Kamis, 23 Mei 2024
BerandadeHumanitiDi Pesta Rakyat Kuwera Duplikatnya, Goong Renteng Yang Asli Tidak Sembarang Ditabuh

Di Pesta Rakyat Kuwera Duplikatnya, Goong Renteng Yang Asli Tidak Sembarang Ditabuh

Dejurnal.com,Bandung – Di Pesta Rakyat Kuwera Bakti Sabilulungan yang digelar di Bale Rame Komplek Gedong.Budaya Sabilulungan, Minggu (16/8/2020) di tabuh Goong Renteng Embah Bandong dari Desa Batukarut, Kecamatan Arjasari.

Goong renteng merupakan salah satu jenis gamelan khas masyarakat Sunda yang sudah tua. Setidaknya sudah ada sejak abad ke-16 dan terdapat di beberapa daerah Jawa Barat, di antarannya di Cileunyi dan Cikebo, Tanjungsari Sumedang, Lebakwangi Arjasari Kabupaten Bandung. Goong renteng juga terdapata di Karaton Kanoman Cirebon, di Cigugur Kuningan, Talaga Majalengka, Ciwaru Sumedang, Tambi Indramayu, Mayung, Suranenggala, serta Tegalan Cirebon.

Jadi goong renteng itu tidak hanya ada di Batukarut. Hanya, yang membedakan goong renteng yang lain dengan Goong Renteng Embah Bandung Batukarut, yakni dalam laras. “Kalau yang lain larasnya pelog atau salendro, kalau Goong Renteng Embah Bendong itu. Kata para ahli seni larasnya khusus bandongan, tidak bisa untuk laras lain,” begitu diungkapkan Itang Rusmana Erawan, salah satu ais pangampih lembaga Sasaka Waruga Pusaka yang memelihara Goong Renteng Embah Bandong saat ditemui di sela acara Pesta Rakyat.

Goong Renteng Embah Bandong tidak sembarang ditabuh, tapi mengapa di Pesta Rakyat itu ditabuh? Kata Itang, Goong Renteng Embah Bandong yang asli memang ditabuh hanya pada bulan Mulud pada ritual mencuci benda pusaka. Hal ini untuk menjaga dari kerusakan. Yang ditabuh untuk pagelaran seperti festival atau pada Pesta Rakyat saat ini adalah goong renteng duplikatnya.

“Goong Renteng Embah Bandong yang asli tersimpan di salah satu rumah pengurusnya. Setiap bulan Mulud dicuci, itu untuk membersihkan dari karat dan kotor. Tidak sembarang ditabuh karena untuk menjaga kelestariannya,” kata Itang.

Tidak disebut kapan titimangsa ditemukannya, yang jelas Goong Renteng Embah Bandong ditemukan di daerah Tanjungwangi. Tempat tersebut, sekarang dinamakan Lebakwangi Desa Batukarut oleh seorang bangsawan, setingkat bupati jika di masa sekarang, namanya Embah Dalem Panggung Jayadikusumah.

Masyarakat setempat mengenalnya dengan sebutan Embah Dalem Andaya Sakti. Gamelan tersebut merupakan dua bonang, goong, kècrèk, beri, dan saron.

Ada yang berpendapat, disebut gamelan renteng karena bonangnya direntetkeun atau dirèntèngkeun istilah Sunda. Mungkin dulu itu tidak seperti sekarang memakai ancak.

Goong renteng pada jaman Belanda ditabuh dalam acara melantik Bupati Bandung atau acara resepsi lainnya. Ditabuh hingga subuh dengan lima jenis gemelan yang disebut tadi, sekarang-sekarang ditambah gendang.

Kelima waditra gamelan Embah Bandong mengandung filosofi, bahwa lima pancaindra manusia harus bersih.

Apa keistimewaan dan bagaimana bisa dipercaya ada aura magis dan sakralnya kalau yang ditabuh itu duplikatnnya? Malahan sekarang sudah dibuat tiga duplikat untuk dipakai latihan dan menabuh dalam suatu acara.

Dari pengalaman nayaga atau para penabuhnya, dalam laras dan ritualnya sama, hanya auranya memang beda antara menabuh yang asli dengan duplikat. Apalagi yang asli berbahan perunggu, seperti goong. Suaranya lebih bergema sebab selain bahannya dari perunggu juga lebih tebal dan besar ukuranannya.***Sopandi

Anda bisa mengakses berita di Google News

Baca Juga

JANGAN LEWATKAN

TERPOPULER

TERKINI