Ciamis,- Pemerintah kabupaten (Pemkab) Ciamis melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) menggelar Rapat Koordinasi Evaluasi Akhir Tim Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Kabupaten Ciamis Tahun 2024. Di Aula STIKES Muhammadiyah Ciamis. Senin (23/12/2024).
Acara dibuka oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Ciamis, Andang Firman Triyadi yang juga merupakan Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Ciamis.

Dalam sambutannya Andang menyampaikan pemerintah menetapkan percepatan penurunan stunting seagai program prioritas nasional dengan target penurunan prevalensi stunting sebanyak 14%.
“Sesuai peraturan presiden nomor 72 tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting bahwa strategi percepatan penurunan stunting ini dilakukan secara konvergen dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan mulai dari tingkat pusat hingga tingkat desa/kelurahan,” ucapnya
Lebih lanjut Andang memaparkan berdasarkan data Survey Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi stunting di kabupaten ciamis mengalami kenaikan sebesar 6,8%, yaitu menjadi 25,4%. dari sebelumnya pada tahun 2022 yaitu sebesar 18,6%
“Salah satu program yang dilakukan saat ini di kabupaten ciamis adalah tahapan pengumpulan data Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, berdasarkan informasi terakhir dari Dinkes Kabupaten Ciamis, pada tanggal 20 desember 2024, sebanyak 498 anak telah dilakukan pengukuran tinggi badan dan ditemukan dengan 62 anak masuk kedalam kategori pendek,” jelasnya
“Berdasarkan hal tersebut maka sebesar 12,4%, jadi sebenarnya masih dibawah target nasional yang seharusnya 14%,” tambahnya.
Menurut Andang pengumpulan data masih berjalan 12 hari lagi sampai dengan tanggal 02 Januari 2025, ia menekankan pengumpulan data oleh enumerator dan mengajak kepada seluruh TPPS tingkat kabupaten dan TPPS tingkat kecamatan untuk melaksanakan beberapa langkah preventif.
“TPPS dapat bertindak dengan beberapa angkah sebagai berikut kesatu TPPS kecamatan melakukan koordinasi dengan unsur Puskesmas dan UPTD P5A tentang data sasaran, dan kedua memfasilitasi pelaksanaan pengumpulan data oleh enumerator, juga perlu diperhatikan pula seberapa banyak keluarga yang beresiko stunting, yang akan melahirkan anak- anak dengan keadaan stunting, semoga dengan langkah tersebut angka persentase balita stunting tetap stabil atau malah menurun,” harapnya.
Andang juga mengungkapkan dalam penanganan keluarga beresiko stunting, di Kabupaten Ciamis telah dilaksanakan kegiatan yang bernama Gerabah Stunting Manis (GSM).
“GSM ini merupakan program inovasi yang diinisiasi oleh Kepala DP2KBP3A Kabupaten Ciamis, kegiatan ini merupakan implementasi pendampingan terhadap keluarga beresiko stunting yaitu calon pengantin, ibu hamil, paska salin dan keluarga yang mempunyai bayi dibawaH dua tahun (BADUTA), melalui GSM ini percepatan penurunan stunting di Kabupaten Ciamis akan semakin baik dengan menghasilkan new zero stunting di kehidupan mendatang, dimana tidak ada lagi stunting baru di kabupaten Ciamis,” tegasnya.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya edukasi kepada calon pengantin agar memahami pola hidup sehat sebelum dan setelah menikah.
“Edukasi ini krusial untuk membangun keluarga yang sehat, yang pada akhirnya akan menciptakan generasi Indonesia yang kuat menuju visi Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A), Dr. Dian Budiyana menyampaikan saat ini, survei masih berlangsung untuk memetakan lebih detail wilayah dan keluarga yang terdampak stunting.

“Hasil akhir survei akan menjadi acuan bagi pemerintah dalam menetapkan kebijakan strategis di tahun mendatang. Diperlukan sinkronisasi program di tingkat kabupaten, kecamatan, dan desa,”
Pihaknya juga telah melakukan berbagai inovasi, termasuk pencegahan pernikahan dini dan program penundaan anak pertama bagi calon pengantin muda.
“Semoga semua ini diharapkan bisa mempercepat penurunan angka stunting di Ciamis,” jelasnya.
Dian menjelaskan perlunya koordinasi lintas sektor, termasuk dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), Kementerian Agama, dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD).
“Kami ingin semua pihak memiliki visi yang sama untuk menghasilkan anak-anak yang sehat, cerdas, dan berkualitas,” katanya.
Upaya percepatan ini diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain dalam menurunkan angka stunting secara efektif dan berkelanjutan.
“Kami optimis angka stunting di Ciamis bisa terus menurun, sesuai target yang telah ditetapkan,” harapnya.
Upaya percepatan ini diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain dalam menurunkan angka stunting secara efektif dan berkelanjutan. (Nay)**