Dejurnal.com, Bandung- Wacana reaktivasi jalur kereta api Bandung-Ciwidey yang sempat mengajukan dari tahun 2014, kemudian landai kembali dan saat Kepemimpinan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengemuka kembali.
Bahkandirencanakan oleh pemerintah untuk mendukung pariwisata di Bandung Selatan ditargetkan mulai berjalan pada 2026-2029. Proyek ini ditargetkan rampung pada 2029 oleh KAI.
Namun, tak mudah untuk menghidupkan kembali jalur kereta api Bandung -Ciwidey karena sepanjang jalur kereta api kini banyak bangunan baik rumah maupun pertokoan.
Jalur kereta api Bandung-Cuwudey yang mulai beroperasi tahun 1923. Jalur ini melayani angkutan penumpang dan perkebunan teh selama hampir 60 tahun sebelum akhirnya resmi ditutup pada tahun 1982 karena persaingan dengan model transportasi darat lainnya.
Yang masih terlihat kokoh salah satu bukti jalur kereta api Bandung -Ciwidey pernah ada, mungkin beberap jembatan, seperti di Desa Sadu Soreang yang menyeberang Sungai Sungapan. Sedangkan rel besi dari Soreang, Cangkuang, dan Banjaran sudah tidak kelihatan.
Lahan jalan kereta api saat ini sudah banyak jadi pemukiman warga. Ada yang dijadikan tempat tinggal, kios, maupun gudang. Mereka menggunakan lahan tersebut sebagai hak guna pake.
Salah satu warga RT 04 RW 01 Desa/ Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung, Ny Tuti (52 tahun). Ia mengaku dari tahun 2000 menyewa tanah seluas 15 tumbak di lahan jalur kereta api dengan harga Rp250 ribu pertahun.
Namun, mulai tahun 2024 tanah tersebut ia beli Rp 17 juta. Ny Tuti menyadari kalau tanah yang dibelinya milik pemerintah, sehingga menurutnya itu tidak perlu sertifikat.
“Waktu itu saya beli ke Pak Jakasa. Saya percaya saja. Ini kan milik pemerintah, tidak ada sertifikat dalam penjualan itu. Jika satu saat diambil pemerintah untuk dipake jalan kereta api ya silahkan saja. Mungkin ada kebijakan ganti,” katanya, Senin 13 April 2026.
Nu Tuti mengaku merasa nyaman berada di lokasi tersebut. Ia asli warga Desa Cangkuang, lahir Daan besar di sana, tapi baru menempati lahan jalan kereta api setelah membangun rumah di sana dan membuka warung jajanan dan kuliner membantu syaminya sebagi TU di salah satu sekilah dasar di Cangiuang.
Sepanjang jalan kereta api Soreang, Cangkuang, dan Banjaran boleh dibilang hampir semua rel sudah tidak kelihatan. Kecuali yang melewati Solokan atau jembatan.
Bukan hanya Ny Tuti yang menempati lahan jalan kereta api, tapi warga lainnya pun sama, ada yang masih menyewa ada juga yang membeli. Kebanyakan dari mereka nyaman tinggal di sana, seolah percaya kalau jalur tersebut tidak akan diaktifkan kembali meskipun beberapa kali diwacanakan.***Sopandi

















