Dejurnal.com, Garut – Organisasi Wanita Hebat Garut (Wahegar) menggelar peringatan Milad ke-4 yang berlangsung meriah di Gedung Pendopo Garut, Kamis (4/6/2026). Kegiatan yang mengusung semangat pelestarian budaya dan pemberdayaan perempuan tersebut dihadiri sekitar 200 tamu undangan dari berbagai kalangan, mulai dari unsur pemerintah daerah, tokoh perempuan Jawa Barat, pelaku UMKM, hingga anggota Wahegar dari berbagai profesi.
Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Pemerintah Kabupaten Garut melalui Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA), Ketua Wahegar Susi Sabion beserta jajaran pengurus dan anggota organisasi.
Rangkaian acara Milad ke-4 Wahegar diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari santunan sosial, pemotongan tumpeng, fashion show kebaya, pameran UMKM, hingga pemberian penghargaan dan hadiah bagi para peserta yang berpartisipasi dalam berbagai perlombaan.
Ketua Wahegar, Susi Sabion, mengatakan bahwa peringatan milad ini merupakan agenda rutin tahunan yang tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga sebagai bentuk komitmen organisasi dalam memajukan serta melestarikan kebaya sebagai warisan budaya bangsa, khususnya kebaya Sunda yang menjadi identitas perempuan Garut.
“Kegiatan ini merupakan program tahunan Wahegar untuk memajukan dan melestarikan kebaya Indonesia, khususnya kebaya Sunda yang memiliki ciri khas tersendiri. Kami ingin mengajak seluruh perempuan di Kabupaten Garut untuk kembali membudayakan penggunaan kebaya dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai kegiatan resmi,” ujar Susi kepada awak media seusai acara.
Menurutnya, kebaya merupakan simbol keanggunan, karakter, dan identitas perempuan Indonesia yang harus terus dijaga keberadaannya di tengah perkembangan zaman. Ia mencontohkan sosok pahlawan perempuan Sunda, Raden Ayu Lasminingrat, yang sepanjang hidupnya dikenal konsisten mengenakan kebaya dalam berbagai aktivitas, bahkan hingga dikenal luas ke tingkat nasional.
“Raden Ayu Lasminingrat adalah tokoh perempuan Sunda yang patut menjadi inspirasi. Beliau selalu mengenakan kebaya dan menunjukkan bahwa perempuan bisa tampil anggun, berkarakter, serta tetap menjaga budaya. Karena itu Wahegar ingin menjadi pelopor dalam menghidupkan kembali budaya berkebaya di Garut,” katanya.
Lebih lanjut, Susi menjelaskan bahwa pihaknya memiliki gagasan untuk bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Garut dan para pelaku wisata agar kebaya Sunda dapat menjadi salah satu daya tarik wisata daerah. Salah satu konsep yang sedang didorong adalah penyediaan layanan penyewaan kebaya di sejumlah destinasi wisata, sebagaimana yang telah diterapkan di Bali.
“Kami berharap ke depan di tempat-tempat wisata tersedia penyewaan kebaya. Wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang ke Garut bisa mengenakan kebaya Sunda ketika berkunjung. Dengan begitu, kita tidak hanya mempromosikan wisata Garut, tetapi juga memperkenalkan kebaya Sunda sebagai busana yang nyaman, elegan, dan membanggakan,” jelasnya.
Empat Tahun Wahegar, Simbol Kekokohan Organisasi
Pada kesempatan tersebut, Susi juga mengungkapkan makna khusus dari perjalanan empat tahun Wahegar. Menurutnya, angka empat melambangkan kekokohan dan fondasi yang semakin kuat bagi organisasi yang dipimpinnya.
“Hari ini Wahegar genap berusia empat tahun. Empat bagi kami melambangkan pondasi yang kokoh, seperti empat sisi yang saling menguatkan. Alhamdulillah, organisasi ini semakin berkembang dan mendapatkan kepercayaan dari berbagai pihak,” ungkapnya.
Tingginya antusiasme peserta terlihat dari seluruh kursi yang tersedia terisi penuh. Sekitar 200 undangan hadir, terdiri dari tamu VIP, perwakilan dinas, tokoh perempuan, serta tamu dari berbagai daerah di Jawa Barat seperti Bandung, Sumedang, Ciamis, dan sejumlah kabupaten lainnya.
Kehadiran para tamu luar daerah tersebut tidak terlepas dari rangkaian kegiatan sebelumnya, yakni kunjungan ke Keraton Sumedang Larang pada 3 Juni 2026 yang kemudian dilanjutkan dengan menghadiri Milad Wahegar di Garut.
“Mereka datang dari Sumedang setelah kegiatan di Keraton Sumedang Larang. Bahkan menginap di Villa Guntur Sari dan berbelanja produk-produk lokal di kawasan Sukaregang. Kehadiran mereka tentu memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah dan berkontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Garut,” jelas Susi.
Menyatukan Berbagai Profesi dalam Satu Organisasi
Susi menegaskan bahwa tujuan utama Wahegar adalah menjadi wadah pemersatu perempuan dari berbagai latar belakang profesi dan kalangan sosial.
Menurutnya, organisasi bukanlah tempat untuk bersaing mencari keuntungan pribadi, melainkan sarana untuk saling mendukung, berkontribusi, dan membangun kebersamaan demi kemajuan perempuan.
“Target Wahegar adalah menyatukan perempuan dari berbagai profesi dan kalangan. Di Wahegar ada pengusaha, pelaku UMKM, guru, dosen, artis, model, anggota kepolisian, kejaksaan, dan berbagai profesi lainnya. Semua bersatu dalam semangat yang sama untuk memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa hingga saat ini seluruh kegiatan Wahegar dilaksanakan secara mandiri tanpa bantuan anggaran dari pemerintah daerah.
“Alhamdulillah selama ini Wahegar berjalan secara mandiri. Semua kegiatan murni dari anggota Wahegar, termasuk kepanitiaan dan penyelenggara acara yang seluruhnya berasal dari internal organisasi,” tambahnya.
Trofi Bergilir Raden Ayu Lasminingrat dan Dukungan Berbagai Pihak
Dalam Milad ke-4 ini, Wahegar kembali menggelar ajang penghargaan dengan memperebutkan Trofi Bergilir Raden Ayu Lasminingrat. Trofi tersebut diberikan langsung oleh keluarga besar Raden Ayu Lasminingrat sebagai bentuk kepercayaan kepada Wahegar untuk terus menjaga dan mengembangkan semangat pelestarian budaya Sunda.
Susi menyampaikan rasa syukur atas dukungan yang diberikan berbagai pihak, termasuk anggota DPRD Kabupaten Garut dari Fraksi PDI Perjuangan, Yudha, yang turut memberikan berbagai hadiah menarik bagi para pemenang.
“Alhamdulillah ada dukungan berupa hadiah seperti mesin cuci, kompor gas, magic com, serta berbagai hadiah hiburan lainnya. Ini menjadi motivasi bagi para peserta agar semakin semangat mengikuti kegiatan dan melestarikan budaya berkebaya,” katanya.
Tak hanya para pemenang, seluruh peserta juga mendapatkan sertifikat penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dan semangat mereka dalam menyukseskan kegiatan.
Santunan Sosial dan Dukungan bagi UMKM
Selain berfokus pada pelestarian budaya, Milad ke-4 Wahegar juga diwarnai kegiatan sosial berupa santunan yang disalurkan melalui Yayasan Insan Mulya Mandiri. Santunan tersebut menjadi wujud kepedulian organisasi terhadap masyarakat yang membutuhkan.
Kegiatan juga melibatkan para pelaku UMKM lokal melalui penyediaan stan pameran dan penjualan produk.
Wahegar bahkan menyediakan voucher belanja sebagai upaya membantu meningkatkan penjualan produk UMKM Garut.
“Selain melestarikan budaya, kami juga ingin membantu para pelaku usaha kecil agar semakin berkembang. Karena itu dalam setiap kegiatan kami selalu melibatkan UMKM sebagai bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat,” ujar Susi.
Dengan semangat kebersamaan, pelestarian budaya, dan pemberdayaan perempuan, Milad ke-4 Wahegar menjadi bukti nyata eksistensi organisasi tersebut dalam membangun peran perempuan yang aktif, mandiri, serta berkontribusi bagi kemajuan Kabupaten Garut.
Melalui berbagai program yang dijalankan, Wahegar berharap dapat terus menjadi wadah inspiratif bagi perempuan Garut untuk berkarya, melestarikan budaya, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.***Willy













