Dejurnal, Ciamis,- Empat warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Ciamis resmi menerima ijazah kesetaraan Paket A, B, dan C dalam sebuah seremoni sederhana namun penuh makna, Selasa (15/07/2025)
Program ini menjadi bukti nyata bahwa hak atas pendidikan tetap berlaku bagi siapa pun, termasuk mereka yang sedang menjalani masa pidana.
Mewakili Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Kabid Pembinaan PAUD dan PNF Eka Yudha Katresna menjelaskan program pendidikan kesetaraan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Ciamis menjadi bagian dari implementasi inovasi daerah IMMAS Gemas 25+ yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten Ciamis.
“Inovasi ini dirancang untuk mendorong peningkatan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) sebagai indikator penting dalam pembangunan sumber daya manusia,” terangnya.
Menurut Eka melalui sinergi antara Dinas Pendidikan, SPNF SKB, dan Lapas Ciamis, pendidikan kesetaraan dibuka seluas-luasnya bagi warga binaan, menjadikan lembaga pemasyarakatan sebagai ruang belajar yang inklusif.
Eka menegaskan bahwa program tersebut adalah bentuk nyata kehadiran negara dalam menjamin hak pendidikan setiap warga negara, termasuk mereka yang sedang menjalani pidana.
“Kami berkomitmen memberikan akses pendidikan yang setara dan inklusif bagi seluruh warga, tanpa terkecuali. Pendidikan kesetaraan di lapas merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk memastikan tidak ada yang tertinggal dalam proses pembangunan,” tegas Eka.
Eka menuturkan program ini juga menjadi sarana strategis dalam menekan angka putus sekolah dan membekali warga binaan dengan kompetensi dasar yang dibutuhkan pasca pemasyarakatan.
“Program pendidikan kesetaraan ini pun menjadi bukti bahwa penjara bukan akhir dari segalanya, melainkan ruang refleksi dan pembinaan menuju perubahan yang lebih baik,” katanya.
Eka berharap pendidikan yang diberikan di dalam lapas menjadi jalan bagi warga binaan untuk memperbaiki diri, membangun kembali kepercayaan diri, serta menyiapkan bekal hidup setelah bebas.
“Dengan keterampilan dan ijazah kesetaraan yang dimiliki, warga binaan dapat lebih mudah beradaptasi dan berkontribusi positif di masyarakat,” harapnya.
Kepala Lapas Kelas IIB Ciamis, Supriyanto, menyampaikan penyerahan ijazah merupakan hasil kerja sama antara Lapas Ciamis dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis melalui Satuan Pendidikan Nonformal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Ciamis.
“Program ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan akses pendidikan bagi semua lapisan masyarakat, termasuk warga binaan,” ujarnya.
Kalapas memberikan apresiasinya terhadap sinergi yang terjalin dengan pemerintah daerah, serta menekankan bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam proses pemasyarakatan.
“Kami sangat bersyukur bisa melaksanakan kegiatan ini. Meski berada di dalam lapas, proses belajar harus tetap berjalan. Banyak warga binaan kami yang masih muda dan putus sekolah karena tersandung masalah hukum. Karena itu, dukungan dari Dinas Pendidikan sangat kami butuhkan,” tuturnya.
Menurut Supriyanto, keberhasilan program tersebut menjadi langkah awal untuk menjadikan lapas bukan sekadar tempat pembinaan, tetapi juga sebagai wadah perubahan dan pemberdayaan.
“Kami ingin menjadikan lapas ini seperti lembaga pendidikan. Pendidikan di penjara itu mahal, karena keterbatasan sumber daya dan tenaga pengajar. Tapi semangat belajar warga binaan sangat luar biasa. Kami ingin masyarakat tahu bahwa di balik tembok ini, ada harapan dan perjuangan untuk hidup yang lebih baik,” lanjutnya.
Dikatakan Supriyanto penyerahan ijazah menjadi bukti bahwa Lapas Ciamis tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan, tetapi juga pembinaan dan pemberdayaan.
“Melalui pendidikan formal dan nonformal, warga binaan diberi kesempatan untuk mempersiapkan diri kembali ke masyarakat dengan bekal yang lebih baik,” imbuhnya
Supriyanto berharap dengan dukungan dari berbagai pihak, program serupa bisa terus dilanjutkan dan diperluas, agar semakin banyak warga binaan yang bisa mengakses hak pendidikan dan membangun masa depan yang lebih cerah.
Kepala SPNF SKB Ciamis, Yati Rosmiati, menyampaikan bahwa program kesetaraan di Lapas Ciamis terus berjalan meski dihadapkan pada berbagai tantangan, termasuk terbatasnya tenaga pendidik dan fasilitas.
“Kami bangga karena warga binaan menunjukkan semangat belajar yang luar biasa. Dalam wisuda kali ini, sebanyak empat orang berhasil menyelesaikan pendidikan: dua orang lulus Paket A, satu orang Paket B, dan satu orang Paket C,” ujar Yati.
Yati menambahkan, capaian tersebut bukan hanya sekadar penerimaan ijazah, tetapi simbol tekad dan harapan untuk memperbaiki masa depan.
“Capaian ini bukan hanya sekadar menerima ijazah, tetapi juga menjadi simbol tekad, perubahan, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik,” pungkasnya. (Nay Sunarti)