CIAMIS, deJurnal,- Peringatan Hari Balita Nasional 2026 yang mengusung tema “Balita Sehat, Generasi Hebat: Cegah Stunting, Optimalkan Tumbuh Kembang” dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan stunting sejak dini.
Hal tersebut disampaikan dokter spesialis anak, Suherjati, yang akrab disapa “Oma Dokter”, dalam podcast yang digelar di RSUD Ciamis, Kamis (16/4/2026).
Ia menekankan bahwa edukasi berkelanjutan dan perubahan pola pikir masyarakat menjadi kunci utama dalam menekan angka stunting.
Dokter yang telah berpraktik lebih dari 30 tahun itu mengungkapkan, angka stunting di Kabupaten Ciamis saat ini masih berada di kisaran 20 persen.
Angka tersebut dinilai masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata Provinsi Jawa Barat yang berada di sekitar 15 persen.
“Dengan potensi yang dimiliki, seharusnya Ciamis bisa menekan angka stunting lebih rendah, bahkan di bawah 15 persen. Namun, kita masih menghadapi tantangan dari sisi budaya dan kebiasaan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Suherjati, salah satu persoalan utama yang masih dihadapi adalah rendahnya konsumsi protein hewani, khususnya pada ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia dini. Ia menyebut masih adanya persepsi keliru yang berkembang di masyarakat terkait konsumsi makanan bergizi.
“Masih ada yang bertanya apakah ibu menyusui boleh makan ikan. Padahal itu sangat penting. Informasi seperti itu tidak benar dan harus diluruskan,” tegasnya.
Ia menilai kondisi tersebut cukup ironis mengingat Kabupaten Ciamis memiliki potensi sumber pangan yang melimpah, mulai dari peternakan ayam hingga ketersediaan ikan yang mudah dijangkau masyarakat. Bahkan, banyak rumah tangga memiliki kolam ikan sendiri, namun tingkat konsumsi protein hewani masih belum optimal.
“Ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada ketersediaan pangan, tetapi pada pola konsumsi dan pemahaman masyarakat,” tambahnya.
Lebih lanjut, Suherjati menegaskan bahwa peran ibu sangat krusial dalam menentukan tumbuh kembang anak, terutama sejak masa kehamilan hingga menyusui. Ia menekankan pentingnya intervensi sejak dini dengan memastikan asupan nutrisi yang cukup dan seimbang, khususnya protein hewani.
Selain itu, peran keluarga, terutama ibu dan nenek, juga dinilai memiliki pengaruh besar dalam membentuk pola makan anak. Oleh karena itu, edukasi tidak hanya menyasar ibu muda, tetapi juga kelompok usia lanjut yang masih memegang kuat kepercayaan tradisional.
“Edukasi harus dilakukan secara terus-menerus dan menyentuh semua lapisan masyarakat, agar tidak ada lagi pemahaman yang keliru terkait gizi,” jelasnya.
Meski demikian, “Oma Dokter” tetap optimistis angka stunting di Ciamis dapat ditekan jika didukung kebijakan yang tepat serta upaya edukasi yang masif dan berkelanjutan.
“Indonesia memiliki sumber daya pangan yang melimpah. Tinggal bagaimana kita mengelola dan memberikan edukasi yang tepat kepada masyarakat,” pungkasnya. (Nay Sunarti)
















