Minggu, 19 Mei 2024
BerandadeNewsICI Menilai Rotasi Mutasi Promosi Kabupaten Karawang Kontroversial dan Sarat Politik

ICI Menilai Rotasi Mutasi Promosi Kabupaten Karawang Kontroversial dan Sarat Politik

Dejurnal.com, Karawang – Rotasi, mutasi dan promosi yang dilakukan Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana menjelang berakhir masa jabatannya menuai kontroversi karena dianggap sarat politis menjelang Pilkada 2020. Apalagi ketidakhadiran wakil bupati pada penetapan rotasi mutasi dan promosi di GOR Panatayudha menambah isu miring terhadap bupati petahana terkait rotasi mutasi tersebut, Selasa (7/1/2020).

“Saya pribadi hadir di acara penetapan rotasi mutasi dan promosi tersebut, dan memang menuai kontroversi,” ujar Direktur Indonesian Corruption Investigation (ICI) Jawa Barat, Marwan Ali Hasan, SH saat dihubungi dejurnal.com melalui pesan whatsapp, Rabu (8/1/2020).

Menurut ia, tak ada orang baru dalam jabatan eselon dua, tak ada satupun ASN yang menjabat eselon dua dari hasil prestasi, semuanya masih itu-itu juga.

“Hanya pindah jabatan saja, orangnya ya masih itu-itu juga, orang Jakarta bilang lu lagi lu lagi,” tegasnya.

Marwan menilai, jika melihat daftar rotasi mutasi, si A asalnya Kadis (kepala dinas) C pindah jadi Kadis B, begitu juga sebaliknya, bahkan ada Kadis yang tetap menduduki jabatannya.

“Ada apa dibalik semua ini, apa rotasi mutasi hanya untuk memperkuat Pilkada 2020 bagi petahana?” ujarnya.

Sebenarnya, lanjut Marwan, sah-sah saja di masa akhir kepemimpinannya Bupati melakukan rotasi mutasi dengan tujuan agar ada penyegaran di SKPD dan memberikan ruang kepada ASN yang memiliki kapasitas dan prestasi baik naik jabatan demi perubahan kinerja yang lebih baik.

“Lha kalau cuma muter-muterin orang dari sini ke sana yang di sana pindah sini, terus profesionalismenya dimana, ini justru yang menjadi kontroversial,” tandasnya.

Marwan khawatir manuver Bupati Cellica seperti ini justru menjadi blunder bagi dirinya sendiri di Pilkada 2020 nanti, dan tentunya bagi para pejabat yang dirotasi mutasi pun akan merasakan efeknya tatkala petahana tak jadi Bupati lagi.

“Namun yaa, itulah politik dengan segala resikonya, sah sah saja, hanya sangat disayangkan saja jika jabatan dijadikan sebagai manuver politik,” pungkasnya.***Rif/Rach

Anda bisa mengakses berita di Google News

Baca Juga

JANGAN LEWATKAN

TERPOPULER

TERKINI