CIAMIS, deJurnal,- Milangkala ke-17 Gong Perdamaian Dunia Tahun 2026 akan digelar di Monumen Gong Perdamaian Dunia, Situs Bojong Galuh Karangkamulyan, Kabupaten Ciamis, Rabu, 9 September 2026. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung mulai pukul 07.00 hingga 09.30 WIB.
Momentum tahunan itu tidak hanya menjadi agenda pelestarian budaya dan sejarah, tetapi juga dinilai memiliki potensi menjadi magnet kunjungan masyarakat dan wisatawan dari berbagai daerah ke Kabupaten Ciamis.
Mengusung tema “Merajut Harmoni, Menjaga Perdamaian,” Milangkala ke-17 Gong Perdamaian Dunia diharapkan mampu membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk mengenal sejarah, budaya, sekaligus potensi pariwisata Ciamis.
Ketua Badan Promosi dan Pariwisata Daerah (BP2D) Kabupaten Ciamis, Endang Haris Juandana, mengatakan daya tarik Gong Perdamaian Dunia kini semakin terbuka bagi berbagai lapisan masyarakat.
Menurutnya, pengunjung yang tertarik datang tidak hanya berasal dari kalangan budayawan dan seniman, tetapi juga masyarakat umum, termasuk wisatawan dari luar daerah.
“Gong Perdamaian ini bisa menjadi magnet wisatawan. Bukan hanya budayawan atau seniman, tetapi masyarakat dari berbagai kalangan juga tertarik untuk datang. Bahkan ada yang dari luar kota, seperti Jakarta dan daerah lainnya,” ujar Endang.
Gong Perdamaian Tak Hanya Menarik Komunitas Budaya
Endang menilai, daya tarik Gong Perdamaian Dunia telah berkembang melampaui segmentasi komunitas seni dan budaya.
Masyarakat umum memiliki alasan yang beragam untuk datang, mulai dari ingin menyaksikan langsung rangkaian milangkala, mengenal Gong Perdamaian Dunia, hingga menikmati suasana kawasan Situs Bojong Galuh Karangkamulyan.
“Segmentasinya sudah luas. Jadi bukan hanya mereka yang berkecimpung di bidang seni dan budaya. Masyarakat umum juga bisa datang, termasuk wisatawan dari luar daerah,” katanya.
Keberadaan Gong Perdamaian Dunia di kawasan Situs Bojong Galuh Karangkamulyan, lanjut Endang, menjadi kekuatan tersendiri. Pengunjung tidak hanya dapat mengikuti kegiatan, tetapi juga memiliki kesempatan menikmati kawasan yang menyimpan nilai sejarah dan budaya.
Potensi tersebut semakin didukung dengan keberadaan Rest Area Karangkamulyan yang dapat menjadi salah satu titik singgah bagi wisatawan.
Fasilitas area parkir yang luas memberikan kemudahan bagi masyarakat yang datang menggunakan kendaraan pribadi maupun rombongan. Wisatawan juga dapat beristirahat sekaligus mencicipi beragam makanan khas Ciamis yang tersedia di kawasan tersebut.
“Jadi wisatawan yang datang tidak hanya melihat Gong Perdamaian atau Situs Karangkamulyan, tetapi bisa juga beristirahat di rest area, menikmati kuliner khas Ciamis. Produk makanan yang tersedia juga sudah ada yang bersertifikasi halal, sehingga memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat,” tutur Endang.
Wisatawan Luar Daerah Jadi Peluang
Ketertarikan masyarakat dari luar Ciamis, termasuk dari Jakarta, dinilai menjadi peluang yang perlu dimanfaatkan untuk memperluas promosi pariwisata daerah.
Sebab, kunjungan wisatawan tidak harus berhenti di lokasi acara. Mereka dapat diarahkan untuk mengenal destinasi lain, menikmati kuliner khas, hingga melihat berbagai produk ekonomi kreatif yang berkembang di tengah masyarakat.
“Ketika orang datang ke Ciamis karena Gong Perdamaian, tentu ini menjadi peluang untuk mengenalkan potensi lainnya. Jadi dampaknya bisa lebih luas, bukan hanya terhadap kunjungan wisata, tetapi juga terhadap ekonomi masyarakat,” ujar Endang.
Menurutnya, semakin banyak orang luar daerah yang datang ke Ciamis, semakin besar pula kesempatan daerah memperkenalkan beragam destinasi dan produk lokal.
Karangkamulyan sendiri memiliki posisi strategis sebagai kawasan yang memadukan kekuatan sejarah, budaya dan aktivitas wisata. Kehadiran rest area dengan fasilitas parkir yang luas serta pilihan kuliner khas menjadi bagian pendukung yang dapat membuat wisatawan lebih nyaman saat berkunjung.
Peluang Menggerakkan Ekonomi Masyarakat
Endang mengatakan, kegiatan budaya seperti Milangkala Gong Perdamaian Dunia dapat menjadi salah satu cara mempertemukan kepentingan pelestarian budaya dengan pengembangan sektor pariwisata.
Ketika sebuah agenda budaya mampu mendatangkan masyarakat dari berbagai daerah, manfaatnya dinilai dapat meluas kepada pelaku usaha di sekitar kawasan.
Wisatawan yang datang berpotensi membelanjakan uangnya untuk membeli makanan, minuman, oleh-oleh maupun produk ekonomi kreatif masyarakat.
“Ini menjadi momentum yang baik untuk mengenalkan Ciamis lebih luas. Orang yang datang karena Gong Perdamaian bisa sekaligus mengetahui bahwa Ciamis memiliki banyak destinasi, kuliner dan potensi ekonomi kreatif,” ucapnya.
Dengan demikian, Gong Perdamaian Dunia tidak hanya dipandang sebagai sebuah monumen atau agenda tahunan, tetapi juga dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk mengenalkan potensi wisata Ciamis secara lebih luas.
Menguatkan Daya Tarik Wisata Ciamis
Lebih lanjut Endang berharap Milangkala ke-17 Gong Perdamaian Dunia dapat semakin memperkuat daya tarik Kabupaten Ciamis sebagai daerah tujuan wisata berbasis sejarah dan budaya.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mempertemukan wisatawan dengan kekayaan sejarah dan budaya yang dimiliki Ciamis, sekaligus menghubungkannya dengan potensi kuliner dan ekonomi kreatif masyarakat.
“Tidak hanya sebatas di acara Gong Perdamaiannya saja, tetapi membuka peluang bagi wisatawan dari berbagai daerah untuk mengenal lebih dekat sejarah, budaya dan potensi pariwisata Kabupaten Ciamis,” pungkasnya.
Dengan dukungan kawasan wisata, fasilitas pendukung seperti Rest Area Karangkamulyan, area parkir yang luas serta kuliner khas yang telah memperhatikan aspek kehalalan, Endang optimistis momentum Milangkala Gong Perdamaian Dunia dapat menjadi salah satu penggerak kunjungan wisata ke Ciamis. (Nay Sunarti)
















