Penulis : Willy Gistiani
Ada kepergian yang meninggalkan kesedihan, tetapi ada pula kepergian yang menyisakan ruang kosong begitu dalam, seolah ada bagian dari perjalanan hidup yang ikut terhenti. Begitulah rasanya ketika kabar berpulangnya Bang Rachman S. Hakim, Pemimpin Redaksi dejurnal.com, terdengar pada Sabtu (29/8/2026).
Kabar itu bukan sekadar berita duka. Bagi mereka yang pernah mengenal, bekerja bersama, berdiskusi, dan berjuang dalam dunia jurnalistik bersamanya, kepergian Bang Rachman menjadi kehilangan yang sulit diungkapkan hanya dengan kata-kata.
Sebab, ada manusia yang kehadirannya tidak hanya diukur dari jabatan yang pernah disandangnya, tetapi juga dari nilai yang ditinggalkan, kebersamaan yang pernah dibangun, serta jejak pengabdian yang terus hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.
Bang Rachman S. Hakim adalah salah satu sosok itu.
Di balik namanya sebagai Pemimpin Redaksi dejurnal.com, tersimpan perjalanan panjang seorang insan pers yang menjadi bagian dari denyut kehidupan jurnalistik. Ia berada di tengah dunia yang setiap hari bergerak cepat, ketika informasi harus disampaikan kepada masyarakat, ketika fakta perlu diperjuangkan, dan ketika tanggung jawab terhadap publik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaan seorang jurnalis.
Menjadi pemimpin redaksi bukanlah sekadar memimpin sebuah media atau mengatur jalannya pemberitaan. Di sana ada tanggung jawab besar, ada pertimbangan yang harus dipikirkan, ada keputusan yang harus diambil, dan ada kepercayaan masyarakat yang harus dijaga.
Di tengah perubahan zaman, ketika media digital tumbuh begitu pesat dan arus informasi semakin deras, dunia pers menghadapi tantangan yang tidak ringan. Informasi datang silih berganti, peristiwa terus berubah, dan masyarakat membutuhkan berita yang dapat menjadi pegangan untuk memahami keadaan di sekelilingnya.
Dalam perjalanan itulah Bang Rachman mengambil bagian. Melalui kiprahnya di dejurnal.com, ia menjadi bagian dari upaya menghadirkan informasi kepada masyarakat, khususnya di Jawa Barat.
Kini, ketika sosoknya telah berpulang, yang tertinggal bukan hanya nama di balik sebuah media. Ada kenangan tentang perjalanan, ada cerita tentang kebersamaan, ada percakapan yang mungkin dahulu terasa biasa, tetapi kini menjadi sesuatu yang sangat berharga untuk dikenang.
Sebab, ketika seseorang masih berada di tengah-tengah kita, terkadang kita tidak menyadari betapa berharganya kehadirannya. Namun ketika ia pergi untuk selamanya, hal-hal sederhana yang pernah dilalui bersama justru menjadi kenangan yang paling sulit dilupakan.
Ketika Ruang Redaksi Kehilangan Salah Satu Sosoknya
Dunia jurnalistik bukan semata-mata tentang tulisan, kamera, mikrofon, atau berita yang diterbitkan setiap hari. Di balik semua itu, ada manusia-manusia yang mencurahkan waktu, tenaga, pikiran, bahkan perasaannya untuk memastikan sebuah peristiwa dapat diketahui masyarakat.
Ada malam-malam panjang yang diisi dengan pekerjaan. Ada diskusi yang tidak selalu mudah. Ada perbedaan pandangan yang harus diselesaikan. Ada pula semangat yang harus tetap dijaga ketika tantangan datang silih berganti.
Bagi seorang pemimpin redaksi, perjalanan itu tentu memiliki tanggung jawab tersendiri. Ia tidak hanya berhadapan dengan pekerjaan hari ini, tetapi juga memikirkan bagaimana sebuah media dapat terus berjalan, menjaga kepercayaan, dan tetap memiliki tempat di tengah masyarakat.
Kepergian Bang Rachman S. Hakim mengingatkan kita bahwa di balik perjalanan sebuah media, ada sosok-sosok yang pernah memberikan bagian terbaik dari dirinya.
Mungkin suatu hari ruang redaksi akan kembali ramai. Berita akan kembali ditulis. Telepon akan kembali berdering. Wartawan akan kembali turun ke lapangan untuk melaporkan peristiwa. Nama-nama baru akan hadir, dan generasi baru akan melanjutkan perjalanan jurnalistik.
Namun, ada satu hal yang tidak dapat diulang kesempatan untuk kembali berbincang dengan seseorang yang telah pergi.
Kursi kerja mungkin dapat ditempati orang lain. Tugas dan tanggung jawab dapat diteruskan. Bahkan nama sebuah media akan terus hidup melalui karya-karya berikutnya. Akan tetapi, kepribadian, cara berpikir, pengalaman, dan kenangan tentang seseorang tidak pernah benar-benar dapat digantikan.
Di situlah kehilangan terasa begitu nyata.
Yang Pergi Raganya, yang Tertinggal Adalah Kenangan dan Pengabdian
Bagi rekan-rekan seprofesi, Bang Rachman bukan hanya seseorang yang pernah berada dalam satu lingkungan kerja. Ia merupakan bagian dari perjalanan yang mempertemukan banyak orang dalam satu dunia yaitu dunia jurnalistik.
Mungkin ada yang mengingatnya melalui percakapan di sela-sela kesibukan. Ada yang mengenangnya lewat diskusi tentang pemberitaan. Ada pula yang menyimpan kenangan dari pertemuan-pertemuan sederhana yang dahulu tidak pernah terpikir akan menjadi sesuatu yang dirindukan.
Setiap orang tentu memiliki cerita dan sudut pandangnya sendiri tentang sosok yang telah pergi. Namun, semua kenangan itu bertemu pada satu kenyataan seseorang yang pernah hadir dalam kehidupan mereka kini hanya dapat dijumpai melalui ingatan dan doa.
Begitulah kehidupan mengajarkan arti kehilangan.
Kita tidak pernah benar-benar mengetahui kapan sebuah pertemuan akan menjadi yang terakhir. Kita juga tidak selalu menyadari kapan sebuah percakapan sederhana akan berubah menjadi kenangan yang ingin kita ulangi, tetapi tidak lagi memiliki kesempatan untuk melakukannya.
Karena itu, kepergian Bang Rachman menjadi pengingat bagi kita semua untuk menghargai kebersamaan selagi masih ada waktu. Menghormati orang-orang yang berjalan bersama kita, menjaga hubungan baik, dan tidak menunda menyampaikan rasa terima kasih kepada mereka yang telah memberikan arti dalam perjalanan hidup.
Sebab pada akhirnya, yang paling lama bertahan bukanlah suara yang pernah terdengar, melainkan makna yang ditinggalkan. Bukan pula seberapa lama seseorang berada di sisi kita, tetapi seberapa dalam kehadirannya memberi arti bagi orang-orang di sekelilingnya.
Perjuangan Pers Tidak Berhenti oleh Sebuah Perpisahan
Bang Rachman S. Hakim telah berpulang. Namun, perjalanan dunia jurnalistik tidak berhenti sampai di sini.
Setiap hari, akan selalu ada peristiwa yang membutuhkan perhatian. Akan selalu ada suara masyarakat yang perlu didengar. Akan selalu ada persoalan yang membutuhkan penjelasan, kebijakan yang perlu diawasi, serta fakta yang harus disampaikan secara bertanggung jawab.
Di tengah semua itu, para jurnalis akan terus melangkah, membawa pena, kamera, dan tanggung jawab moral untuk menghadirkan informasi kepada publik.
Kepergian seorang insan pers semestinya tidak hanya menjadi kabar duka yang kemudian berlalu bersama waktu. Lebih dari itu, peristiwa ini sepatutnya menjadi ruang perenungan tentang arti pengabdian, pentingnya menjaga integritas, serta besarnya tanggung jawab yang melekat pada profesi jurnalistik.
Sebab pers bukan sekadar industri yang menghasilkan berita. Pers juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, ruang bagi suara yang ingin didengar, serta salah satu unsur penting dalam menjaga keterbukaan informasi.
Setiap orang yang pernah mengambil bagian dalam perjalanan itu memiliki kisahnya sendiri. Ada yang dikenal luas, ada yang bekerja dalam kesunyian, dan ada pula yang baru benar-benar dirasakan kehadirannya ketika ia telah tiada.
Bang Rachman adalah bagian dari perjalanan tersebut. Kiprahnya di dejurnal.com menjadi salah satu bagian dari kisah panjang perjuangan media dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Bagi mereka yang masih melanjutkan langkah di dunia jurnalistik, kenangan tentang Bang Rachman dapat menjadi pengingat bahwa pekerjaan ini bukan semata-mata tentang seberapa banyak berita diterbitkan, tetapi juga tentang nilai, tanggung jawab, dan manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat.
Selamat Jalan, Bang Rachman…
Hari ini, mungkin tidak ada lagi kesempatan untuk menyapamu seperti dahulu. Tidak ada lagi ruang untuk berbincang secara langsung, bertukar pikiran, atau sekadar menanyakan kabar di tengah kesibukan pekerjaan.
Yang tersisa hanyalah kenangan, cerita, dan doa-doa yang dipanjatkan dengan harapan terbaik.
Bang Rachman, kepergianmu mengajarkan kami bahwa kehidupan begitu singkat, sementara jejak kebaikan dapat bertahan jauh lebih lama daripada usia manusia.
Engkau telah menyelesaikan bagianmu dalam perjalanan ini. Kini, giliran kami yang masih diberi waktu untuk melanjutkan langkah, menjaga silaturahmi, merawat nilai-nilai kebaikan, dan meneruskan pengabdian sesuai kemampuan masing-masing.
Kami tidak tahu berapa lama nama dan kenanganmu akan terus disebut dalam percakapan sehari-hari. Namun, kami percaya bahwa setiap kebersamaan yang tulus akan meninggalkan tempat tersendiri di hati orang-orang yang pernah mengalaminya.
Mungkin suatu saat, ketika nama dejurnal.com disebut, ketika sebuah berita diterbitkan, atau ketika para jurnalis kembali berkumpul dalam sebuah kegiatan, akan ada seseorang yang teringat kepadamu.
Lalu, dalam diam, ia akan mengenangmu dan berkata di dalam hati pernah ada Bang Rachman S. Hakim yang menjadi bagian dari perjalanan kami.
Dan pada saat itulah, kenangan tentangmu kembali menemukan jalannya untuk hidup.
Selamat jalan, Bang Rachman S. Hakim.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan dunia jurnalistik. Terima kasih atas pengabdian, kebersamaan, pemikiran, dan jejak yang telah engkau tinggalkan.
Namamu mungkin tidak lagi hadir dalam percakapan di ruang redaksi. Sosokmu mungkin tidak lagi terlihat di antara kesibukan para jurnalis. Namun, kepergianmu tidak serta-merta menghapus cerita yang pernah terukir bersama mereka yang mengenalmu.
Sebab manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta, tetapi kenangan tentang pengabdian dan kebaikannya dapat terus hidup di hati orang-orang yang ditinggalkan.
Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah almarhum, mengampuni segala dosa dan khilafnya, melapangkan kuburnya, menerangi tempat peristirahatan terakhirnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah SWT memberikan kekuatan, kesabaran, dan ketabahan dalam menghadapi kehilangan yang begitu berat ini.
Semoga setiap air mata yang jatuh menjadi doa, setiap kenangan yang hadir menjadi penguat hati, dan setiap kerinduan menemukan ketenangan dalam keikhlasan.
Al-Fatihah untuk Bang Rachman S. Hakim.
Pergilah dengan tenang, Bang. Perjalananmu di dunia telah usai, tetapi cerita tentangmu tidak harus berakhir bersama kepergianmu. Selama masih ada yang mengenang, selama masih ada yang mendoakan, dan selama jejak pengabdianmu masih memiliki arti, namamu akan tetap hidup dalam ingatan.
Selamat jalan, pejuang informasi. Semoga husnul khatimah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

















