Dejurnal.com, Bandung – Perjalanan hidup H. Uya Mulyana tidak bisa dilepaskan dari lingkungan pesantren dan dunia pendidikan. Tumbuh di tengah keluarga yang memiliki tradisi keagamaan kuat, membuat sosok kelahiran Bandung, 24 Januari 1967 ini akrab dengan kehidupan religius sejak masa kecil.
Lingkungan keluarga besarnya yang memiliki keterikatan dengan Pondok Pesantren Darul Ma’arif Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, turut membentuk karakter dan perjalanan pengabdiannya. Salah satu tokoh keluarga yang menjadi bagian dari lingkungan pesantren tersebut adalah KH. Sofyan Yahya.
Kedekatan dengan dunia pesantren kemudian menjadi fondasi bagi Uya dalam menapaki perjalanan panjang di bidang pendidikan, pemerintahan desa, organisasi kemasyarakatan, hingga politik.
Kiprahnya di dunia pendidikan dimulai pada 1989. Saat itu, Uya dipercaya menjadi Kepala Sekolah MTs Darul Ma’arif Rahayu hingga 1992. Semangat membangun pendidikan Islam terus berlanjut. Pada 1992–1994, ia merintis pendirian MI Darussalam di Kota Bandung, sekaligus menjabat sebagai pendiri dan kepala sekolah pada 1993–1995.
Setelah sempat berpindah ke Tangerang pada 1996, perjalanan pengabdiannya kembali berlanjut di Kabupaten Bandung. Pada 2002–2007, Uya dipercaya menjadi Kepala Desa Rahayu, Kecamatan Margaasih.
Pengalaman memimpin pemerintahan desa menjadi bekal penting dalam memahami persoalan masyarakat secara langsung. Dari lingkungan desa inilah, kiprahnya semakin meluas ke wilayah Kabupaten Bandung Barat.
Pada 2007, Uya mulai aktif di Kabupaten Bandung Barat dengan bergabung dalam tim pemenangan Abu Bakar. Ia kemudian dipercaya memimpin DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Bandung Barat periode 2008–2012.
Perhatian Uya terhadap dunia pendidikan dan keagamaan tidak pernah surut. Bersama KH. Adang atau yang dikenal dengan Abah Cipulus, ia turut menggagas Forum Silaturahmi Guru Ngaji Kabupaten Bandung Barat sebagai wadah komunikasi dan kebersamaan para guru ngaji.
Setelah itu, perjalanan organisasinya berlanjut ke Kabupaten Bandung. Pada 2013–2021, Uya menjabat sebagai Wakil Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Bandung, ketika H. Cucun Ahmad Syamsurijal memimpin partai tersebut.
Di tengah aktivitas organisasi dan politik, Uya tetap menaruh perhatian besar terhadap pengembangan lembaga pendidikan. Pada 2013, ia mendirikan SDIT Darul Ma’arif dan turut mengemban tugas sebagai kepala sekolah.
Kiprahnya di dunia politik juga membawanya menjadi bagian dari lembaga legislatif. Pada 2021, ia dipercaya menjadi Ketua Tim Harian Pemenangan pasangan H. Dadang Supriatna dan Sahrul Gunawan dalam kontestasi politik Kabupaten Bandung.
Sementara itu, perhatian terhadap nasib para guru ngaji semakin menguat ketika pada 22 Oktober 2019, bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional, Uya dipercaya memimpin Persatuan Guru Ngaji (PGN) Kabupaten Bandung.
Amanah tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan pengabdiannya. Baginya, guru ngaji memiliki peran strategis dalam membangun karakter masyarakat, khususnya dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan dan membentuk generasi berakhlak.
Melalui PGN, ia berupaya mendorong agar keberadaan guru ngaji tidak hanya dipandang sebagai pengajar ilmu agama, tetapi juga mendapatkan perhatian, perlindungan, serta pemberdayaan yang lebih baik.
Perjalanan pengabdian Uya kemudian semakin luas di lingkungan Nahdlatul Ulama. Sejak 2024 hingga sekarang, ia tercatat menjabat sebagai Ketua Tahfid DPCNU Kabupaten Bandung.
Pada tahun yang sama, Uya memutuskan keluar dari kepengurusan Partai Kebangkitan Bangsa. Langkah tersebut menandai babak baru dalam perjalanan aktivitasnya, dengan perhatian yang tetap diarahkan pada organisasi keagamaan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
Terbaru, pada April 2026, Uya dipercaya mengemban amanah sebagai Komisaris BPR Kerta Raharja.
Rentang perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana Uya Mulyana menapaki berbagai ruang pengabdian. Mulai dari pesantren, sekolah, pemerintahan desa, organisasi politik, hingga organisasi keagamaan dan dunia usaha.
Namun, benang merah dari perjalanan panjang itu tetap berawal dari lingkungan pesantren. Nilai-nilai pendidikan dan keagamaan yang tumbuh sejak kecil menjadi bagian penting dalam membentuk arah pengabdiannya.
Bagi Uya, membangun masyarakat tidak cukup hanya melalui pendidikan formal dan kebijakan pemerintahan. Penguatan kehidupan keagamaan serta perhatian terhadap para guru ngaji juga menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang berkarakter.***Sopandi


















