CIAMIS, deJurnal,- Badan Promosi Pariwisata Daerah (BP2D) Kabupaten Ciamis membidik Upacara Adat Nyangku 2026 di Kecamatan Panjalu sebagai momentum untuk memperkuat konsep pariwisata terintegrasi.
Tradisi budaya yang sarat nilai sejarah tersebut diharapkan tidak hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga menggerakkan UMKM, ekonomi kreatif dan perekonomian masyarakat lokal.
Puncak Upacara Adat Nyangku 2026 dijadwalkan berlangsung pada Senin, 7 September 2026, bertepatan dengan 25 Rabiul Awal 1448 Hijriah, di Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis.
Prosesi utama dan arak-arakan pusaka dalam tradisi Nyangku berpusat di kawasan Alun-alun Borosngora atau Alun-alun Panjalu dan berkaitan erat dengan kawasan Situ Lengkong.
Kehadiran dua kawasan tersebut menjadi bagian dari potensi yang dapat dikembangkan dalam satu perjalanan wisata berbasis budaya dan alam.
Ketua BP2D Kabupaten Ciamis, Drs. H. Endang Haris Juandana, MM, mengatakan Nyangku memiliki kekuatan budaya yang dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan berbagai potensi wisata Panjalu.
“Nyangku 2026 kami tempatkan sebagai bagian dari konsep pariwisata terintegrasi Kabupaten Ciamis. Artinya, Nyangku tidak hanya dilihat sebagai kegiatan budaya tahunan, tetapi sebagai pintu masuk untuk mengintegrasikan wisata budaya, wisata alam Situ Lengkong, UMKM, ekonomi kreatif, kuliner, transportasi, promosi dan keterlibatan masyarakat lokal,” ujar Endang Jumat (04/09/2026)
Menurutnya, konsep tersebut bukan semata-mata mengejar jumlah kunjungan. BP2D ingin wisatawan mendapatkan pengalaman yang lebih lengkap ketika datang ke Panjalu.
Wisatawan yang menyaksikan Nyangku dapat mengenal sejarah dan budaya Panjalu, kemudian menikmati potensi alam Situ Lengkong, mencicipi kuliner lokal, membeli produk UMKM, melihat kerajinan hingga mengenal berbagai aktivitas ekonomi kreatif masyarakat.
Nyangku dan Jejak Sejarah Panjalu
Nyangku merupakan upacara adat yang diwariskan masyarakat Panjalu dan memiliki nilai sejarah serta filosofi yang kuat.
Salah satu inti tradisinya adalah pembersihan atau penyucian benda-benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora dan para leluhur Panjalu.
Sejumlah pusaka yang menjadi bagian dari tradisi tersebut antara lain Pedang Zulfikar, Keris Pancaworo, Bangreng, Cis atau keris kecil, serta Keris Komando. Benda-benda pusaka tersebut disimpan di Museum Pasucian Bumi Alit.
Dalam rangkaian prosesi, pusaka diarak dari Bumi Alit menuju kawasan Alun-alun Panjalu. Selanjutnya, pusaka menjalani prosesi pencucian menggunakan air yang berasal dari sembilan mata air yang memiliki nilai sakral bagi masyarakat setempat.
Tradisi tersebut menjadi salah satu kekuatan budaya Panjalu yang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Endang menegaskan bahwa pengembangan Nyangku sebagai daya tarik wisata tidak boleh menggeser nilai sakral dan makna budaya yang diwariskan masyarakat.
Budaya Tetap Menjadi Ruh
Lebih lanjut Endang mengatakan, pengembangan pariwisata melalui Nyangku harus tetap menjadikan budaya sebagai fondasi.
“Prinsip kami adalah budaya sebagai ruh, pariwisata sebagai penguat dan masyarakat sebagai pelaku utama,” katanya.
Menurutnya, yang dipromosikan bukan komersialisasi kesakralan Nyangku, tetapi nilai sejarah, filosofi, kearifan lokal dan pengalaman budaya yang terkandung di dalamnya.
Karena itu, pelibatan tokoh adat, sesepuh, pemerintah desa, masyarakat lokal serta pemangku kepentingan lainnya menjadi bagian penting dalam pengembangan wisata berbasis budaya.
Dengan semakin luasnya pengenalan terhadap Nyangku, BP2D berharap perhatian terhadap pelestarian tradisi juga semakin kuat, khususnya di kalangan generasi muda.
Nyangku Didorong Gerakkan UMKM
Endang menuturkan konsep pariwisata terintegrasi yang disiapkan BP2D juga diarahkan untuk memperbesar dampak ekonomi bagi masyarakat Panjalu.
Wisatawan yang datang diharapkan tidak hanya berhenti di lokasi pelaksanaan prosesi Nyangku.
“Kami ingin memastikan kunjungan wisatawan menghasilkan perputaran ekonomi di masyarakat. Jadi wisatawan tidak hanya datang, melihat prosesi Nyangku, kemudian pulang,” tuturnya.
Rantai ekonomi tersebut dapat terhubung dengan UMKM, kuliner khas Panjalu, kerajinan, oleh-oleh, ekonomi kreatif, homestay, jasa transportasi hingga pemandu wisata.
Dengan demikian, manfaat ekonomi dari meningkatnya kunjungan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Nyangku juga menjadi ruang promosi bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk lokal kepada wisatawan dari luar daerah.
Situ Lengkong Jadi Bagian dari Ekosistem Wisata
Potensi wisata Panjalu tidak hanya terletak pada tradisi Nyangku. Situ Lengkong menjadi salah satu daya tarik alam yang dapat dipadukan dalam konsep perjalanan wisata.
Integrasi antara wisata budaya dan alam diharapkan dapat memperpanjang aktivitas wisatawan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar destinasi.
Namun, peningkatan kunjungan harus tetap dibarengi dengan perhatian terhadap lingkungan.
Situ Lengkong dipandang sebagai aset ekologis sekaligus daya tarik wisata yang perlu dijaga. Pengelolaan sampah, pengurangan sampah plastik, pengaturan pergerakan wisatawan dan edukasi kepada pengunjung menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan pariwisata.
“Situ Lengkong tidak boleh hanya dipandang sebagai lokasi kegiatan, tetapi sebagai aset ekologis dan daya tarik wisata Panjalu yang harus dijaga keberlanjutannya,” kata Endang.
Makna Nyangku sendiri juga berkaitan dengan nilai pengingat bagi manusia untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta menghargai jasa para leluhur. Nilai tersebut dinilai selaras dengan upaya membangun pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan, tetapi juga keberlanjutan.
Targetnya Bukan Sekadar Ramai Saat Nyangku
BP2D ingin pelaksanaan Nyangku 2026 memberikan dampak yang tetap terasa setelah rangkaian kegiatan berakhir.
Keberhasilan pengembangan pariwisata tidak hanya akan diukur dari jumlah wisatawan. BP2D juga melihat kualitas kunjungan, lama tinggal wisatawan, keterlibatan masyarakat dan pelaku ekonomi kreatif, transaksi ekonomi lokal, jangkauan promosi, kepuasan wisatawan serta keberlanjutan destinasi.
“Yang ingin kami bangun pada Nyangku 2026 adalah integrasi. Nyangku tidak berdiri sendiri sebagai sebuah event. Kita ingin menghubungkan Nyangku, Situ Lengkong, desa wisata, UMKM, ekonomi kreatif, kuliner, seni budaya, transportasi, promosi digital dan masyarakat lokal menjadi satu ekosistem pariwisata,” ujar Endang.
Menurutnya, konsep tersebut diharapkan dapat menjadi model pengelolaan pariwisata budaya yang terus berkembang setelah event selesai.
“Legacy yang ingin kami tinggalkan bukan hanya dokumentasi atau jumlah kunjungan, tetapi peningkatan kapasitas masyarakat, UMKM yang semakin berkembang, destinasi yang semakin dikenal, lingkungan yang tetap terjaga dan generasi muda yang semakin bangga terhadap budaya Panjalu,” pungkasnya. (Nay Sunarti)

















