Selasa, 18 Juni 2024
BerandadeNewsWarga Purbayani Geram, Manajemen PT Alba Ingkari Kesepakatan Sebelum Pabrik Berdiri

Warga Purbayani Geram, Manajemen PT Alba Ingkari Kesepakatan Sebelum Pabrik Berdiri

Dejurnal.com, Garut – Aksi gerudug dan pemblokiran pabrik kayu lapis PT. Alba Utama Indonesia yang berlokasi di kampung Yani Desa Purbayani Kecamatan Caringin, ternyata dipicu bukan hanya sekedar persoalan upah, namun aksi yang dilakukan warga lebih cenderung kepada tidak konsistennya pihak manajemen terhadap kesepakatan yang telah dibuat dengan warga sebelum mendirikan pabrik.

Menurut penanggung jawab aksi, Moh Dadi Ali, kesepakatannya yang telah dibuat antara lain memberdayakan warga setempat untuk ikut mengais rejekinya, namun setelah beroperasi, harapan warga itu sia-sia saja dan setiap ditanyakan selalu mengelak dan beralasan perusahaannya sedang pailit.

“Padahal, warga sangat mengetahui setiap harinya terus memproduksi kayu lapis,” ungkapnya.

Dadi Ali mengatakan, pihak manajemen hanya beralasan saja perusahaannya pailit, padahal selama ini warga tidak tinggal diam terus menelusuri keberadaannya
hingga bertemu langsung dengan investornya.

“Kita banyak berdiskusi dengan pihak investor, kesimpulannya perusahaan itu tetap berproduksi dan meraup keuntungan. Hanya saja, investor sendiri mengaku ditelikung oleh pihak manajemen. Makanya, kita lebih percaya kepada pihak investor ketimbang kepada majemen yang saat ini mengelola pabrik tersebut,” ungkapnya.

Ditegaskan Moh Dadi, ia dan warga sudah tidak bisa dibendung lagi kekecewaan dan kekesalannya, hingga akhirnya aksi pemblokiran pun terpaksa harus dilaklukan, mengingat pihak manajemen selalu berkelit dengan alasan mengalami pailit.

“Kita melakukan aksi ini semata-mata dipicu dari ulah oknum manajemen perusahaan sendiri yang tidak memenuhi hak dan kewajiban atas jaminan terhadap lingkungan, dan kesejahteraan karyawan serta warga sekitar,” katanya.

Yang sangat mengejutkan, papar Dadi, Direktur Operasional PT Alba Utama Indonesia, terkesan hanya mampu melakukan pengalihan opini, seolah-olah ia adalah pemilik tunggal perusahaan sehingga bisa melakukan apa saja.

Diakui Dadi, dengan kondisi seperti itu, ia didaulat oleh pihak investor untuk meluruskan carut-marutnya manajemen perusahaan.

“Sebenarnya pihak investor sangat komit dengan kesepakatan awal bersama warga. Hanya saja dalam perjalanannya pihak manajemen justru menelikung investor. Makanya, kita diminta langsung oleh investor meluruskan kemeluit dan caru-marutnya perusahan,” ujarnya.

Dadi Ali mengklaim, aksi pemblokiran itu mendapat dukungan dari seluruh pemuda dan tokoh masyarakat setempat.

“Warga masyarakat kristis dan bukan berarti anarkis. Kami tegaskan ini adalah solusi bukan provokasi, sehingga peristiwa ini menjadi somasi bagi manajemen perusahaan yang tidak rasional. Sejatinya, pihak manajemen menanggapinya dengan lebih bijak dan professional,” pungkasnya.***Adbur

Anda bisa mengakses berita di Google News

Baca Juga

JANGAN LEWATKAN

TERPOPULER

TERKINI