Dejurnal.com, Garut — Seminar dan Pelatihan Transformasi Pendidikan Nasional 2026 yang digelar Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) bersama Serikat Guru Indonesia (SEGI) Garut pada 17–18 Juni 2026 menjadi momentum penting bagi para guru untuk memperkuat kapasitas diri, beradaptasi dengan perkembangan teknologi, serta mengambil peran strategis dalam membangun masa depan pendidikan Indonesia.
Mengusung tema “Integrasi Teknologi dan Penguatan Karakter Menuju Indonesia Emas 2045”, kegiatan ini menghadirkan berbagai narasumber nasional yang membahas transformasi pendidikan dari berbagai perspektif, mulai dari kebijakan pendidikan, tata kelola sekolah, kesejahteraan guru, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pembelajaran.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi digital, para peserta diajak memahami bahwa perubahan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Pesan tersebut mengemuka dalam berbagai sesi seminar yang menekankan pentingnya guru sebagai motor penggerak transformasi pendidikan.
Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Manajemen dan Kelembagaan, Didik Suhardi, saat membuka kegiatan menegaskan pentingnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan relevan dengan tantangan zaman.
Sementara itu, Wakil Rektor IV IPI Garut, Asep Suparman, menilai transformasi pendidikan harus dimulai dari peningkatan kompetensi guru. Menurutnya, penguasaan literasi digital, kemampuan pedagogik, serta kesiapan menghadapi perkembangan teknologi menjadi bekal utama dalam mendidik generasi masa depan. Ia juga menegaskan bahwa teknologi dan AI harus dipandang sebagai peluang untuk memperkuat proses pembelajaran, bukan ancaman bagi profesi guru.
Semangat perubahan tersebut semakin terasa saat pakar teknologi pendidikan nasional, Prof. Deni Darmawan, memaparkan berbagai peluang pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan. Demonstrasi konsep robot AI sebagai asisten pendidik memberikan gambaran bahwa teknologi dapat membantu guru dalam berbagai aktivitas pembelajaran, sehingga mereka dapat lebih fokus pada pengembangan karakter, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Tidak hanya membahas teknologi, seminar ini juga menyoroti pentingnya penguatan organisasi profesi dan peningkatan kesejahteraan guru. Koordinator Nasional P2G, Satriwan Salim, menegaskan bahwa transformasi pendidikan tidak akan berjalan optimal tanpa memperhatikan kondisi dan perjuangan para guru sebagai ujung tombak pendidikan nasional.
Pada hari kedua, para peserta mengikuti pelatihan yang berfokus pada advokasi profesi guru, manajemen berbasis sekolah digital, hingga perkembangan teknologi pendidikan berbasis riset. Materi-materi tersebut memberikan bekal praktis bagi para pendidik untuk menghadapi perubahan yang terus berlangsung di dunia pendidikan.
Antusiasme ratusan peserta yang hadir menunjukkan tingginya kesadaran guru terhadap pentingnya peningkatan kompetensi dan pembelajaran sepanjang hayat. Selain memperluas wawasan, kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi dan penguatan jejaring antarpendidik dari berbagai daerah.
Melalui kegiatan ini, P2G dan SEGI berharap lahir semakin banyak guru yang mampu beradaptasi dengan perubahan, memanfaatkan teknologi secara bijak, serta menjadi agen inovasi di lingkungan sekolah masing-masing. Seminar dan Pelatihan Transformasi Pendidikan Nasional 2026 pun menjadi penegas bahwa guru Indonesia terus bergerak maju untuk menciptakan pendidikan yang lebih berkualitas, inklusif, dan berdampak bagi masa depan bangsa.















