Dejurnal.com, Garut — Suasana penuh haru, khidmat, dan sarat doa menyelimuti Gedung Pendopo Garut saat ratusan calon jemaah haji Kloter 22 Gelombang II Tahun 1447 Hijriah / 2026 Masehi resmi dilepas menuju embarkasi, Kamis (7/5/2026). Momen sakral ini menjadi awal perjalanan spiritual bagi para tamu Allah untuk menunaikan rukun Islam kelima.
Semula, jumlah calon jemaah haji yang tergabung dalam kloter ini mencapai 174 orang. Namun, lima orang di antaranya terpaksa menunda keberangkatan karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan. Dengan demikian, total jemaah yang diberangkatkan pada hari tersebut berjumlah 169 orang.
Sejak pagi hari, area Pendopo Garut telah dipadati oleh para jemaah bersama keluarga dan kerabat yang mengantar. Suasana emosional tak terelakkan ketika detik-detik perpisahan tiba. Tangis haru pecah di antara pelukan hangat keluarga, sementara doa-doa lirih mengiringi langkah para jemaah yang akan menempuh perjalanan panjang menuju Tanah Suci.
Raut wajah bahagia bercampur haru terlihat jelas dari para calon jemaah. Bagi sebagian besar dari mereka, keberangkatan ini merupakan penantian panjang yang akhirnya terwujud. Tak sedikit pula keluarga yang tampak menitikkan air mata, melepas orang tercinta dengan penuh harapan agar diberikan kelancaran, kesehatan, serta menjadi haji yang mabrur.
Dalam prosesi pelepasan tersebut, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Garut, H. Indra Azwar Mawardi, S.HI., M.Pd., hadir secara langsung untuk memberikan dukungan moril sekaligus doa bagi seluruh jemaah.
Dalam keterangannya kepada awak media seusai acara, H. Indra Azwar Mawardi menjelaskan bahwa penundaan keberangkatan lima calon jemaah haji disebabkan oleh faktor kesehatan yang telah ditentukan oleh pihak Dinas Kesehatan.
“Kalau sakit, sesuai aturan memang tidak diperbolehkan berangkat. Penentuannya bukan dari kami, melainkan dari tim kesehatan. Untuk penggantian sebenarnya bisa dilakukan, namun karena waktunya sudah sangat mepet, jadi belum memungkinkan. Idealnya, penggantian dilakukan minimal satu hingga dua minggu sebelum keberangkatan, dan itu pun harus oleh ahli waris yang memiliki hubungan keluarga langsung,” jelasnya.
Ia menambahkan, bagi jemaah yang tertunda keberangkatannya, diharapkan dapat kembali diberangkatkan pada musim haji tahun berikutnya setelah kondisi kesehatannya pulih.
Selain itu, H. Indra juga menyampaikan adanya peningkatan pelayanan pada penyelenggaraan haji tahun ini, khususnya terkait distribusi kartu Nusuk. Jika pada tahun sebelumnya kartu tersebut dibagikan di Makkah dan Madinah, maka pada tahun ini kartu Nusuk akan langsung dibagikan di embarkasi sebelum keberangkatan ke Tanah Suci.
“Kartu Nusuk ini sangat penting karena menjadi semacam ‘password’ atau akses bagi jemaah untuk memasuki berbagai lokasi utama ibadah haji seperti Masjidil Haram, Arafah, Muzdalifah, dan Mina,” terangnya.
Di akhir pernyataannya, ia juga memohon doa dari seluruh masyarakat agar para jemaah haji diberikan keselamatan, kesehatan, serta kelancaran selama menjalankan seluruh rangkaian ibadah di Tanah Suci.
Keberangkatan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual yang sarat makna. Harapan besar tersemat dari keluarga yang ditinggalkan, agar para jemaah kembali ke tanah air dengan predikat haji yang mabrur, membawa keberkahan bagi diri, keluarga, dan lingkungan sekitarnya.***Willy

















