Dejurnal.com, Garut — Gerakan Pramuka dinilai memiliki peran penting dalam membentuk karakter, mental, fisik, keterampilan, serta kepercayaan diri generasi muda di tengah berbagai tantangan sosial yang semakin kompleks. Melalui kegiatan kepramukaan, para peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman berorganisasi, tetapi juga ditempa agar memiliki keberanian, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Garut, Drs. H. Nurdin Yana, M.H., yang juga menjabat sebagai Dewan Majelis Pembina Pramuka Kabupaten Garut. Ia menyampaikan pandangannya seusai menghadiri acara pengukuhan Majelis Pembimbing Satuan Karya (Mabi Saka), Pimpinan Saka, serta petugas upacara bendera dalam rangka memperingati HUT Pramuka di Gedung Pendopo Garut, Senin (24/8/2026).
Menurut Nurdin Yana, perkembangan anak-anak dan generasi muda saat ini tidak semuanya berjalan ke arah yang positif. Di tengah perkembangan zaman, masih terdapat berbagai persoalan sosial yang melibatkan anak-anak dan remaja, termasuk perilaku yang dinilai kurang sesuai dengan norma kesopanan, kepatutan, maupun nilai-nilai kehidupan bermasyarakat.
“Kan mereka tidak semua positif. Banyak juga yang menggarap urusan-urusan yang negatif. Kita lihat bahwa masyarakat kita, anak-anak kita, juga sudah melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak senonoh atau tidak terhormat, termasuk berbagai permasalahan sosial,” ujar Nurdin.
Karena itu, ia menilai kegiatan Pramuka dapat menjadi salah satu sarana strategis untuk memberikan penguatan kepada generasi muda. Pembinaan melalui kegiatan kepramukaan tidak hanya berorientasi pada kemampuan fisik, tetapi juga menyentuh aspek mental, keberanian, kedisiplinan, kepemimpinan, hingga kepercayaan diri.
Nurdin menegaskan, karakter tersebut sangat dibutuhkan karena generasi muda saat ini merupakan calon penerus yang nantinya akan mengambil alih berbagai peran di masyarakat, pemerintahan, dunia usaha, maupun bidang lainnya.
Ia berharap proses pembinaan yang dilakukan melalui Pramuka dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki hati, karakter, serta kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.
“Insya Allah kapasitas mereka setelah ditempa dalam proses Pramuka ini bisa memberikan kekuatan fisik, kekuatan mental, dan kepercayaan diri. Itu yang paling penting harus mereka miliki sehingga ke depannya menjadi pengganti generasi-generasi yang punya hati dan otak cerdas, tetapi juga bisa memberikan keberkahan bagi masyarakat,” katanya.
Pramuka Dinilai Mampu Menyiapkan Generasi Penerus
Nurdin menyebut anak-anak yang saat ini mengikuti kegiatan Pramuka pada waktunya akan menjadi generasi yang menggantikan para pemimpin dan orang-orang yang saat ini memegang berbagai posisi penting.
Menurutnya, proses tersebut harus dipersiapkan sejak dini. Salah satunya melalui pembentukan kapasitas pribadi dan keterampilan teknis yang dapat diperoleh melalui kegiatan kepramukaan.
Ia menilai Pramuka memiliki banyak kegiatan yang secara tidak langsung melatih peserta untuk mampu menghadapi situasi sulit. Selain keterampilan, kegiatan tersebut juga membangun mental keberanian dan kemampuan mengambil keputusan dalam kondisi tertentu.
“Anak-anak itu besok-besok akan menggantikan posisi-posisi kami yang sudah selesai. Dengan berbekal kapasitas pribadi, keterampilan teknisnya juga dilakukan di Pramuka. Kemudian mental sekaligus juga beragama di situ ada,” tuturnya.
Nurdin mencontohkan berbagai kegiatan dalam Pramuka, termasuk kegiatan yang menuntut ketahanan fisik dan mental peserta. Salah satunya adalah kegiatan malam atau jerit malam yang menurutnya membutuhkan keberanian dan kesiapan mental.
Ia menilai pengalaman seperti itu dapat menjadi pembelajaran bagi peserta untuk menghadapi rasa takut, tekanan, maupun tantangan yang muncul dalam kehidupan nyata.
“Dengan jerit malam itu kan orang tidak sembarang bisa melewati proses yang ada. Dan itulah yang menyentuh. Di situ ada kekuatan mental dan keberanian menghadapi permasalahan,” ujarnya.
Kegiatan Fisik dan Kebersamaan Jadi Bagian Penting
Selain pembentukan mental, Nurdin juga menyoroti pentingnya nilai kebersamaan dalam kegiatan Pramuka. Menurutnya, keterbatasan fasilitas maupun anggaran tidak seharusnya menghilangkan semangat kebersamaan yang menjadi salah satu nilai penting dalam kepramukaan.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya sejak dulu memiliki prinsip agar kebersamaan dalam berbagai kegiatan tetap dijaga. Bahkan ketika dirinya masih bertugas di tingkat kecamatan, ia mengaku tidak membiarkan stafnya membawa perlengkapan makan masing-masing ketika kegiatan bersama.
“Saya ketika di kecamatan tidak boleh ada staf saya yang bawa misting. Saya di kecamatan tidak boleh ada yang bawa misting dan semua saya tanggung jawab. Artinya karena di kecamatan kan ada sedikit, sehingga kita bersama-sama makannya,” katanya.
Menurut Nurdin, prinsip tersebut menggambarkan pentingnya kebersamaan. Dalam sebuah kegiatan, tidak boleh ada sekat antara satu dengan yang lainnya. Semua harus merasakan proses yang sama dan saling membantu.
Ia juga mengapresiasi peserta Pramuka yang tetap mengikuti berbagai kegiatan meskipun terdapat keterbatasan anggaran. Bahkan, menurut informasi yang diterimanya, ada peserta yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, tetapi setelah mengikuti proses kegiatan secara bersama-sama justru menunjukkan perkembangan positif.
Pramuka Bisa Menjadi Sarana Penguatan Diri
Nurdin melihat kegiatan Pramuka sebagai proses pembelajaran yang menyeluruh. Peserta tidak hanya dilatih melalui teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung melalui berbagai aktivitas lapangan.
Menurutnya, latihan fisik dan berbagai tantangan yang diberikan secara terukur dapat membentuk ketahanan diri. Peserta dilatih untuk tidak mudah menyerah serta mampu menyelesaikan tahapan kegiatan hingga tuntas.
Ia bahkan menyebut proses tersebut dapat memberikan dampak positif terhadap kondisi psikologis maupun kepercayaan diri peserta.
“Mereka di-training dengan sedemikian rupa, dengan kekuatan fisik yang cukup berat, akhirnya mereka bisa kuat dan selesai. Artinya mereka bisa sembuh. Kalau dengan obat itu mungkin berapa kali keluar, tetapi dengan proses itu bisa berjalan dengan baik,” ungkapnya.
Meski demikian, pernyataan tersebut lebih ditekankan Nurdin sebagai pengalaman positif yang ia dengar terkait peserta, bukan sebagai pengganti pengobatan medis. Menurutnya, lingkungan yang mendukung, kebersamaan, aktivitas fisik, dan pembentukan mental dapat menjadi bagian dari proses penguatan diri bagi anak-anak.
Pemerintah Diminta Memberikan Dukungan
Lebih jauh, Nurdin menilai pembinaan generasi muda melalui Pramuka membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah. Ia mengatakan keberlangsungan kegiatan tidak cukup hanya mengandalkan semangat para pembina dan peserta, tetapi juga membutuhkan dukungan kelembagaan serta kebijakan yang berpihak pada proses pembinaan.
Salah satu hal yang menurutnya perlu menjadi perhatian adalah proses rekrutmen dan pembinaan anggota Pramuka agar dapat menjangkau lebih banyak generasi muda di Kabupaten Garut.
Nurdin menyebut jumlah peserta yang mengikuti kegiatan tersebut cukup besar. Ia menggambarkan cakupannya mencapai lebih dari 500 peserta yang berasal dari berbagai wilayah Garut.
“Ke depan juga menjadi pemikiran kita bagaimana keberpihakan kita dalam rangka memberikan support, khususnya proses rekrutmen. Karena proses ini hampir 500 lebih. Bisa dibayangkan dari selatan sampai ke utara, 500 lebih di Garut,” jelasnya.
Menurut Nurdin, angka tersebut menunjukkan besarnya potensi generasi muda yang dapat dibina melalui Gerakan Pramuka. Dengan wilayah Kabupaten Garut yang luas dan terdiri dari banyak kecamatan, penguatan organisasi Pramuka diharapkan mampu menjadi salah satu instrumen pembinaan generasi muda secara berkelanjutan.
Membentuk Generasi Cerdas, Berkarakter dan Berani
Nurdin berharap kegiatan Pramuka tidak berhenti sebatas seremoni maupun kegiatan rutin, tetapi benar-benar memberikan dampak terhadap pembentukan karakter anak-anak dan remaja.
Ia menilai generasi muda membutuhkan kemampuan intelektual sekaligus karakter yang kuat. Kecerdasan tanpa mental dan karakter yang baik, menurutnya, belum cukup untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Karena itu, nilai kedisiplinan, tanggung jawab, kebersamaan, keberanian, keterampilan, kepemimpinan, serta nilai keagamaan yang ditanamkan dalam kegiatan Pramuka diharapkan dapat menjadi bekal penting bagi peserta.
Nurdin pun mengajak seluruh pihak untuk melihat Gerakan Pramuka sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan Kabupaten Garut. Sebab, generasi yang saat ini dibina akan menjadi penerus pembangunan daerah pada masa mendatang.
Ia berharap melalui proses pembinaan yang konsisten, lahir generasi Garut yang tidak hanya memiliki kemampuan dan kecerdasan, tetapi juga mempunyai kepedulian sosial, integritas, keberanian, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan demikian, Gerakan Pramuka di Kabupaten Garut diharapkan semakin kuat sebagai ruang pendidikan nonformal yang mampu menjawab tantangan generasi muda sekaligus mempersiapkan calon-calon pemimpin masa depan yang memiliki fisik kuat, mental tangguh, keterampilan memadai, dan karakter yang baik.***Willy
















