CIAMIS, deJurnal,- Pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Ciamis. Hal itu ditegaskan Bupati Ciamis, Dr. H. Herdiat Sunarya, saat membuka Hari Krida Pertanian (HKP) ke-54 Kabupaten Ciamis di Lapangan Desa Sumberjaya, Kecamatan Cihaurbeuti, Senin (13/7/2026).
HKP ke-54 Kabupaten Ciamis diikuti sekitar 2.000 peserta dari seluruh kecamatan, terdiri atas kelompok tani, gabungan kelompok tani (Gapoktan), penyuluh pertanian, pelaku usaha pertanian, organisasi profesi, serta berbagai unsur masyarakat.
Kegiatan tersebut menjadi ajang silaturahmi, apresiasi, dan penguatan komitmen bersama dalam memajukan sektor pertanian di Kabupaten Ciamis.
Di hadapan ribuan petani, pelaku usaha pertanian, serta tamu undangan, bupati menyampaikan bahwa kekuatan utama Kabupaten Ciamis hingga kini masih bertumpu pada sektor pertanian.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi modal besar dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya kita dapat berkumpul dalam Hari Krida Pertanian ke-54. Ini merupakan momentum yang sangat penting bagi seluruh insan pertanian di Kabupaten Ciamis,” ujarnya
Bupati mengatakan, berdasarkan hasil sensus dan data statistik, sekitar 65 persen masyarakat Kabupaten Ciamis masih bekerja sebagai petani maupun buruh tani.
Angka tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki peran yang sangat dominan dibandingkan sektor lainnya.
“Kalau dibandingkan dengan daerah lain yang banyak bergantung pada sektor industri, Ciamis justru memiliki kekuatan pada pertanian. Ini harus menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab bersama untuk terus menjaganya,” katanya.
Ciamis Surplus Pangan
Bupati mengungkapkan, berkat kerja keras para petani, Kabupaten Ciamis telah mampu mencapai swasembada pangan. Bahkan sejumlah komoditas hasil pertanian dan peternakan telah dipasarkan ke berbagai daerah di luar Ciamis.
“Kita patut bersyukur karena Ciamis bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan sendiri. Beras kita surplus, begitu juga hasil peternakan seperti daging ayam sudah dikirim ke luar daerah. Untuk komoditas ikan pun kita masih memiliki surplus produksi,” ungkapnya.
Menurut bupati, capaian tersebut membuktikan bahwa sektor pertanian masih menjadi penyangga utama perekonomian daerah sekaligus penyokong ketahanan pangan masyarakat.
MBG Dinilai Buka Peluang Pasar Baru
Dalam sambutannya, Herdiat juga menyinggung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini mulai meningkatkan kebutuhan berbagai komoditas pangan.
Ia mengakui terdapat sejumlah persoalan dalam implementasi program tersebut, salah satunya meningkatnya kebutuhan telur ayam yang berdampak pada pasokan di pasaran.
Meski demikian, bupati menilai MBG tetap memiliki prospek besar bagi petani karena membuka pasar baru untuk komoditas sayuran, buah-buahan, hingga hasil pertanian lainnya.
“Kalau program ini terus diperbaiki, saya optimistis petani Ciamis akan semakin diuntungkan. Sayuran, buah-buahan, hingga berbagai hasil pertanian memiliki peluang pasar yang lebih luas. Petani tidak perlu lagi kesulitan mencari pembeli,” ujarnya.
Ia berharap berbagai persoalan yang masih muncul dalam pelaksanaan MBG dapat segera diselesaikan sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat dan para petani.
“Program ini pada dasarnya sangat baik. Tinggal bagaimana pelaksanaannya terus dibenahi agar manfaatnya maksimal dan tidak disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,” tegasnya.
Pupuk Organik Jadi Alternatif
Bupati juga menyoroti persoalan pupuk bersubsidi yang selama bertahun-tahun menjadi keluhan petani.
Menurutnya, keterbatasan distribusi pupuk subsidi justru mendorong banyak petani mulai beralih menggunakan pupuk organik.
“Sekarang banyak petani yang sudah mencoba pupuk organik. Selain lebih efisien dari sisi biaya, kualitas hasil pertaniannya juga tidak kalah baik bahkan memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” katanya.
Ia berharap penggunaan pupuk organik terus dikembangkan sebagai bagian dari pertanian berkelanjutan di Kabupaten Ciamis.
Selain persoalan pupuk, Herdiat mengingatkan tantangan lain yang tidak kalah penting, yakni regenerasi petani.
Ia menilai saat ini sebagian besar pelaku pertanian sudah memasuki usia lanjut, sementara minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian masih relatif rendah.
“Ini yang harus menjadi perhatian kita bersama. Jangan sampai suatu saat nanti lahan pertanian masih luas, tetapi tidak ada lagi generasi yang mau mengelolanya. Regenerasi petani harus mulai dipersiapkan dari sekarang,” ujarnya.
Bupati berharap melalui Hari Krida Pertanian ke-54, semangat para petani semakin meningkat sekaligus menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara pemerintah, penyuluh, kelompok tani, dunia usaha, dan generasi muda dalam membangun sektor pertanian yang modern, mandiri, dan berdaya saing.
“Kemajuan Kabupaten Ciamis tidak bisa dilepaskan dari peran petani. Karena itu, pemerintah daerah akan terus memberikan perhatian terhadap sektor pertanian agar tetap menjadi penopang utama perekonomian sekaligus mewujudkan Ciamis Maju dan Berkelanjutan,” pungkasnya. (Nay Sunarti)















