Ciamis, deJurnal,- Seorang siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kabupaten Ciamis berinisial NV mengalami gangguan kesehatan mental yang diduga dipicu oleh perundungan di lingkungan sekolah.
Hasil pemeriksaan medis di RSUD Ciamis menunjukkan NV mengalami depressive disorder atau depresi.
Kondisi NV mulai terlihat sekitar satu bulan terakhir. Orang tua menyebut perubahan perilaku anaknya terjadi setelah dipulangkan lebih awal dari sekolah oleh teman-temannya karena mengeluhkan tidak enak badan dan sempat menunjukkan emosi yang tidak stabil.
“Waktu itu diantar pulang. Katanya tidak enak badan dan sempat marah-marah di sekolah,” kata ibu NV, Selasa (28/4/2026).
Sejak saat itu, NV mengalami perubahan signifikan. Ia lebih sering melamun, sulit diajak berkomunikasi, dan beberapa kali tidak merespons pertanyaan dengan baik. Bahkan, dalam kondisi tertentu, NV sempat tidak mengenali nama teman-temannya.
Keluarga sempat mengupayakan pengobatan alternatif karena menduga kondisi tersebut berkaitan dengan hal non-medis. Namun, upaya tersebut tidak menunjukkan hasil.
Perubahan mulai terlihat setelah pihak keluarga berusaha membangun komunikasi secara perlahan. Dalam kondisi tersebut, NV mengaku kerap mengalami perundungan di sekolah, baik secara verbal maupun fisik.
Ia menyebut sering mendapat ejekan terkait latar belakang ekonomi keluarga, hingga mengalami tindakan kekerasan dari teman sebaya.
Mendengar pengakuan tersebut, pihak keluarga mengaku terpukul. Ayah NV berharap ada perhatian dan langkah konkret dari pihak sekolah serta instansi terkait.
“Tidak menyangka dampaknya sejauh ini. Kami berharap ada penanganan serius,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui Dinas Sosial dijadwalkan melakukan kunjungan langsung ke kediaman NV pada Rabu (29/4/2026). Kunjungan tersebut bertujuan untuk melakukan asesmen awal serta menentukan langkah pendampingan yang diperlukan.
Kasus ini menambah daftar persoalan perundungan di lingkungan pendidikan yang berujung pada gangguan psikologis. Keluarga berharap ada perlindungan yang lebih kuat bagi siswa serta penanganan menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.
















