Dejurnal.com, Bandung – Bahasa dan budaya Sunda bukan sekadar warisan leluhur yang harus dipelihara, tetapi juga merupakan modal sosial dan modal karakter bagi generasi muda dalam menghadapi perubahan zaman.
Hal tersebut ditegaskan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, Asep Kusumah, usai membuka Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) jenjang SMP Kabupaten Bandung di SMPN 1 Margahayu, Senin (21/9/2026).
Menurut Asep, FTBI menjadi salah satu wadah untuk memberikan pengalaman belajar kepada anak-anak agar lebih mengenal, mencintai, sekaligus memiliki kebanggaan terhadap bahasa dan budaya Sunda.
Dalam festival tersebut, kemampuan siswa tidak hanya diuji dari sisi pengetahuan bahasa, tetapi juga kreativitas dan keterampilan dalam menggunakan bahasa Sunda.
Ada tujuh mata lomba yang dipertandingkan dalam FTBI, yakni biantara, mengarang carpon, nembang pupuh, borangan atau ngabodor sorangan, mendongeng, membaca sajak, serta membaca dan menulis aksara Sunda.
Ketujuh perlombaan tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk mengekspresikan kemampuan dalam bidang bahasa, sastra, dan seni tradisi Sunda.
Asep mengatakan, dari berbagai karya yang dihasilkan anak-anak, termasuk cerita pendek atau carpon dan karya sastra Sunda lainnya, terdapat nilai-nilai budaya yang dapat dijadikan bahan pembelajaran.
“Kekayaan budaya nasional itu ditopang dan dibangun oleh kekayaan budaya daerah. Ketika anak-anak mengenal dan menjaga jati dirinya, tentu ini menjadi modal sosial dan modal karakter yang akan mewarnai perjalanan anak-anak kita,” kata Asep.
Menurut Asep, dalam bahasa ibu dan budaya ibu terdapat nilai-nilai kehidupan yang luhur, termasuk nilai budi pekerti.
Karena itu, pembelajaran bahasa dan budaya Sunda di sekolah diharapkan tidak hanya membuat anak-anak mampu berbicara atau menulis dalam bahasa Sunda, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
“Semoga ini menjadi pengalaman belajar yang besar nilainya bagi anak-anak kita,” ujarnya.
Asep juga memberikan apresiasi terhadap upaya para guru yang selama ini terus membimbing dan melatih siswa. Menurutnya, prestasi yang diraih siswa Kabupaten Bandung dalam berbagai perlombaan bahasa dan budaya Sunda tentu tidak terlepas dari peran sekolah.
Terutama, kata Asep, peran kepala sekolah, guru bahasa Sunda, serta Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Sunda yang terus mendampingi dan membimbing anak-anak.
“Kami mengapresiasi bagaimana satuan pendidikan, para kepala sekolah, para guru, terutama guru bahasa Sunda, MGMP Bahasa Sunda, yang terus mendampingi anak-anak kita untuk menggali potensi mereka,” tuturnya.
Tiga Muatan Lokal
Asep menjelaskan, perhatian terhadap budaya Sunda juga sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Bandung dalam memperkuat karakter siswa melalui muatan lokal.
Di Kabupaten Bandung, terdapat tiga muatan lokal yang ditekankan, yakni Pendidikan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, belajar mengaji dan menghafal Alquran, serta belajar bahasa dan budaya Sunda.
“Ini salah satu kekuatan kita dalam mengembangkan karakter melalui pendekatan budaya Sunda,” kata Asep.
Karena itu, FTBI bukan sekadar ajang perlombaan untuk mencari juara. Lebih dari itu, festival ini menjadi bagian dari upaya menghidupkan bahasa Sunda di lingkungan generasi muda.
Siswa diajak membaca sajak, mendongeng, mengarang carpon, nembang pupuh, berpidato, membaca dan menulis aksara Sunda, hingga ngabodor sorangan. Dalam setiap perlombaan, bahasa dan budaya Sunda terus digunakan, dilatih, sekaligus diwariskan.
Asep juga berharap media dapat ikut menyebarluaskan informasi mengenai pentingnya menjaga bahasa dan budaya Sunda.
Sebab, menurutnya, bahasa dan budaya Sunda bagi masyarakat Kabupaten Bandung bukan sekadar identitas, tetapi juga modal sosial yang dapat memperkuat jati diri dan karakter anak-anak dalam menjalani kehidupannya.
Jika bahasa ibu tetap hidup dalam lisan anak-anak, budaya akan terus diwariskan. Dari sanalah nilai-nilai leluhur tidak berhenti hanya menjadi cerita, tetapi tetap hidup dalam kehidupan generasi sekarang dan generasi yang akan datang.***Sopandi



















