Dejurnal.com, Bandung – Setiap tanggal 8 Oktober, ada peringatan mengenai satu profesi yang pernah jadi bagian dari kehirupan masarakat, yaitu Hari Loper Koran atau hari Pangabtar Koran.
Tanggal ini dikaitkan dengan Barney Flaherty, anak berusia 10 tahun yang tercatat jadi loper koran prtama di New York City, Amérika Serikat, di tahun 1833. Dengan semanget, ia mengantarkan koran ke para palanggan, yang menanti informasi saat itu.
Dulu, sebelum dunia digital berkembang seperti sekarang, loper koran mempunyai peran penting dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Pagi-pagi para loper koran sudah berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya sambil membawa koran dengan isi berbagai berita.
Suara teriakan khasnya yang terdengar dari pinggir jalan atau depan rumah menjadi pertanda bagi pelanggan bahwa pagi itu berita yang ditunggu telah datang. “Koran… koran…!” Ada juga yang berteriak, “Koran pagi, koran pagi!”
Sekarang, di jaman téknologi digital yang makin pesat, profesi loper koran menghadapi tangtangan besar. Jumlah pembaca koran cetak makin berkurang, tersaingi oleh informasi yang bisa diaksés léwat telepon pinter.
Meski demikian, loper koran bukan sekedar pengantar bacaan. Mereka pernah jadi bagian dari sejarah tersebarnya informasi, sekaligus saksi perubahan jaman.
Bisa jadi sekarang kita susah jarang mendengar lagi suara yeriakanb“Koran… koran…!” di pinggir jalan. Tapi suara itu tidak hilang dari ingatan orang-orang yang pernah mengalami masanya.
Loper koran bisa saja tinggal kenangan, tapi jasanya tetap perlu mendapat apresiasi.***Sopandi

















