CIAMIS, deJurnal,- Setelah tersimpan selama hampir lima tahun, kumpulan puisi berjudul Antologi Badai akhirnya resmi diperkenalkan kepada publik.
Buku karya pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Ciamis K.H. Dr. Fadlil Yani Ainusyamsi, MBA., M.Ag yangbakrab disapa Ang Icep resmi diluncurkan melalui kegiatan bertajuk Tafakur dan Meditasi Puisi di Joglosono Pondok Pesantren Darussalam, Rabu (5/8/2026) malam.
Peluncuran buku tersebut menjadi lebih dari sekadar seremoni sastra. Di tengah suasana yang khidmat, sejumlah penyair, seniman, budayawan, santri, guru, hingga tokoh masyarakat berkumpul membacakan puisi-puisi yang lahir dari masa paling sulit saat pandemi Covid-19.
Ang Icep mengungkapkan, Antologi Badai merupakan kumpulan puisi yang ditulis sejak pandemi melanda pada 2020 hingga beberapa tahun berikutnya. Meski sebagian besar naskah telah selesai sejak 2021, buku itu baru diluncurkan tahun ini.
“Ini adalah kumpulan puisi yang saya tulis sejak awal pandemi. Puisinya memang lahir pada 2020, 2021 hingga 2022, tetapi baru sekarang kami melaksanakan launching-nya,” ujarnya.
Menurutnya, buku tersebut memuat hampir 80 puisi yang menggambarkan berbagai pergulatan batin masyarakat selama pandemi.
Tema yang diangkat tidak hanya tentang wabah, tetapi juga menyentuh persoalan ketahanan mental, kesabaran, ketabahan, kritik sosial, hingga refleksi kehidupan.
Ia menuturkan, melalui puisi-puisinya, pembaca diajak memahami bahwa setiap persoalan hidup tidak selalu layak dibebankan kepada orang lain.
“Jangan mudah menyalahkan orang lain. Banyak hal yang terjadi dalam hidup kita sesungguhnya merupakan konsekuensi dari sikap dan perilaku kita sendiri. Pesan seperti itu banyak hadir dalam puisi-puisi di buku ini,” katanya.
Ajak Generasi Muda Terus Berkarya
Salah satu bagian yang menjadi perhatian dalam Antologi Badai adalah puisi yang ditujukan kepada kalangan muda.
Ang Icep menilai pandemi sempat melemahkan ruang gerak generasi muda untuk berkarya. Namun kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan berhenti berkreasi.
“Pemuda adalah tiang bangsa. Pandemi memang membuat ruang gerak terbatas, tetapi semangat berkarya tidak boleh ikut terhenti. Saya ingin memberikan motivasi agar mereka tetap optimistis menghadapi masa depan,” ungkapnya.
Baginya, pandemi justru menjadi ujian yang mengajarkan ketangguhan. Mereka yang mampu bertahan diyakini akan menjadi pribadi yang lebih kuat menghadapi tantangan kehidupan.
Ditulis Manual, Bukan Mengandalkan Teknologi Digital
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Ang Icep mengaku tetap mempertahankan proses kreatif yang sederhana. Sebagian besar puisinya lahir dari tulisan tangannya sendiri.
Menurutnya, sentuhan rasa dalam sebuah karya tidak bisa sepenuhnya digantikan teknologi digital ataupun kecerdasan buatan.
“Kita boleh memanfaatkan teknologi untuk memancing ide, tetapi rasa dan kedalaman sebuah puisi tetap lahir dari pengalaman serta perenungan penulisnya sendiri,” ujarnya.
Ia pun mengajak para pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum agar tidak ragu menuangkan gagasan melalui karya tulis.
“Semua orang sebenarnya memiliki kemampuan berkarya. Yang terpenting adalah kemauan untuk memulai. Kami yang sudah tua saja masih terus semangat menulis,” katanya.
Segera Dipasarkan ke Toko Buku
Usai diluncurkan, Antologi Badai akan mulai dipasarkan melalui sejumlah toko buku dan jaringan distribusi yang selama ini bekerja sama dengan penulis.
Peluncuran pada 5 Agustus, kata Ang Icep, dipilih murni sesuai kesiapan penyelenggara dan tidak berkaitan dengan agenda lain hanya kebetulan bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-61
Noer JM: Puisi Menjadi Catatan Sejarah Pandemi
Seniman sekaligus budayawan Ciamis, Noer JM, menilai Antologi Badai menjadi dokumentasi sastra yang merekam perjalanan masyarakat melewati masa pandemi.
Menurutnya, karya tersebut bukan sekadar kumpulan puisi, tetapi hasil kontemplasi yang memadukan nilai sastra, spiritualitas, dan pengalaman hidup.
“Puisi-puisi dalam buku ini sarat tafakur dan perenungan. Isinya banyak merekam suasana pandemi, tetapi juga berbicara tentang cinta, kehidupan, dan harapan,” ujarnya.
Ia menyebut peluncuran buku tersebut layak diapresiasi karena menjadi bukti bahwa tradisi literasi di Ciamis masih terus hidup.
Pada malam peluncuran, sejumlah puisi dibacakan oleh para penyair, seniman, guru madrasah, serta sahabat dekat penulis.
Salah satu puisi yang dibawakan Kang Noer berjudul Takut, disampaikan dalam suasana yang penuh penghayatan.
Jang Noer berharap peluncuran Antologi Badai tidak berhenti sebagai seremoni penerbitan buku semata, melainkan menjadi pemantik lahirnya karya-karya sastra baru dari Ang Icep.
Konsistensi Ang Icep dalam menulis puisi perlu terus dijaga sebagai bagian dari ikhtiar merawat khazanah sastra daerah sekaligus memperkaya literasi di Kabupaten Ciamis.
Kang Noer menilai karya sastra memiliki peran penting sebagai dokumentasi perjalanan zaman. Puisi-puisi yang lahir dari pengalaman, kegelisahan, dan perenungan akan tetap relevan dibaca lintas generasi karena menyimpan jejak sejarah sekaligus nilai kemanusiaan.
“Saya berharap setelah Antologi Badai akan lahir antologi-antologi berikutnya. Ang Icep masih memiliki banyak gagasan dan pengalaman yang layak dituangkan menjadi karya sastra. Jangan berhenti di buku ini,” ujarnya.
Lebih jauh, ia juga mengajak generasi muda Ciamis untuk tidak ragu mulai menulis dan berkarya.
“Budaya literasi harus terus dirawat. Menulis bukan hanya soal menghasilkan buku, tetapi juga mendokumentasikan gagasan, merekam perjalanan zaman, dan meninggalkan jejak pemikiran bagi generasi berikutnya. Karya yang lahir dari pengalaman dan nurani akan selalu memiliki nilai yang tidak lekang oleh waktu,” pungkasnya. (Nay Sunarti)

















