• Garut
  • Karawang
  • Purwakarta
  • Bandung
  • Ciamis
  • Cianjur
  • Subang
  • Sukabumi
  • indramayu
No Result
View All Result
  • Login
deJurnal.com
Senin, Juli 13, 2026
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel
No Result
View All Result
deJurnal.com
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel
No Result
View All Result
deJurnal.com
No Result
View All Result

in deNews

Yudha Puja Turnawan: Tidak Ada Anggaran Sekolah Rakyat di APBD Garut 2026, Pemkab Diminta Jujur kepada Masyarakat

bydejurnalcom
Senin, 8 Juni 2026
Reading Time: 4 mins read
Yudha Puja Turnawan: Tidak Ada Anggaran Sekolah Rakyat di APBD Garut 2026, Pemkab Diminta Jujur kepada Masyarakat
ShareTweetSend

Dejurnal.com, Garut – Anggota DPRD Kabupaten Garut Komisi IV, Yudha Puja Turnawan, menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Garut tidak memiliki alokasi anggaran untuk pembelian lahan program Sekolah Rakyat pada Tahun Anggaran 2026. Karena itu, ia meminta pemerintah daerah, khususnya Bupati Garut dan Dinas Sosial, untuk menyampaikan kondisi tersebut secara terbuka kepada masyarakat agar tidak menimbulkan harapan yang tidak realistis.

Pernyataan tersebut disampaikan Yudha saat diwawancarai awak media usai mengikuti audiensi bersama perwakilan Pemerintah Desa Sukakarya dan masyarakat Desa Sukakarya di ruang rapat Komisi II DPRD Kabupaten Garut, Senin (8/6/2026).

Menurut Yudha, audiensi yang dihadiri Komisi II dan Komisi IV DPRD Garut itu bertujuan untuk membahas kejelasan rencana pembelian lahan yang akan digunakan untuk pembangunan Sekolah Rakyat di Desa Sukakarya. Masyarakat yang hadir, khususnya para pemilik lahan, meminta kepastian terkait kelanjutan program tersebut.

BacaJuga :

Haflah Akhirussanah Ponpes Al-Qur’an Alqirom Asysyamsiah, Wabup” Jaga Semangat Belajar”

Wabup Sukabumi Ajak Petani Tingkatkan Kapasitas dan Penyesuaian Diri dengan Kebutuhan Dasar

Diikuti 750 Peserta Hilo Strong Festival Ajak Masyarakat “Nabung Otot” Guna Hindari Sarkopenia

Namun, Yudha menegaskan bahwa berdasarkan kondisi APBD Kabupaten Garut Tahun 2026, tidak tersedia anggaran untuk pembelian lahan yang dibutuhkan.

“Kepala daerah dan Dinas Sosial harus jujur kepada masyarakat bahwa dalam APBD Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2026 tidak ada alokasi dana untuk pembelian tanah Sekolah Rakyat,” tegasnya.

Anggaran Rp12 Miliar Tahun Sebelumnya Tidak Terserap
Yudha menjelaskan bahwa pada APBD Perubahan sebelumnya sebenarnya pernah dialokasikan anggaran sekitar Rp12 miliar untuk pembelian lahan Sekolah Rakyat.

Namun anggaran tersebut tidak dapat direalisasikan karena terjadi ketidaksepakatan antara pemerintah dengan sebagian pemilik lahan terkait nilai harga tanah hasil appraisal.

Menurutnya, pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan membeli tanah di atas nilai appraisal karena seluruh proses pengadaan tanah untuk kepentingan umum telah diatur secara ketat dalam regulasi.

Ia mengacu pada ketentuan PP Nomor 39 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum, yang mengharuskan proses pembelian tanah mengikuti hasil penilaian resmi.

“Kalau pemerintah membeli tanah di atas harga appraisal, itu bisa menjadi temuan dan berpotensi menimbulkan persoalan hukum. Karena itu pemerintah daerah tidak bisa sembarangan menentukan harga,” jelasnya.

Deadline Kemensos Akhir Juli 2026 Dinilai Mustahil Dipenuhi

Selain tidak tersedianya anggaran, Yudha juga menyoroti batas waktu yang diberikan Kementerian Sosial kepada Pemerintah Kabupaten Garut terkait program Sekolah Rakyat.

Ia mengungkapkan bahwa Kemensos menetapkan tenggat waktu hingga akhir Juli 2026 agar legalitas lahan sudah tuntas dan siap diserahkan kepada pemerintah pusat sebagai syarat pembangunan Sekolah Rakyat.

Legalitas tersebut mencakup proses pelepasan hak atas tanah oleh masyarakat hingga status kepemilikan lahan berubah menjadi aset pemerintah pusat.

Menurut Yudha, target tersebut sangat sulit dipenuhi mengingat pembahasan APBD Perubahan baru akan dilakukan pada September dan penetapannya sekitar Oktober 2026.

“Kalau deadline dari Kemensos akhir Juli, sementara pembahasan APBD Perubahan baru September, maka secara administrasi dan waktu sudah tidak mungkin terpenuhi,” katanya.

Karena itu ia menilai tidak realistis jika masih ada pihak yang berharap pembelian lahan dapat dilakukan pada tahun ini.

Warga Sukakarya Harus Mendapat Penjelasan yang Jelas

Dalam audiensi tersebut, Yudha mengaku telah menyampaikan secara terbuka kepada masyarakat Desa Sukakarya bahwa tidak ada alokasi dana pembelian lahan pada tahun 2026.

Ia berharap pemerintah daerah juga melakukan sosialisasi secara menyeluruh kepada warga agar tidak terjadi kesalahpahaman maupun ekspektasi yang berlebihan.

Menurutnya, keterbukaan informasi sangat penting agar masyarakat memahami kondisi sebenarnya dan tidak terus menunggu realisasi program yang secara anggaran maupun regulasi belum memungkinkan dilaksanakan.

“Jangan sampai masyarakat terus diberi harapan, padahal anggarannya memang tidak tersedia,” ujarnya.

Usulan Tukar Guling Dinilai Tidak Realistis

Menanggapi wacana tukar guling lahan yang sempat muncul sebagai alternatif solusi, Yudha menilai mekanisme tersebut membutuhkan proses panjang dan tidak mungkin diselesaikan dalam waktu singkat.

Selain harus melalui berbagai tahapan administratif dan legal, proses tukar guling juga memerlukan pengawasan ketat agar tidak menimbulkan persoalan hukum maupun temuan dari lembaga pengawas.

Dengan deadline Kemensos yang hanya tersisa beberapa minggu, ia menilai opsi tersebut tidak realistis untuk dikejar pada tahun ini.
Karena itu, Yudha menyarankan agar Pemerintah Kabupaten Garut melakukan komunikasi dengan Kementerian Sosial untuk membuka peluang pelaksanaan program Sekolah Rakyat pada tahun 2027.

Minta Pemkab Fokus pada Kebutuhan yang Lebih Mendesak

Lebih jauh, Yudha menilai kondisi fiskal Kabupaten Garut saat ini masih sangat terbatas sehingga pemerintah daerah perlu lebih selektif dalam menentukan prioritas pembangunan.
Menurutnya, masih banyak kebutuhan dasar masyarakat yang jauh lebih mendesak untuk ditangani dibanding memaksakan pembangunan Sekolah Rakyat.

Ia menyebut berbagai persoalan yang saat ini membutuhkan perhatian serius pemerintah daerah, antara lain:
Kerusakan drainase perkotaan yang menyebabkan banjir di berbagai wilayah.

Banyaknya jaringan irigasi yang rusak berat.

Normalisasi sungai yang belum optimal dalam beberapa tahun terakhir.

Ribuan ruang kelas SD dan SMP yang mengalami kerusakan berat.

Fasilitas sanitasi sekolah yang masih belum memadai.

Keterbatasan layanan kesehatan di rumah sakit daerah.

Kekurangan ruang NICU untuk penanganan bayi kritis.

Masih tingginya angka anak putus sekolah.

Menurut data yang ia sampaikan, terdapat sekitar 49 ribu anak putus sekolah di Kabupaten Garut. Sementara Sekolah Rakyat diperkirakan hanya mampu menampung sekitar seribu siswa.

“Kalau tujuan kita membantu anak-anak yang putus sekolah, akan lebih efektif jika pemerintah memperkuat program beasiswa dan bantuan pendidikan yang langsung menyasar masyarakat,” katanya.

Soroti Tingginya Angka Kematian Bayi di Garut

Yudha juga menyoroti sektor kesehatan yang menurutnya membutuhkan perhatian lebih besar dari pemerintah daerah.
Ia mengungkapkan bahwa Kabupaten Garut masih kekurangan sekitar 52 ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit), yaitu ruang perawatan khusus bagi bayi yang lahir dalam kondisi kritis.

Keterbatasan fasilitas tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tingginya angka kematian bayi di Kabupaten Garut.
Menurutnya, apabila pemerintah memiliki keterbatasan anggaran, maka pembangunan fasilitas kesehatan yang menyangkut keselamatan jiwa masyarakat seharusnya menjadi prioritas utama.

“Ketika ada bayi yang membutuhkan perawatan intensif, sering kali tidak tertangani secara optimal karena keterbatasan ruang NICU. Ini persoalan yang sangat mendesak dan harus menjadi perhatian pemerintah daerah,” ungkapnya.

Dorong Perencanaan yang Lebih Matang untuk Tahun 2027

Sebagai penutup, Yudha menegaskan bahwa dirinya tidak menolak keberadaan program Sekolah Rakyat. Namun ia menilai program tersebut harus direncanakan secara matang, baik dari sisi anggaran, kesiapan lahan, maupun kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.

Ia menyarankan agar Pemerintah Kabupaten Garut mulai mempersiapkan kebutuhan anggaran pembelian lahan sejak sekarang apabila memang ingin merealisasikan program tersebut pada tahun 2027.

Dengan perencanaan yang lebih baik, pemerintah dapat menghindari polemik di masyarakat sekaligus memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai aturan.

“Kalau memang Sekolah Rakyat akan dilaksanakan, siapkan dari sekarang untuk tahun 2027. Yang penting jangan memberikan harapan yang tidak sesuai dengan kondisi anggaran yang ada,” pungkasnya.***Willy

Ikuti Whatsapp Channel deJurnalcom
Previous Post

PWI Purwakarta Serahkan Apresiasi dan Dukungan kepada Kejaksaan Agung Melalui Kejari Purwakarta

Next Post

Guru PPPK yang Dipecat Mengaku Heran dengan Pengakuan Kepala SDN Sekarwangi

Related Posts

Peresmian Jembatan Gantung Prima Jantake, Bupati Sukabumi Dukung Akses Perekonomian Masyarakat
deNews

Peresmian Jembatan Gantung Prima Jantake, Bupati Sukabumi Dukung Akses Perekonomian Masyarakat

Senin, 13 Juli 2026
Pengukuhan Sekda, Bupati Sukabumi Tegaskan Kebijakan Kepegawaian Berdasarkan Sistem Merit, Kompetensi dan Kinerja
deNews

Pengukuhan Sekda, Bupati Sukabumi Tegaskan Kebijakan Kepegawaian Berdasarkan Sistem Merit, Kompetensi dan Kinerja

Senin, 13 Juli 2026
Program Berehan, Ikhtiar Perkuat ekonomi Daerah Melalui Pemberdayaan Peternak Lokal
deNews

Program Berehan, Ikhtiar Perkuat ekonomi Daerah Melalui Pemberdayaan Peternak Lokal

Minggu, 12 Juli 2026
deNews

Haflah Akhirussanah Ponpes Al-Qur’an Alqirom Asysyamsiah, Wabup” Jaga Semangat Belajar”

Minggu, 12 Juli 2026
deNews

Wabup Sukabumi Ajak Petani Tingkatkan Kapasitas dan Penyesuaian Diri dengan Kebutuhan Dasar

Minggu, 12 Juli 2026
Diikuti  750 Peserta Hilo Strong Festival Ajak  Masyarakat “Nabung Otot” Guna Hindari  Sarkopenia
deNews

Diikuti 750 Peserta Hilo Strong Festival Ajak Masyarakat “Nabung Otot” Guna Hindari Sarkopenia

Minggu, 12 Juli 2026

ADVERTISEMENT

DeepReport

Dana CSR Perusahaan Kandang Ayam Manggis Kepada Warga Jamali Belum Signifikan?

Minggu, 3 November 2019

FPPG Kecewa, Audiensi DPRD Terkait Zakat TPG Tak Dihadiri Disdik, Baznas dan BJB

Jumat, 21 Mei 2021

KabarDaerah

Foto : Kabupaten Ciamis meraih predikat "Sangat Baik" dalam Evaluasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) Tahun 2024

Meningkat, Kabupaten Ciamis Raih Predikat “Sangat Baik” Dalam Evaluasi SPBE Tahun 2024.

Sabtu, 4 Januari 2025

Dinilai APBD Perubahan 2020 Tidak Pro Rakyat, Fraksi Demokrat Walk Out Dari Sidang Paripurna DPRD Garut

Kamis, 1 Oktober 2020
Ketua Apdesi DPK Karangpawitan, Dedi Suryadi

Apdesi Karangpawitan : Pelemparan Isu Pasca Islah Terindikasi Mau Memeras

Sabtu, 5 November 2022

Menunggu Diresmikan, Ini Wajah Baru Alun-Alun Oto Iskandardinata Garut

Jumat, 21 Januari 2022

Mahasiswa PPG IPI Kolaborasi dengan Dispusipda Garut Cerdaskan Generasi di SDN 1 Sukamukti

Senin, 14 April 2025

Kapolda Jabar dan Pangdam III/Siliwangi Kunjungi Keluarga Korban Ledakan di Cibalong Garut

Selasa, 13 Mei 2025

deJurnal.com

© 2025 dejurnal.com. All Right Reserved

Patut Dibaca dan Perlu

  • dePrint
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Karir dan Peraturan Perusahaan Pers
  • Pasang Iklan

Ikuti

No Result
View All Result
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel

© 2025 dejurnal.com. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Tidak diperkenankan copy paste