Dejurnal.com, Cianjur – Sudah hampir empat tahun lamanya, Aminah (50) bersama ketiga anaknya tidak merasakan tidur nyaman. Pasalnya, rumah atau layak disebut gubuk Aminah yang berstatus janda ini sering merasakan kehujanan dan kepananasan apabila terpal sebagai atap rumah tersibak angin.
Sejak suami Amina meninggal. kondisi memprihatinkan seperti itu terpaksa dijalani oleh warga Kampung Cidamar RT 03/08, Desa Bobojong, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur ini.
Penghasilannya sebagau buruh tani pun terkadang tak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan dirjnya bersama dengan tiga orang anaknya. apalagi anak-anaknya masih ada yang bersekolah. Satu orang anaknya yang baru masuk kelas 1 SMA terpaksa putus sekolah karena harus membantu mencari nafkah.
Letak rumah Aminah terletak paling ujung dan berbatasan langsung dengan kebun bambu. Sepeninggal almarhum suaminya ia tak mampu lagi melanjutkan pembangunan rumahnya. Kondisi tersebut juga mengundang prihatin para tetangga dan pengurus RW setempat.
Ketua RW Ujang mengatakan bahwa sejak empat tahun lalu sudah banyak yang mengambil gambar dan memotret kehidupan prihatin keluarga Aminah. Namun hingga saat ini rumah Aminah belum berubah dan masih membutuhkan bantuan.
“Terpal ini sering tersapu angin kencang, jadi kalau malam hari bisa kebayang mereka tidur sambil menatap langit,” ujar Ujang, di halaman Rumah Aminah, Rabu(08/04/21).
Ujang mengatakan, sejak empat tahun lalu juga ia sering mengajukan bantuan ke sana ke mari namun belum kunjung berhasil.
“Bagian lantai dalam rumah juga masih tanah, semua serba tanggung, padahal tinggal genting sama atap saja, kasihan memang keluarga Aminah ini,” kata Ujang.
Purwadi (18), anak kedua dari Aminah mengatakan, ia memilih untuk keluar sekolah karena tak tega melihat perjuangan ibunya setiap hari.
“Saya terpaksa putus sekolah pa, jadi kuli bangunan saja buat bantu ibu dan sedikit nambah buat biaya adik Dita Dwiyanti (14) sekolah,” kata Purwadi.
Purwadi juga punya mimpi besar ingin membantu membangun rumah ibunya. Namun penghasilan dari kuli bangunan hanya cukup untuk ia makan sehari-hari.
“Biar adik saya saja yang sekolah pa, kasihan melihat ibu sendiri cari uang,” kata Purwadi.
Purwadi mengatakan, listrik telah ia pasang di rumah tak beratap tersebut. Untuk menghindari korsleting ia membungkus dengan plastik jaringan kabel dan saklar dari meteran agar tak terkena air hujan, pungkas Purwadi menambahkan.***Arkam