Dejurnal.com, Bandung — Kepala Dinas Pendidikan ( Kadisdik) Kabupaten Bandung, Asep Kusumah, S.Sos. M.Si. menegaskan bahwa literasi dan numerasi tidak sebatas kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, menganalisis persoalan, serta mengambil keputusan secara bijak.
Pesan tersebut disampaikan Asep Kusumah saat membuka kegiatan Jambore Literasi 2026, di Awana Resort Ciwidey, Selasa 20 Oktober 2026.
Jambore Literasi yang kelima ini dengan peserta siswa sekolah dasar se Kabukaten Bandung yang telah menyelesaikan tantangan literasi dan numerasi selama delapan bulan. Puncaknya di Jambore Literasi yang tahun ini merupakan yang kelima.
Menurut Asep, kemampuan literasi menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi. Siswa perlu memiliki kecakapan untuk menilai kebenaran dan kredibilitas informasi sebelum menarik kesimpulan atau mengambil keputusan.
“Literasi tidak sekadar belajar membaca dan menulis. Hari ini literasi harus mampu dalam konteks memahami informasi. Setelah membaca, memahami informasi, menganalisis, kemudian bijak mengambil keputusan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kemampuan numerasi juga tidak hanya berkaitan dengan kegiatan berhitung. Numerasi harus membantu siswa memahami permasalahan dan menemukan solusi dalam kehidupan sehari-hari melalui perhitungan yang cermat, matang, dan jujur.
Asep mengaitkan pentingnya literasi dengan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW, yakni perintah membaca atau Iqra dalam Surah Al-Alaq. Menurutnya, makna membaca tidak hanya terbatas pada teks, tetapi juga kemampuan memahami tanda-tanda kebesaran Allah SWT dan berbagai persoalan kehidupan.
Dalam kesempatan tersebut, Asep mengapresiasi peran Legsambedas Kabupaten Bandung yang telah mendampingi siswa menjalani tantangan literasi dan numerasi selama delapan bulan hingga mencapai puncak kegiatan melalui Jambore Literasi 2026.
Ia berharap kegiatan yang berlangsung dari tanggal 20-22 Oktober ini menjadi ruang bagi siswa untuk berbagi pengalaman belajar, inspirasi, cerita, serta nilai-nilai positif yang diperoleh selama mengikuti program.
“Pengalaman adalah nilai-nilai yang akan menjadi bekal di masa depan. Tidak ada hari ini kalau tidak ada hari kemarin. Tidak ada hari besok kalau tidak ada hari ini,” katanya.
Asep juga menilai, pembelajaran di sekolah perlu diperkuat dengan pengalaman tambahan, ruang kreativitas, dan media pembelajaran yang mendukung proses belajar siswa. Hal tersebut sejalan dengan penerapan pembelajaran mendalam yang mendorong pemahaman siswa terhadap materi secara lebih bermakna.
Ia berharap penguatan literasi dan numerasi di Kabupaten Bandung terus berkembang melalui kolaborasi antara sekolah, guru pendamping, pengawas, kepala sekolah, serta berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan.
Melalui Jambore Literasi 2026, para siswa diharapkan memperoleh bekal pengetahuan, keterampilan berpikir kritis, dan karakter yang kuat sebagai bagian dari persiapan menuju Indonesia Emas 2045.***Sopandi



















