Kamis, 23 Mei 2024
BerandadePrajaParlementariaAda Warga Makan Nasi Aron, Erwin Pertanyakan Kinerja Satuan Gugus Tugas Penanganan...

Ada Warga Makan Nasi Aron, Erwin Pertanyakan Kinerja Satuan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Bandung

Dejurnal.com, Bandung – Seorang warga Kampung Babakan Leuwi Bandung, RT. 05 RW. 01 Desa Citeureup Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung harus makan nasi aron ketika berbuka puasa karena tidak memiliki beras.

Ini salah satu potret warga Kabupatem Bandung yang terkena dampak Covid-19, selain berbuka puasa demgan makan nasi aron, juga ada yang mengganti susu anaknya dengan air dicampur gula merah (aren).

Kondisi ini membuat prihatin anggota Komisi A DPRD Kabupaten Bandung H. Erwin Gunawan.

“Mereka itu warga Kabupaten Bandung, dan layak dapat bantuan pemerintah. Apalagi Dayeuhkolot kan masuk sebagai wilayah Pembatasan Berskala Besar (PSBB) yang kebutuhan wargamya wajib dipenuhi,” tuturnya saat melakukan Bakti sosial, membagikan 150 nasi bungkus bersama PAUD Al-Hidayah, Jumat (1/5/2020) Sore di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung Jawa Barat.

Menurut Erwin, warga yang harus makan nasi aron itu bernama Oleh yang kesehariannya menjadi pemulung dengan penghasilan Rp 40 perhari. Namun, saat hujan dan banjir Oleh dan keluarganya harus puasa, karena tidak ada penghasilan sama sekali.

“Apalagi sekarang dengan terjadinya musibah Covid-19, Oleh tidak berpenghasilan sama sekali. Bankan untuk berbuka puasa anak dan istrinya dia hanya mampu memberinya nasi aron,” kata Erwin.

“Kejadian sama, akibat wabah pandemi Virus Corona menimpa pada Yusmarini, yang di PHK oleh perusahaannya, dengan terpaksa mengganti susu anaknya dengan air yang dicampur gula merah,” imbuh Erwin.

Dengan kejadian ini, Erwin mempertanyakan kinerja Satuan Gugus Tugas Penanganan Covid -19 Kabupaten Bandung, yang dinilainya tidak efektf.

“Percuma anggaran sebesar Rp. 123 milyar, tapi kinerjanya belum terbukti,” tegasnya.

Anggaran untuk pencegahan Covid -19 Pemda Bandung bahkan harus “mengkukud” dari tiap dinas lebih dari Rp 1 miliar. Hal ini diakui oleh Dedeh Yulia, S.Ip Seksi Pengembangan Koleksi dan Pengolahan Bahan Perpustakaan Dinas Perarsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung, yang harus membatalkan beberapa rencana belanja pengadaan buku, karena anggarannya “habis”.

“Tapi saya maklum karena ini situasi kejadian luar biasa. Mudah-mudahan segera berlalu,” ujarnya belum lama ini via telepon.

Sementara Erwin kembali menjelaskan, untuk jaring sosial tidak cukup data dari Puskesos, dan BPS, sebab ujar Erwin tidak menutup kemungkinan itu data lama, sehingga warga miskin luput dari bantuan.

Erwin meminta, Pemkab Bandung segera melakukan pemutahiran data, agar pemberian bantuan bisa tepat sasaran. ” Yang saya temukan baru satu Oleh saja, tidak menutup kemungkinan masih ada oleh-oleh yang lainnya,” tuturnya.

Selama ini, jelas Erwin Kabupaten Bandung itu meraih segudang penghargaan, baik dari tingkat nasional dan regional. Tapi kenyataan, di wilayahnya masih ada masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinin dan luput dari jaring sosial.

Menurut Erwin, penghargaan, bukan jaminan keberhasilan suatu daerah, tapi pemenuhan kebutuhan makan masyarakat, terutama warga miskin harus menjadi prioritas.

“Memprihatinkan. Rakyat tidak butuh penghargaan, tetapi warga butuh makan untuk menyambung hidupnya,” pungkasnya. *** Sopandi

Anda bisa mengakses berita di Google News

Baca Juga

JANGAN LEWATKAN

TERPOPULER

TERKINI