CIAMIS, deJurnal,- – Kondisi Jembatan Cirahong di Desa Pawindan, Kecamatan Ciamis, berubah drastis setelah viral dugaan pungutan liar (pungli) di media sosial.
Sejak Sabtu (4/4/2026) siang, tidak ada lagi warga yang berjaga untuk mengatur arus lalu lintas di jalur penghubung Ciamis–Tasikmalaya tersebut.
Sejumlah petugas kepolisian sempat disiagakan di lokasi untuk mengantisipasi dampak pasca viralnya isu pungli.
Namun, penjagaan tersebut hanya berlangsung hingga sekitar pukul 17.00 WIB, sehingga pada malam hari jembatan kembali tanpa pengawasan.
Pantauan Minggu (5/4/2026) petang, suasana di sekitar jembatan terlihat sepi dan minim penerangan. Guyuran hujan yang turun menjelang malam membuat kondisi jalan di dalam jembatan menjadi licin, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan.
Tidak adanya penjagaan menyebabkan arus kendaraan roda dua dari dua arah langsung berpapasan tanpa pengaturan. Para pengendara terlihat lebih berhati-hati, terutama saat melintas di bagian tengah jembatan yang sempit.
Sejumlah pengendara sempat tampak kebingungan. Mereka berhenti sejenak di pintu masuk jembatan. Namun setelah mengetahui tidak ada penjaga, mereka langsung melanjutkan perjalanan.
Kondisi tersebut memicu beragam tanggapan dari masyarakat. Sebagian menilai keberadaan penjaga sebelumnya justru membantu kelancaran dan keselamatan lalu lintas, terutama saat malam hari atau kondisi cuaca buruk.
Nasta (28), karyawan asal Manonjaya yang setiap hari melintasi Jembatan Cirahong untuk bekerja freelance di Ciamis, mengaku kondisi saat ini lebih mengkhawatirkan dibanding sebelumnya.
“Setiap hari saya lewat sini, sudah paham kondisi jembatan yang sempit. Kalau dua arah langsung jalan itu rawan, apalagi habis hujan jadi licin. Dulu ada yang jaga, kendaraan diatur bergantian, jadi lebih aman,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan penjaga bukan semata soal pungutan, tetapi memberikan rasa aman bagi pengguna jalan.
“Padahal cuma Rp1.000 atau Rp2.000, saya tidak masalah. Itu sebanding dengan rasa aman, apalagi kalau lewat malam hari,” katanya.
Namun setelah tidak ada penjagaan, ia mengaku lebih waswas saat melintas.
“Sekarang malah jadi takut. Gelap, sepi, tidak ada yang mengatur. Kalau terjadi sesuatu di tengah jembatan juga bingung harus bagaimana,” ucapnya.
Ia juga menyayangkan dampak viralnya isu pungli yang dinilai tidak mempertimbangkan kondisi di lapangan secara menyeluruh.
“Yang membuat viral itu seharusnya melihat kondisi di sini juga. Jangan hanya menilai dari satu sisi. Sekarang kami pengguna jalan yang merasakan dampaknya,” tegasnya.
Ahmad Himawan, salah seorang warga Pawindan menyebut keberadaan penjaga selama ini cukup membantu mengurangi risiko kecelakaan, terutama saat kendaraan berpapasan di jalur sempit.
“Sekarang tidak ada yang jaga, mungkin karena takut dipidanakan atau dampak viral. Padahal di lapangan banyak yang merasa terbantu. Kalau berpapasan risikonya besar, apalagi saat hujan,” katanya.
Ia berharap pemerintah segera menghadirkan solusi konkret, seperti penempatan petugas resmi atau pemasangan rambu lalu lintas.
“Kalau memang dihentikan, harus ada solusi. Ini jalur penting bagi warga Ciamis dan Tasikmalaya,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Pawindan, Ahmad Kartoyo, membenarkan bahwa sejak Sabtu siang tidak ada lagi warga yang berjaga di lokasi jembatan sebagai respons atas situasi yang berkembang.
“Betul, sejak kemarin sudah tidak ada yang berjaga. Kami tidak ingin ada persoalan di kemudian hari,” ungkapnya.
Namun ia mengakui, kondisi di lapangan kini menjadi perhatian serius, terutama terkait keselamatan pengguna jalan.
“Tadi malam saya turun langsung ke lokasi. Kondisinya gelap, sepi, dan tidak ada aktivitas. Ini tentu menjadi perhatian kami,” katanya.
Pemerintah desa, lanjut Kartoyo, tengah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mencari solusi terbaik, baik melalui penempatan petugas resmi, peningkatan penerangan, maupun pemasangan rambu lalu lintas. (Nay Sunarti)
“Yang jelas, keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas,” pungkasnya. (Nay Sunarti)

















