Ciamis, deJurnal,- Ciamis kembali berburu anak muda penuh gagasan dan aksi nyata. Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Ciamis kini memasuki tahapan penting dalam Seleksi Pemuda Pelopor 2026, yakni sesi wawancara untuk menentukan sosok pemuda paling inovatif dari berbagai bidang di Stadion Atletik Linggabuana Ciamis. Selasa (12/05/2026)
Seleksi tersebut tak hanya mencari pemuda dengan konsep menarik di atas kertas, tetapi figur yang telah membuktikan kiprahnya langsung di tengah masyarakat.
Sebanyak 17 peserta sempat mendaftar dalam ajang tahunan itu. Namun setelah proses verifikasi administrasi, satu peserta harus tersingkir karena melewati batas usia kepemudaan yang ditetapkan pemerintah.
Sekretaris Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Ciamis, Hendri Ridwansyah, ST, MM, mengataka proses seleksi dilakukan secara bertahap dan melibatkan banyak unsur, mulai dari kecamatan hingga komunitas kepemudaan di Ciamis.
“Seleksi diawali dengan pengumuman resmi dan koordinasi bersama para camat serta komunitas pemuda. Dari 17 pendaftar, satu orang gugur di tahap administrasi karena usia sudah lebih dari 30 tahun,” ujar Hendri, Selasa (12/5/2026).
Kini tersisa 16 peserta yang bersaing memperebutkan tiket sebagai wakil Kabupaten Ciamis menuju tingkat Jawa Barat hingga nasional.
Tahapan wawancara sendiri dibagi menjadi dua sesi. Pada Senin (11/5/2026), wawancara dilakukan khusus bidang seni budaya yang diikuti empat peserta. Sedangkan 12 peserta lainnya menjalani sesi lanjutan pada Selasa (12/5/2026).
Menurut Hendri, para peserta datang dengan latar belakang dan gerakan kepeloporan yang berbeda-beda. Mereka terbagi dalam lima bidang utama, mulai dari pendidikan, lingkungan, pangan, seni budaya hingga teknologi informasi.
Disbudpora, kata dia, sengaja menghadirkan tim juri yang kompeten agar proses penilaian berjalan objektif dan menghasilkan pemuda pelopor terbaik.
“Kami ingin menemukan sosok yang memang sudah bergerak dan memberi dampak nyata. Jadi bukan sekadar punya ide, tapi sudah menjadi pelopor di lingkungannya,” katanya.
Ia menegaskan, salah satu aspek paling menentukan dalam seleksi adalah originalitas program yang dijalankan peserta.
Hal itu akan terlihat saat pendalaman materi dan wawancara berlangsung.
“Originalitas itu sangat penting. Nanti akan terlihat apakah program yang dipresentasikan benar-benar hasil gagasan sendiri dan sudah dijalankan secara konsisten atau tidak,” jelas Hendri.

Ajang Pemuda Pelopor sendiri bukan hal baru bagi Kabupaten Ciamis. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah wakil daerah mampu menembus seleksi tingkat provinsi bahkan nasional dengan capaian yang cukup membanggakan.
Prestasi itu menjadi motivasi bagi Disbudpora untuk terus melahirkan generasi muda kreatif, mandiri dan mampu menjadi motor perubahan di masyarakat.
“Harapannya, peserta yang sekarang bisa lebih serius memperjuangkan apa yang sedang mereka pelopori. Karena mereka inilah yang nantinya membawa nama Ciamis di tingkat lebih tinggi,” pungkasnya. (Nay Sunarti)
















