Sosok dan Profil Dicky Zainal Arifin atau lebih dikenal dengan Kang Dicky ini adalah Guru Utama sekaligus pendiri Lembaga Seni Bela Diri Hikmatul Iman Indonesia yang sudah dipimpinnya selama 27 tahun.
Sejak bulan April 2016 lalu, LSBD HI sudah bertransformasi dalam wadah yang lebih global bernama Lanterha The Lemurian Meditation. Kang Dicky juga merupakan pembina dari Komunitas Kumara yang bergerak di bidang kesehatan menggunakan metoda Olah Nafas.
Saat ini, nama Kang Dicky makin dikenal oleh masyarakat Indonesia karena banyak hal. Pertama, karena komunitas yang dipimpinnya semakin membesar dan semakin dikenal di masyarakat. Kang Dicky dikenal sebagai guru silat, ahli pengobatan alternatif, dan inovator dari berbagai teknologi tepat guna. Sudah beberapa kali juga Kang Dicky tampil di layar televisi pada berbagai acara, mulai dari acara siraman rohani, pendidikan anak, kuliner, hingga pengenalan berbagai inovasinya di bidang energi ke masyarakat.
Kang Dicky adalah Suami dari Risti Aristia Finia dan ayah dari Pertala Maruta Mandraguna serta Reksa Gumarang Kencana. Beliau lahir di Bandung pada tanggal 22 Maret 1968.
Saat ia sekolah di tingkat dasar, Kang Dicky termasuk yang paling berani dan kritis. Ia sering bermasalah dengan guru. Ia berani tampil seorang diri mengajukan protes saat guru sekolahnya melakukan praktik yang menyimpang. Kala itu Kang Dicky menduga guru tersebut memakan uang siswa. Di SMP dia sering dikeluarkan saat pelajaran karena selalu terlibat adu argumen. Ia menggugat ketidaksesuaian informasi yang diberikan guru dengan buku bacaan yang dipelajarinya.
“Di SMU pun demikian, saya sempat berurusan dengan 3 guru. Saya langganan guru BP, karena sering terlibat debat dengan guru. Saat itu, pendidikan kita masih mengajarkan bahwa guru adalah sumber kebenaran dan segalanya, sehingga hanya patut digugu dan ditiru. Adu argumen menjadi sesuatu yang tidak lazim dilakukan dan dianggap melanggar,” jelasnya.
Karakteristik Kang Dicky ketika kecil ini dilakukan pula oleh anak sulungnya yaitu Kang Pertala. “Tak jarang saya dipanggil pengajarnya, bahkan ia sekarang pindah sekolah pun karena terlalu sering anak saya berurusan dengan guru. Ia berani protes bila ada yang tidak benar. Banyak referensi dari saya, tetapi berbeda dengan guru,” papar Kang Dicky.*** Ir FirmanSyah














