Dejurnal.com, Garut – Wilayah pesisir pantai Kabupaten Garut merupakan Kawasan Rawan Bencana (KRB) Tsunami berdsarkan Surat Keputusan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 431.K/GL.01/MEM.G/2025 yang ditetapkan dan mulai berlaku mulai berlaku tanggal 17 Desember 2025.
“Dengan terbitnya Kepmen ini, tentunya Pemerintah Kabupaten Garut, kini telah memiliki landasan hukum kuat, untuk menetapkan batas sempadan pantai, menentukan jalur evakuasi, hingga menyusun peta risiko yang lebih akurat. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun mulai memahami peta risiko di wilayah masing-masing demi keselamatan bersama,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Garut, H. Aah Anwar Saepulloh, S.Sos., ST., M.Si saat ditemui dejurnal.com diruang kerjanya, Rabu 12/1/2025).
Menurutnya, Pemda Kabupaten Garut melalui BPBD Kabupaten Garut, saat ini telah dan terus melakukan berbagai upaya mitigasi bencana megathrust secara aktif, dan berkelanjutan, khususnya di wilayah selatan Garut yang memiliki potensi gempa megathrust dan tsunami. Upaya mitigasi tersebut dilakukan melalui pendekatan struktural dan non-struktural dengan melibatkan kolaborasi lintas sektor, antara lain BMKG, akademisi, serta partisipasi aktif masyarakat”. Tegasnya.
“Berdasarkan skenario guncangan Gempa Megathrust Jawa Barat dari BMKG, bahwa potensi gempa dengan magnitudo hingga M 8,7, dapat terjadi dan menimbulkan tingkat guncangan VI–VII MMI. Wilayah yang berpotensi terdampak guncangan tersebut meliputi Kabupaten Pangandaran, Tasikmalaya, Garut, dan Ciamis. Untuk di Kabupaten Garut, potensi dampak guncangannya itu diperkirakan dapat dirasakan di sejumlah kecamatan yaitu antara lain Kecamatan Caringin, Cibalong, Mekarmukti, Pakenjeng, Pameungpeuk, Banjarwangi, Bungbulang, Cihurip, Cikajang, Cisewu, Cisompet, Pamulihan, Pendeuy, Singajaya, dan Talegong “. Ungkapnya.
Aah Anwar menyampaikan, sebagai-bagian dari langkah mitigasi, dan bahwa BPBD Kabupaten Garut telah memfasilitasi penyusunan Peta Bahaya Tsunami Wilayah Selatan Kabupaten Garut, yang digunakan sebagai dasar dalam perencanaan mitigasi bencana, penataan ruang wilayah pesisir termasuk penyusunan rencana evakuasi bahkan kesiapsiagaan masyarakat dan selain itu, BPBD Kabupaten Garut, juga telah aktif melaksanakan kegiatan sosialisasi dan edukasi kebencanaan, termasuk menjadi narasumber dudalam berbagai kegiatan di wilayah selatan Kabupaten Garut.

“Bahwa dengan adanya penetapan atas mitigasi zona bahaya, tentunya ini bukan untuk memicu hal kepanikan, melainkan sebagai acuan teknis Pemerintah Daerah dan masyarakat di dalam menata tata ruang, serta jalur evakuasi dan kami menghimbau kepada semua pihak agar tetap tenang, waspada dan bersiaga, meskipun saat ini belum terasa dampak.” ujarnya.
Terkait panduan keselamatan, Aah Anwar menjelaskan adanya beberapa panduan keselamatan berdasarkan zonasi, pertama, Kawasan Rawan Bencana (KRB) Tinggi Penataan ruang wajib memperhatikan potensi bahaya. Lahan sebaiknya tidak digunakan untuk aktivitas penduduk yang padat. Bangunan wajib memenuhi kaidah aman tsunami. Penyediaan jalur evakuasi yang memadai.
Kedua Kawasan Rawan Bencana (KRB) Menengah Diperlukan pembangunan tempat pengungsian sementara di daerah landai. Waspada terhadap kapal nelayan yang parkir tanpa terikat kuat karena bisa menjadi proyektil berbahaya saat gelombang datang.
Ketiga Kawasan Rawan Bencana (KRB) Rendah Meskipun diprediksi tinggi gelombang kurang dari satu meter, energi tsunami tetap besar dan mampu menghanyutkan orang. Bangunan permanen di zona ini disarankan menjadi lokasi pengungsian sementara.
“Ya, ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terkait risiko megathrust, kebijakan mitigasi bencana daerah, serta praktik penanggulangan bencana. Seluruh upaya tersebut, merupakan sebagai bentuk komitmen dari Pemerintah Daerah Kabupaten Garut melalui BPBD Kabupaten Garut, didalam membangun masyarakat wilayah selatan tangguh bencana, melalui peningkatan kapasitas masyarakat, pemanfaatan peta risiko, dan penguatan budaya sadar bencana, guna menghadapi berbagai hal potensi gempa megathrust dan tsunami,” Pungkasnya,***Yohaness














