Dejurnal.com, CIAMIS. Di balik aktivitas belajar di SMK Hepweti Ciamis, tersimpan beragam cerita perjuangan para siswa.
Tidak semuanya tumbuh dalam keluarga dengan kondisi ekonomi yang cukup. Sebagian bahkan harus menghadapi persoalan keluarga sejak usia sekolah.
Meski begitu, mereka tetap memilih melanjutkan pendidikan. Salah satunya Kamilla. Salah satu siswi yang harus menjalani kehidupan setelah ibunya meninggal dunia dan ayahnya menikah kembali.
Dalam situasi tersebut, Kamilla berusaha mandiri dan tetap mempertahankan sekolahnya.
Cerita serupa datang dari siswa lain yang berasal dari berbagai daerah, mulai dari Tambaksari, Rancah, Lakbok, Cikoneng, Panawangan hingga Cikampek.
Ada yang tinggal bersama nenek, ada yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, dan ada pula yang membutuhkan tempat tinggal agar tetap bisa bersekolah.
Kondisi tersebut menjadi perhatian SMK Hepweti Ciamis. Sekolah membuka akses pendidikan tanpa pungutan biaya sekaligus menyediakan asrama bagi siswa yang membutuhkan.
Kepala SMK Hepweti Ciamis, Hari Raka Septian, menyebut jumlah siswa saat ini sekitar 256 orang. Mereka terdiri dari lima rombongan belajar kelas X, empat rombongan belajar kelas XI, serta rombongan belajar kelas XII.
Menurut Hari, sekolah secara aktif mencari anak-anak yang berpotensi tidak melanjutkan pendidikan.
“Kami melakukan penjaringan ke SMP dan MTs. Kami mencari anak-anak yang berpotensi tidak melanjutkan sekolah, termasuk yang sudah satu atau dua tahun tidak bersekolah,” kata Hari.
Guru-guru kemudian mendatangi rumah calon siswa. Melalui kunjungan tersebut, pihak sekolah berdiskusi dengan keluarga dan mendorong agar anak tetap mendapatkan kesempatan belajar.
Bahkan, kata Hari, ada calon siswa yang meminta pihak sekolah datang ke rumah untuk membantu meyakinkan orang tuanya agar memberikan izin melanjutkan pendidikan.
Pendidikan Gratis, Asrama Juga Disediakan
SMK Hepweti tidak memungut biaya pendidikan dari siswa. Bagi mereka yang terkendala tempat tinggal, sekolah juga menyediakan asrama tanpa biaya.
“Seratus persen gratis. Kami tidak memungut biaya,” tegas Hari.
Saat ini, sekitar 70 siswa tinggal di asrama yang disediakan sekolah. Mereka berasal dari berbagai daerah, termasuk wilayah di luar Kabupaten Ciamis.
Keberadaan asrama menjadi solusi bagi siswa yang tidak memungkinkan pulang-pergi setiap hari. Mereka dapat tinggal di lingkungan sekolah tanpa harus menanggung biaya kos maupun transportasi harian.
Kebutuhan siswa di asrama juga diupayakan melalui dukungan berbagai pihak. Selain pembiayaan operasional sekolah dari pemerintah, bantuan datang dari alumni dan masyarakat yang ikut peduli terhadap keberlangsungan pendidikan para siswa.
Membentuk Karakter di Lingkungan Asrama
Kehidupan di asrama tidak hanya diisi dengan kegiatan akademik. Para siswa juga dibiasakan menjalankan kegiatan keagamaan dan membangun kedisiplinan.
Hari mengatakan siswa dibiasakan melaksanakan salat lima waktu secara berjamaah di masjid sekolah. Menjelang magrib hingga setelah isya, mereka mengikuti kegiatan mengaji dan pembinaan keagamaan.
“Kegiatan anak-anak tetap berjalan sampai setelah isya,” ujarnya.
Menurut Hari, pembiasaan tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah membentuk lulusan yang tidak hanya memiliki keterampilan, tetapi juga berakhlak dan memiliki integritas.
Sekolah menargetkan lulusannya mampu melanjutkan ke dunia kerja maupun dunia usaha dan industri dengan bekal keterampilan yang diperoleh selama belajar.
Mereka Datang Membawa Cerita Masing-masing
Kamilla bukan satu-satunya siswa yang menjalani perjuangan tersebut.
Ada Hana dari Rancah, Murla dan Kayla dari Lakbok, Mimin dari Cikoneng, serta Dilla dari Panawangan. Mereka memiliki latar belakang berbeda, tetapi sama-sama berusaha mempertahankan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan.
Bagi sebagian siswa, sekolah gratis menjadi kesempatan yang sulit mereka dapatkan jika harus menanggung biaya pendidikan sendiri.
Sementara bagi siswa yang tinggal di asrama, fasilitas tersebut membuat mereka tetap bisa belajar meski berasal dari daerah jauh.
Hari berharap semakin banyak anak di Kabupaten Ciamis menyadari pentingnya pendidikan dan tidak berhenti sekolah hanya karena persoalan biaya.
“Harapannya, semakin banyak anak yang sadar pentingnya pendidikan dan bisa melanjutkan sekolah tanpa terkendala biaya,” katanya.
Dukungan untuk siswa juga datang dari para alumni juga komunitas. Salah satunya komunitas alumni SMPN 1 Ciamis yang sering memberikan bantuan kebutuhan pangan bagi penghuni asrama.
Bagi siswa yang tinggal di sana, bantuan tersebut bukan sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dukungan itu turut membuat mereka merasa tidak berjalan sendirian dalam menyelesaikan pendidikan.
Di SMK Hepweti Ciamis, ruang belajar akhirnya menjadi tempat bertemunya berbagai cerita kehidupan.
Ada siswa yang kehilangan orang tua, ada yang hidup bersama nenek, ada yang terbentur ekonomi, dan ada pula yang harus meninggalkan daerah asal untuk mengejar pendidikan. Namun mereka tetap datang ke sekolah.
Seragam yang dikenakan setiap hari menjadi penanda bahwa di tengah persoalan yang mereka hadapi, masih ada kesempatan untuk belajar, memiliki keterampilan, dan mempersiapkan diri menuju kehidupan yang lebih mandiri. (Nay Sunarti)
















