• Garut
  • Karawang
  • Purwakarta
  • Bandung
  • Ciamis
  • Cianjur
  • Subang
  • Sukabumi
  • indramayu
No Result
View All Result
  • Login
deJurnal.com
Minggu, Oktober 25, 2026
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel
No Result
View All Result
deJurnal.com
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel
No Result
View All Result
deJurnal.com
No Result
View All Result

in Budaya

Rajah Bubuka Diposisikan di Penghujung GPBG, Budayawan Garut Soroti Minimnya Pemahaman ‘Tetekon’

bydejurnalcom
Senin, 27 April 2026
Reading Time: 2 mins read
Rajah Bubuka Diposisikan di Penghujung GPBG, Budayawan Garut Soroti Minimnya Pemahaman ‘Tetekon’
ShareTweetSend

Dejurnal.com, Garut – Pelaku budaya Garut, Wa Ratno, menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap penempatan Rajah Bubuka dalam rangkaian Gelar Pesona Budaya Garut (GPBG). Menurutnya, prosesi sakral tersebut justru ditampilkan menjelang berakhirnya acara, padahal secara makna dan tradisi seharusnya berada di awal kegiatan.

“Namanya Rajah Bubuka itu sejatinya ditempatkan di awal, bukan menjelang akhir,” ujar Wa Ratno kepada Dejurnal.com, Senin (27/4/2026).

Ia menjelaskan, dalam bahasa Sunda kata bubuka berarti pembukaan. Karena itu, Rajah Bubuka memiliki fungsi penting sebagai doa pembuka, permohonan izin, sekaligus penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para leluhur agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar, aman, dan penuh keberkahan.

BacaJuga :

Setelah Penantian Lebih dari Tiga Bulan, Yayasan Salman Mardia Salsabila Akhirnya Kantongi Persetujuan Penggantian PIC, Operasional Dapur Masih Menunggu Kepastian

Polsek Campaka Ungkap Dugaan Curanmor di Area Parkir SDN 2 Cimahi, Satu Terduga Pelaku Diamankan

Sapapesona Budaya Bedas ke-12 Digelar di Sukamanah, Kadisbud: Budaya Harus Hidup dan Mendukung Ekonomi Masyarakat

Menurut Wa Ratno, ketika prosesi tersebut justru dipentaskan di penghujung acara, makna dasarnya menjadi bergeser.

“Kalau ditempatkan menjelang akhir, namanya bukan Rajah Bubuka lagi, tapi rajah penutup,” katanya dengan nada sindiran halus.

Ia menilai persoalan ini bukan sekadar soal teknis susunan acara, tetapi menyangkut pemahaman dasar terhadap nilai dan tata cara budaya Sunda. Sebab, Rajah Bubuka bukan hiburan biasa yang bisa dipindah sesuka hati, melainkan bagian sakral yang memiliki posisi khusus dalam tradisi.

“Kalau pertunjukan lain seperti jaipongan atau silat, ditempatkan di awal atau akhir mungkin tidak jadi persoalan. Tapi ini Rajah Bubuka, yang memang sejak namanya saja berarti pembuka,” tegasnya.

Wa Ratno (foto istimewa)

Wa Ratno juga mengaku prihatin terhadap citra budaya Garut di mata daerah lain. Ia khawatir kekeliruan tersebut justru menimbulkan kesan bahwa pelaku budaya di Garut kurang memahami akar budayanya sendiri.

“Jangan sampai pelaku budaya di luar Garut menilai kita tidak paham budaya sendiri. Masa Rajah Bubuka saja ditempatkan menjelang penutup,” ungkapnya.

Ia menambahkan, penilaian terhadap kualitas penampilan bukan inti persoalan. Jika ada kekurangan dalam penyajian, hal itu masih bisa dievaluasi. Namun, yang lebih mendasar adalah menjaga esensi, makna, dan penempatan sesuai pakem budaya.

“Kalaupun dianggap penampilannya kurang bagus, itu soal lain. Tapi esensinya Rajah Bubuka itu pembuka, bukan penutup,” ujarnya.

Wa Ratno berharap ke depan para penyelenggara kegiatan budaya lebih memahami tetekon atau aturan baku dalam tradisi, sehingga acara budaya tidak sekadar menjadi tontonan seremonial.

“Jangan sampai gelar budaya, tapi tidak mencerminkan budaya,” pungkasnya.

Makna Rajah dalam Tradisi Sunda

Dsri beberapa literatur yang dikutip dejurnal.com, Rajah dalam budaya Sunda merupakan tradisi lisan berbentuk mantra, puisi, atau nyanyian puitis yang dilantunkan sebagai doa, permohonan izin, dan perlindungan spiritual. Rajah kerap menjadi bagian penting dalam upacara adat, seni pantun, maupun ritual masyarakat tradisional.

Rajah Bubuka sendiri lazim dibacakan sebelum acara dimulai sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta dan leluhur, sekaligus memohon keselamatan. Dalam berbagai tradisi, rajah juga digunakan sebelum membuka lahan, menanam padi, atau memulai pekerjaan penting lainnya.

Sebagai warisan budaya, rajah bukan sekadar rangkaian kata-kata, tetapi perpaduan antara seni sastra, spiritualitas, dan penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur yang diwariskan turun-temurun.***Raesha/Willy

Ikuti Whatsapp Channel deJurnalcom
Previous Post

Lag Lagi Seorang Pria Yang Diduga Pengedar Obat Terlarang Diringkus Satres Narkoba Polres Garut

Next Post

DPRD Garut Serahkan Rekomendasi Catatan Strategis dan Saran Atas LKP Bupati Tahun Anggaran 2025

Related Posts

2.800 Pelari Padati Alun-Alun Subang, Dahana Run 2026 Jadi Sorotan
deNews

2.800 Pelari Padati Alun-Alun Subang, Dahana Run 2026 Jadi Sorotan

Sabtu, 24 Oktober 2026
Tampil di Sapa Warga Berbasis Budaya Paguron Mekar Kencana Sukamenak Konsisten Lestatikan  Seni Budaya Pencak Silat
deNews

Tampil di Sapa Warga Berbasis Budaya Paguron Mekar Kencana Sukamenak Konsisten Lestatikan Seni Budaya Pencak Silat

Sabtu, 24 Oktober 2026
“Sapa Warga Berbasis Budaya” Kolaborasi Anggota DPRD Provinsi dan Pemdes Sukamenak: Hadirkan Layanan Kesehatan, UMKM, dan Hiburan bagi Warga
deNews

“Sapa Warga Berbasis Budaya” Kolaborasi Anggota DPRD Provinsi dan Pemdes Sukamenak: Hadirkan Layanan Kesehatan, UMKM, dan Hiburan bagi Warga

Sabtu, 24 Oktober 2026
Setelah Penantian Lebih dari Tiga Bulan, Yayasan Salman Mardia Salsabila Akhirnya Kantongi Persetujuan Penggantian PIC, Operasional Dapur Masih Menunggu Kepastian
deNews

Setelah Penantian Lebih dari Tiga Bulan, Yayasan Salman Mardia Salsabila Akhirnya Kantongi Persetujuan Penggantian PIC, Operasional Dapur Masih Menunggu Kepastian

Sabtu, 24 Oktober 2026
Polsek Campaka Ungkap Dugaan Curanmor di Area Parkir SDN 2 Cimahi, Satu Terduga Pelaku Diamankan
dehukum

Polsek Campaka Ungkap Dugaan Curanmor di Area Parkir SDN 2 Cimahi, Satu Terduga Pelaku Diamankan

Sabtu, 24 Oktober 2026
Sapapesona Budaya Bedas ke-12 Digelar di Sukamanah, Kadisbud: Budaya Harus Hidup dan Mendukung Ekonomi Masyarakat
deNews

Sapapesona Budaya Bedas ke-12 Digelar di Sukamanah, Kadisbud: Budaya Harus Hidup dan Mendukung Ekonomi Masyarakat

Sabtu, 24 Oktober 2026

ADVERTISEMENT

DeepReport

Resonansi : Tak Ada Pemotongan TPG, Betapa Bahagianya Para Guru

Kamis, 1 Juli 2021

Siapa Pengelola dan Penerima Manfaat CSR Peternakan Ayam Manggis Senilai 4 Miliar?

Rabu, 6 November 2019

KabarDaerah

Kepala Desa Sayati Nandar Kusnandar. (Sopandi/Dejurnal.com)

Direspon Baik Bupati Bandung, Jaringan Sayaginet Diharap Bisa Mengcover Seluruh Desa

Kamis, 11 Maret 2021

Antisipasi Penularan Covid-19 Serta Gangguan Jiwa Korban Pilkades Serentak, Ini Langkah Dinkes Garut

Senin, 7 Juni 2021

Menguak Adanya Dugaan ASN di Pemkab Garut Terlibat Organisasi Terlarang, Bupati Kecolongan?

Senin, 22 November 2021

Ini Penjelasan Bidang SD Garut Terkait Tata Kelola DAK

Selasa, 3 November 2020

Sebulan Bertugas Sebagai Dandim 0624/ Kabupaten Bandung, Letkol Kav. Samto Betah Perdana Kunjungi Koramil 2411/ Soreang

Selasa, 14 Oktober 2025

BPK RI Akan Diminta Lakukan PDTT Pelaksanaan DAK SD Disdik Garut

Jumat, 6 November 2020

deJurnal.com

© 2025 dejurnal.com. All Right Reserved

Patut Dibaca dan Perlu

  • dePrint
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Karir dan Peraturan Perusahaan Pers
  • Pasang Iklan

Ikuti

No Result
View All Result
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel

© 2025 dejurnal.com. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Tidak diperkenankan copy paste