CIAMIS, deJurnal,- Memasuki musim kemarau, ancaman kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) menjadi salah satu perhatian utama Pemerintah Kabupaten Ciamis.
Belajar dari berbagai kejadian kebakaran TPA di sejumlah daerah, Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Kabupaten Ciamis memperkuat langkah mitigasi untuk mencegah munculnya titik api yang berpotensi mengganggu lingkungan maupun keselamatan masyarakat.
Sejumlah upaya dilakukan secara terpadu, mulai dari mengurangi volume sampah organik yang masuk ke TPA, memperketat pengawasan terhadap limbah yang berpotensi memicu kebakaran, melarang pembakaran sampah, hingga meningkatkan kesiapsiagaan petugas melalui simulasi penanganan kebakaran.
Sekretaris DPRKPLH Kabupaten Ciamis, Aris Taufik Abadi, mengatakan pengelolaan TPA tidak hanya berorientasi pada pelayanan persampahan, tetapi juga memastikan kawasan tersebut tetap aman, sehat, dan tidak menimbulkan risiko bagi lingkungan sekitar.
Menurutnya, musim kemarau meningkatkan potensi terjadinya kebakaran akibat kondisi timbunan sampah yang semakin kering serta adanya akumulasi gas metana yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah organik.
“Gas metana yang terbentuk dari timbunan sampah harus terus dikendalikan dan dilepaskan agar tidak terakumulasi dalam jumlah besar. Jika bercampur dengan oksigen dan terdapat pemicu api, kondisinya sangat berisiko menimbulkan kebakaran. Karena itu, pengelolaan TPA harus dilakukan secara hati-hati dan sesuai prosedur,” ujar Aris, Jumat (17/7/2026).
Untuk mengurangi produksi gas metana, DPRKPLH mendorong masyarakat mulai mengelola sampah organik dari rumah. Sampah sisa makanan, dedaunan maupun limbah dapur diharapkan dapat dimanfaatkan menjadi kompos sehingga tidak seluruhnya berakhir di TPA.
“Semakin sedikit sampah organik yang masuk ke TPA, semakin kecil potensi terbentuknya gas metana. Selain mengurangi risiko kebakaran, langkah ini juga membantu memperpanjang usia layanan TPA,” katanya.
Selain pengurangan sampah dari sumbernya, DPRKPLH juga meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas di kawasan TPA. Bersama pemerintah desa, kecamatan, UPTD, dan relawan lingkungan, petugas melakukan pemetaan terhadap sejumlah titik yang dinilai rawan memunculkan kebakaran sebagai bagian dari sistem deteksi dini.
Aris menegaskan, salah satu faktor yang masih menjadi perhatian adalah kebiasaan membakar sampah yang masih dilakukan sebagian masyarakat. Padahal, tindakan tersebut berpotensi memicu kebakaran, terutama ketika cuaca panas dan angin bertiup kencang.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak lagi membakar sampah, baik di sekitar tempat penampungan sementara maupun di kawasan TPA. Kebiasaan ini masih ditemukan dan risikonya sangat tinggi saat musim kemarau,” tegasnya.
Tak hanya itu, pengawasan terhadap limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) juga diperketat. Limbah elektronik, baterai, maupun material lain yang berpotensi menghasilkan percikan api menjadi perhatian khusus agar tidak bercampur dengan timbunan sampah biasa.
Sebagai bentuk kesiapsiagaan, DPRKPLH berkolaborasi dengan Satpol PP dan Bidang Damkar Kabupaten Ciamis untuk meningkatkan kemampuan petugas dalam menghadapi potensi kebakaran. Simulasi penanganan kebakaran dilakukan agar seluruh personel memahami langkah cepat ketika menemukan titik api di kawasan TPA.
“Melalui simulasi, petugas mengetahui prosedur penanganan awal sehingga api bisa segera dikendalikan sebelum meluas. Kami juga memastikan sarana pendukung seperti sumber air, peralatan pemadam, hingga material penutup tanah selalu dalam kondisi siap digunakan,” jelas Aris.
Ia menambahkan, ketersediaan soil cover atau tanah penutup di TPA saat ini masih mencukupi. Material tersebut memiliki peran penting untuk membantu menutup titik api sekaligus mengurangi pasokan oksigen sehingga kebakaran dapat lebih cepat dikendalikan.
Selain memperkuat kesiapan internal, DPRKPLH telah menginstruksikan seluruh UPTD di wilayah Ciamis, Kawali, Panumbangan, dan Banjarsari agar mengintensifkan edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan sampah yang benar selama musim kemarau.
Menurut Aris, keberhasilan mencegah kebakaran di TPA tidak hanya bergantung pada kesiapan pemerintah, tetapi juga memerlukan dukungan masyarakat melalui perubahan perilaku dalam mengelola sampah.
“Strategi kami adalah mengedepankan pencegahan. Setiap potensi kebakaran akan segera ditindaklanjuti bersama pemerintah desa, kecamatan, dan instansi terkait agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar,” katanya.
DPRKPLH juga memastikan koordinasi lintas sektor terus dilakukan selama musim kemarau, termasuk kesiapan mendukung distribusi air bersih apabila diperlukan sesuai arahan Pemerintah Kabupaten Ciamis.
Aris berharap masyarakat semakin peduli terhadap pengelolaan sampah mulai dari lingkungan rumah masing-masing. Menurutnya, langkah sederhana seperti tidak membakar sampah dan mengolah sampah organik akan memberikan dampak besar terhadap keselamatan lingkungan.
“Pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Ketika masyarakat mulai memilah dan mengurangi sampah yang dibuang ke TPA, kita bukan hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga ikut menekan risiko kebakaran pada musim kemarau. Inilah bentuk kepedulian yang bisa dilakukan setiap orang,” pungkasnya. (Nay Sunarti)














