Dejurnal.com, Bandung — Bupati Bandung, Dadang Supriatna kembali melanjutkan tradisi membagikan kain kafan kepada masyarakat pada malam Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah.
Tradisi ini, kata Dadang Supriatnq bukan sesuatu yang berbau mistis, melainkan bentuk pengingat bagi umat Islam akan hakikat kehidupan dan kematian.
“Pembagian kain kafan ini bukan mistis, melainkan wujud kepedulian sekaligus pengingat bahwa setiap manusia pada akhirnya akan menghadapi kematian. Hidup di dunia hanya sementara. Dengan mengingat kematian, kita diharapkan lebih giat beramal, berbakti kepada orang tua, serta menjaga kebersamaan,” ujarnya.
Pembagian kain kafan dilaksanakan di Dome Balerame Soreang, Jalan Raya Al Fathu, Kabupaten Bandung, Senin 15 Juli 2026 malam. Ribuan lembar kain kafan akan disalurkan kepada DKM masjid, pengurus RT dan RW, kepala desa, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.
Tradisi berbagi kain kafan tersebut telah dilakukan Dadang Supriatna sejak menjabat Kepala Desa Tegalluar. Sejak saat itu, ribuan lembar kain kafan dibagikan secara gratis kepada masyarakat setiap malam pergantian Tahun Baru Islam.
Ia berharap tradisi tersebut dapat menumbuhkan semangat hijrah, memperkuat keimanan, serta mempererat silaturahmi di tengah masyarakat.
“Kalau kita selalu ingat bahwa suatu saat akan dibungkus kain kafan, maka hidup akan lebih hati-hati dan penuh pertimbangan. Itulah pesan moral yang ingin disampaikan,” katanya.
Dadang Supriatna juga menceritakan latar belakang lahirnya tradisi tersebut. Menurutnya, gagasan membagikan kain kafan muncul saat dirinya bersama sang istri melayat ke rumah salah seorang warga yang meninggal dunia ketika masih menjabat kepala desa.
“Saat itu jenazah sudah cukup lama menunggu untuk dikafani. Ketika saya tanyakan kepada keluarganya, ternyata mereka masih berusaha mencari penjual kain kafan. Dari pengalaman itulah muncul keinginan untuk membagikan kain kafan kepada masyarakat setiap malam Tahun Baru Islam agar kebutuhan tersebut selalu tersedia saat diperlukan,” tuturnya.
Bupati Dadang Supriatna berharap melalui tradisi yang terus dipertahankan hingga kini, masyarakat dapat menjadikan momentum Tahun Baru Islam sebagai sarana introspeksi diri sekaligus memperkuat kesiapan spiritual dalam menjalani kehidupan.*** Sopandi
















