengetahui kondisi teman-temannya sehingga pencegahan bisa dilakukan sebelum persoalan berkembang menjadi kasus yang lebih besar,” jelasnya.
Tim tersebut berkoordinasi secara rutin dengan guru Bimbingan dan Konseling (BK) untuk melakukan pemantauan terhadap kondisi peserta didik. Jika ditemukan indikasi perundungan ataupun persoalan sosial lainnya, sekolah segera melakukan pendampingan dan pembinaan dengan mengedepankan pendekatan persuasif.
Selain penguatan di internal sekolah, SMP Negeri 4 Ciamis juga terus membangun kolaborasi dengan berbagai pihak. Sebelumnya, sekolah menggandeng jajaran Kepolisian untuk memberikan edukasi mengenai pencegahan bullying, kenakalan remaja, hingga penggunaan media digital secara bijak sebagai bagian dari upaya menciptakan sekolah yang aman dan ramah anak.
Memet menegaskan, keberhasilan mewujudkan sekolah ramah anak tidak dapat dilakukan oleh sekolah sendiri. Dibutuhkan dukungan orang tua, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat agar budaya saling menghargai, saling peduli, dan saling melindungi benar-benar tumbuh di lingkungan pendidikan.
“Kami ingin setiap anak merasa aman dan nyaman berada di sekolah. Dengan lingkungan yang positif, mereka akan lebih percaya diri untuk belajar, berkembang, serta menjadi generasi yang berkarakter dan berintegritas,” pungkasnya. (Nay Sunarti)
















