Selasa, 23 April 2024
BerandadeHumanitiKalamBalik ke Kabuyutan, Kembali Kepada Pancasila

Balik ke Kabuyutan, Kembali Kepada Pancasila

Oleh : Ki Maher *)

Festival Kabuyutan Garut yang digelar Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut (DKKG) kerja bareng Makara Art Center Univeraitas Indonesia dan Badan Pengembangan Ideologi Pancasila (BPIP) RI, telah sukses diselenggarakan pada tanggal 1 – 3 Desember 2023 lalu.

Hal yang menarik dalam Festival Kabuyutan tersebut, kunjungan anjangsana budaya BPIP RI ke Kabuyutan Ciburuy yang berada di Desa Pamalayan Kecamatan Bayongbong dan saresehan budaya yang menggali Kabuyutan dalam Pembudayaan Pancasila.

Penulis secara pribadi dan bisa jadi publik yang mengikuti gelaran Festival Kabuyutan secara seksama akan terpengarah ketika diberikan wawasan bahwa Pancasila dibuat berdasarkan penggalian nilai budaya bangsa Indonesia yang sangat banyak jumlahnya, termasuk Kabuyutan.

Kabuyutan tidak bisa dipandang sebelah mata, karena dalam kondisionalnya yang banyak hampir kurang terpelihara secara baik, Kabuyutan memiliki histori tak ternilai dalam sejarah bangsa Indonesia.

Penulis sendiri mencoba menggali arti hakiki dari Kabuyutan yang ternyata tidak bisa dilepaskan dari terbentuknya Pancasila yang kini menjadi dasar negara kita.

HANA NGUNI HANA MANGKÉ, Buyut adalah masa lalu yang sekarang. Sebuah fitrah awal bersinambung akhir, yang lampau hingga kini, nu mula baheula tug wekasan ayeuna. Sebuah tatanan sebagai ketetapan dan kesenantiasaan dalam kejernihan dan kebersihan Ada-nya. Kepadanya kita terpaut kuat tak lekang masa. Usaha memutusnya bukan hanya sia-sia, juga malapetaka. Jangankan memutus, mencemarinya saja beresiko siksa melanda. Tak ada pilihan, selain menetapkannya sebagai Kesakralan yang tabu, Pamali.

Buyut adalah Kedirian kita, cetak biru yang mandarah-mendaging, lalu menjadi Pribadi yang sejati. Maka menghadapkan wajah padanya sebuah kemestian bagi setiap diri, Faaqim wajhaka liddiini hanifah.

HANA TUNGGAK HANA WATANG, Buyut adalah Silsilah dan Sejarah. Yang Buyut menyejarah dalam lampah, yang Pribadi bertajali dalam alur waktu dan hamparan ruang. Ibarat Pohon (Syajaroh) ada pangkal dan cabang. Sebuah benih Pohon yang baik (Syajarotun Thoyyibatun) akan ditanam di Tanah, disirami Air. Pasti akarnya akan kuat menghujam ke bumi, batangnya tinggi menjulang ke langit, cabangnya rindang daun menaungi, lalu buahnya melimpah keberkahan untuk dinikmati bersama lagi merata.

Syajaroh ini menjadi Sejarah kita, Maka jangan sesekali mencemari Pohon suci ini, kecuali kita telah menista diri sendiri, Walaa taqrobaa haadzihi Syajaroh, fatakuunaa minadzoolimiin.

HANA GUNA HANA RING DEMAKAN, Buyut adalah Kebudayaan. Sebentuk daya budhi yang melahirkan rasa dan fikir, yang halus nan jernih. Semodel Budaya luhung pun tergelar. Para Uyut, Leluhur, telah berderma bakti merawat, menjaga, mengembangkan yang Buyut ini, hingga mapan jadi ide-ide, sikap, perilaku, pranata, organisasi, sosok juga artefak dalam membentuk kehidupan bersama yang bahagia dan sejahtera.

Di sini yang Buyut telah bertansformasi menjadi Kabuyutan. Semisal Pohon Kebudayaan yang berakar, bersilislah dan berbuah berkah. Maka sejarah tidak lain dari laku derma merawat bertumbuh kembangnya Pohon Kebudayaan ini. Sebuah derma utama yang akan mendatangkan anugerah utama pula. Memutusnya sebuah dosa yang akan mengundang karma perlaya.

Kabuyutan semisal warisan Kenabian, yang kepadanya setiap generasi musti tersambung untuk mewariskannya kembali ke generasi berikutnya, Yaa ayyuhaldziina Aamanuu, sholluu alaihi wa sallimuu tasliima.

CARÉK NA PATIKRAMA, Kabuyutan merupa Kebangsaan. Sebuah Tanah Air sebagai rumah bersama dengan kepemimpinan para Bapak Bangsanya ; Rama, Resi, Prabu. Ajaran para Bapak Bangsa menjadi aturan hidup yang ditaati.

Ajaran dan aturan itu syarat pengetahuan, etika dan moralitas. Ajaran itu dalam bahasa kemodernannya dirumuskan menjadi Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan (kebersamaan), Kerakyatan dengan Kepemimpinan Hikmah-Kebijaksanaan dan Permusyawaratan, serta Keadilan kesejahteraan bagi kesuluruhan.

Kabuyutan menjadi way of life, ciri dan cara Kebangsaan dimana ajaran dan aturan living dalam keseharian para penduduknya. Inilah taman kehidupan yang Sakinah. Terjaminnya sandang, pangan, papan dan rasa aman. Firdaus yang dijanjikan kepada mereka yang taat ajaran, Uskun Anta wa Zaujukal Jannah.

MADAN NA RAJAPUTRA, Kabuyutan adalah Martabat. Kabuyutan soal kemuliaan atau kehinaan bagi Kebangsaan. Maka soal pertahanan tiada henti dari invansi musuh menjadi krusial di sini. Jatuhnya Kabuyutan ke tangan musuh menjadi pertanda terkikisnya martabat Kebangsaan. Kejatuhan itu nama lain dari kolonialisme. Akibat kolonisasi dengan segala ismenya yang merebak pastilah kehinaan yang akan mendera. Pada saat itu Kebangsaan bak diperlakukan seperti “Kulit Lasun di Jarian, Kulit Musang di tempat sampah”.

Maka etika Rajaputra dari para Pemuka Bangsa dipertaruhkan di sini. Apakah tetap menjaga “Haadzihi Syajaroh” atau memakan dan menyelinginya di taman dengan “Syajarotun Khuldi” dari ilusi syaitoniyah yang dibisikan?, Hal adulluka ala Syajarotil Khuldi wal Mulki laa yablaa.

Bagi para Pemuka Bangsa, apakah Etika Politik “Yushlihu”yang merawat dan menjaga Kebangsaan, ataukah Etos Egoisme yang “Yufsidu fil Ardi”, merusak dan mengeksploitasi? tentu kita dapat mengkonfirmasinya dengan tanda-tanda zaman hari ini.

Jika itu terjadi, maka pilihan yang paling mungkin eling lan waspada. Mengingat kembali Kabuyutan dan kembali kepadanya, “Fastaghfaru tsumma Tubu”. Mengakui kesalahan adalah sikap kewaspadaan, Robbanaa dzolamnaa Anfusanaa, wa illam taghfirlanaa wa tarhamnaa, lanakuunanna minal khoosiriin.

ALA LWIR NA PATANJALA ; Balik ka Kabuyutan. Tampaknya kerusakan di darat dan laut akibat ulah kekuasaan adalah ciri Zaman Lara. Dan lenyapnya etika publik pada institusi sosial besar (Negara) ciri Zaman Pati, sebuah situasi Lara maju ka Pati.

Hanya yang menyaksikan kelaraan dan kepatian yang bisa berharap kesembuhan dan kehidupan yang baru. Hanya yang menyaksikan (Faman Syahida) zaman panas membakar (Romadhon) mereka yang mampu menahan, puasa (Shoum), dan bangun dari tidur kesadaran (Qiyamul Lail) untuk mengingat kembali pengetahuan otentik nan suci (Nuzulul Qur’an). Lalu tema kebangkitan Zaman Anyar (Hatta mathla’il Fajr) jadi bergema di sini.

Mengingat kembali akan kejernihan “Air” yang mengalir dari asal usulnya di “Gunung”, mengikuti alirannya sampai ke “Muara” (Lajuning Patanjala), adalah kembali kepada Tanah Air sebagai Kabuyutan awal dan fundamental, Kabuyutan Tembéy. Maka Patanjala sebagai sikap Budaya; yakni keinsyafan dan balik (Taubat), serta Metodologi estu untuk kembali kepada Kabuyutan di Zaman Lara dan Pati saat ini.

Inilah arti kembali kepada Pancasila sebagai Kebudayaan Kebangsaan, untuk mengingatkan kembali yang lama dilupakan, yaitu Pancasila sebagai dasar Politik-Ekonomi Kenegaraan, Nation-State. Sebagaimana Amanat para Uyut pendiri Republik ; Atas nama Bangsa Indonesia dan untuk melindungi segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Balik ka Kabuyutan, Kembali kepada Kebudayaan-Kebangsaan dan Pancasila adalah Amanat yang musti dijalankan. Sebuah Amanat Galunggung, Galuh Hyang Agung.

*) Penulis pelaku budaya di Kabupaten Garut.

Anda bisa mengakses berita di Google News

Baca Juga

JANGAN LEWATKAN

TERPOPULER

TERKINI