CIAMIS, deJurnal,- Di tengah kemeriahan konser Harmoni Tanpa Batas bertajuk “Suara yang Tak Terpenjara” yang digelar di Taman Lokasana Ciamis, Selasa (16/6/2026), sebuah momen sederhana namun sarat makna berhasil mencuri perhatian ribuan penonton yang memadati arena acara.
Saat sorotan publik tertuju pada penampilan para musisi yang menghibur masyarakat dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Ciamis ke-384 dan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, seorang anak muda tampil membawa pesan berbeda.
Bukan melalui lantunan lagu, melainkan lewat sebuah karya seni berupa lukisan yang dipersembahkan kepada Bupati Ciamis Herdiat Sunarya.
Pemuda tersebut adalah Dani Priyanto, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Sinarasa asal Desa Sadananya, Kecamatan Sadananya.
Dengan penuh rasa hormat, Dani naik ke atas panggung dan menyerahkan langsung hasil karya lukisannya kepada Bupati Herdiat di hadapan ribuan masyarakat yang hadir.
“Nama saya Dani Priyanto dari Kecamatan Sadananya. Ini ada sedikit hadiah apresiasi dari saya. Saya melukis ini sendiri, semoga Bapak suka dan berkenan menerimanya,” ujar Dani.
Penyerahan lukisan itu langsung mendapat sambutan hangat dari para penonton. Tepuk tangan bergemuruh mengiringi momen yang berlangsung singkat namun menyentuh tersebut.
Bagi Dani, lukisan bukan sekadar karya seni, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan rasa hormat, apresiasi, dan kecintaannya terhadap daerah yang telah menjadi tempatnya tumbuh dan berkarya.
Bahkan, dengan penuh semangat ia menyampaikan kesiapannya untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi melalui seni.
“Kalau Bapak ingin request gambar, saya siap membuatkannya. Terima kasih Pak,” katanya.
Momen tersebut menjadi gambaran bahwa semangat Harmoni Tanpa Batas tidak hanya hadir melalui pertunjukan musik, tetapi juga melalui ruang-ruang ekspresi yang diberikan kepada masyarakat untuk menampilkan kreativitas dan potensi yang dimiliki.
Festival yang diinisiasi sebagai wadah kebersamaan itu memang dirancang untuk merangkul berbagai kalangan tanpa batas usia, profesi, maupun latar belakang. Dari panggung yang sama, suara musisi, komunitas, penyandang disabilitas hingga generasi muda dapat bertemu dalam satu harmoni yang menyatukan.
Kehadiran Dani dengan karya lukisnya menjadi salah satu potret nyata semangat tersebut. Sebuah pengingat bahwa anak-anak muda Ciamis memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan kepedulian dan kecintaannya kepada daerah.
Di balik gemerlap lampu panggung dan kemeriahan konser malam itu, sebuah lukisan karya anak desa menjadi simbol sederhana tentang harapan, kreativitas, dan kebanggaan terhadap Tatar Galuh.
Karena sejatinya, Harmoni Tanpa Batas bukan hanya tentang musik yang terdengar, melainkan tentang ruang yang memberi kesempatan bagi setiap orang untuk menyampaikan pesan, berkarya, dan menjadi bagian dari perjalanan Ciamis menuju masa depan yang lebih baik. (Nay Sunarti)
















