Rabu, 22 Mei 2024
BerandadeHumanitiOpiniKitaMenelisik Perubahan Pola Gerakan Kelompok Radikalisme dan Intoleransi di Garut

Menelisik Perubahan Pola Gerakan Kelompok Radikalisme dan Intoleransi di Garut

Oleh : KH. A. Abdul Mujib *)

Pasca Gerakan DI/TII dibawah kepemimpinan S.M Kartoewiryo turun gunung dan Pimpinan Tertinggi DI/ TII ini di vonis hukuman mati, kelompok ini terpecah menjadi 2 Kelompok. Pertama, kelompok DI Fisabilillah dimana kelompok ini terus aktif melakukan gerakan untuk mendirikan Negara Islam Indonesia dan sampai saat ini tidak mengakui adanya Pemerintahan yang sah di Indonesia ).

Kedua Kelompok DI Fillah, kelompok ini mengakui Pemerintahan yang sah saat ini, tetapi mempercayai dan meyakini bahwa akan datang Pemimpin yang akan mendirikan Negara Islam Indonesia “istilah” mereka menunggu Terompet dari langit.

Di Garut Jawa Barat, dimana penulis tinggal, Gerakan Kelompok ini (orang Garut menyebutnya NII – Islam Baiat) mengalami fenomena perubahan Gerakan, dari Gerakan DI Fillah menjadi DI Fisabillah sehingga Gerakan ini semakin terstruktur, sistematis dan masif. Hal ini ini tidak mengherankan karena SM Kartosoewiryo setelah memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia pada 7 Agustus 1949 di Cisayong Tasikmalaya, S.M Kartosoewiryo menjadikan Garut sebagai Pusat Perlawanan terhadap Republik Indonesia dengan mendirikan Pendopo sebagai Pusat Pemerintahan di Malangbong Garut, selain itu S.M Kartosoewiryo juga beristrikan orang Malangbong Garut.

Kelompok DI Fillah di Garut yang paling dominan berada di Garut Selatan selain telah menyebar ke berbagai kecamatan, bahkan ada Pesantren di Pusat Kota yang terafiliasi ke Kelompok ini, keberadaannya sangat besar dan kuat, memiki Pesantren, Lembaga Pendidikan Formal, bahkan memiliki struktur Ekonomi yang kuat dengan menerapkan sistem Infaq sebagai suatu kewajiban yang besarnya antara 10 % sampai dengan 50% dari penghasilan anggotanya.

Selain itu kelompok ini melakukan Revisi Akad Nikah, mereka melakukan Akad Nikah ulang / menikahkan kembali anggotanya walau pun sudah dinikahkan oleh petugas KUA karena dianggap tidak sah, mereka mengangap Petugas KUA adalah bagian dari Pemerintah yang Thogout, bahkan akhir – akhir ini Kelompok mereka sudah berani Menetapkan dan Mengumumumkam Idul Fitri sendiri dengan memberikan Surat Edaran kepada Masyarakat melalui Perangkat Desa kendati di luar kewenanangan Pemerintah Daerah apalagi setingkat Pemerintah Desa tanpa kajian keilmuan yang jelas ( baik Metode Hisab ataupun Ruqyatul Hilal ) dengan alasan Memperkuat Ukhuwah Islamiyah dan untuk menunjukan eksistensi dirinya.

Salah satu Petinggi NII asal Garut yang telah kembali ke ke Pangkuan Ibu Pertiwi yang kini telah menjadi Pengusaha Sukses, pernah diwawancarai penulis di Sekretariat ALMAGARI Garut, mengatakan bahwa terjadi Fenomena Perubahan Gerakan DI Fillah menjadi DI Fisabillah di karenakan Kelompok DI Fillah merasa jenuh menunggu sosok Pemimpin setelah sekian lama menunggu, “Terompet” tak kunjung datang.

Dia juga menambahkan Kelompok Fillah ataupun Fisabillah dan Kelompok lainya produk dari luar negeri ( HTI – Ikhwanul Muslimin – ISIS) di Indonesia berjumlah sekitar 100 faksi, di satu sisi mereka hidup berdampingan dan bekerjasama misalnya mereka berusaha mengangkat satu orang Pimpinan / Imam. Suatu langkah untuk mencari kesepakatan dan kesefahaman diantara Kelompok mereka, tetapi di sisi lain terjadi gesekan yang sangat kuat, mereka siap berperang diantara Kelompok mereka bahkan ada yang mengkafirkan di luar kelompoknya, Jadi jangan heran ketika ada Kelompok Intoleransi dan Radikalisme ikut menghujat keberadaan Pesantren Al Zaitun karena mereka sedang mempertahan jati dirinya, walaupun awalnya mereka sepakat dan sefaham”.

Penulis selaku selaku pemerhati dan konsen dalam memperhatikan dinamika gerakan radikalisme dan intoleransi khususnya di Kabupaten Garut dan umumnya Indonesia, mengajak kepada berbagai pihak terutama aparat terkait harus mewaspadai gerakan ini, karena seandainya NKRI jatuh ke tangan Kelompok Radikalisme dan Intoleransi akan terjadi perang yang berkepanjangan. Salah contoh di Afganistan saja yang hanya memiliki 3 Faksi / Kelompok terjadi perang yang tak berkesudahan apalagi di Indonesia yang memiliki sekitar 100 Faksi / Kelompok Radikalisme dan Intoleransi tersebut.

*) Penulis Ketua Umum Almagari dan Pengasuh Pondok Pesantren Fauzan, Kabupaten Garut

Anda bisa mengakses berita di Google News

Baca Juga

JANGAN LEWATKAN

TERPOPULER

TERKINI