Dejurnal.com, CIAMIS. Melihat semangat generasi muda yang berkumpul untuk mengembangkan kegiatan berbasis masjid, Ketua DPRD Kabupaten Ciamis, Nanang Permana, teringat perjalanan masa mudanya.
Ia mengaku dahulu juga menjadi bagian dari lingkungan kemasjidan dan aktif dalam berbagai kegiatan kepengurusan masjid.
Pengalaman tersebut disampaikannya saat membuka kegiatan Masjidpreneur Muda, pelatihan digital entrepreneurship dan affiliate marketing berbasis masjid yang diselenggarakan Pengurus Cabang (PC) Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kecamatan Ciamis di Gedung Asrama Haji K.H. Umar An Nawawie Islamic Center Ciamis, Sabtu (31/10/2026).
Di hadapan sekitar 85 peserta dari Kabupaten Ciamis dan sejumlah daerah luar Ciamis, Nanang mengapresiasi inisiatif yang melibatkan generasi muda dalam memakmurkan masjid melalui pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Baginya, keterlibatan anak muda dalam kegiatan kemasjidan merupakan hal penting. Masjid membutuhkan generasi penerus yang tidak hanya aktif dalam kegiatan ibadah, tetapi juga memiliki kepedulian untuk mengurus, mengembangkan, dan menghidupkan berbagai aktivitas yang memberikan manfaat bagi jamaah.
Nanang mengaku pernah merasakan pengalaman serupa ketika masih muda. Karena itu, ia berharap semangat para peserta tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi berlanjut menjadi keterlibatan nyata dalam memajukan masjid.
“Saya bangga dan mendukung kegiatan ini. Masjid harus bergerak ke wilayah sosial dan ekonomi sebagai wujud keberkahan dari ibadah. Potensi masjid di Kabupaten Ciamis sangat besar untuk menjadi pusat pembinaan umat,” ujarnya.
Menurut Nanang, keberadaan ribuan masjid di Kabupaten Ciamis merupakan potensi besar yang dapat dikembangkan sebagai pusat pembinaan sosial dan ekonomi masyarakat.
Jika setiap masjid mampu menggerakkan kegiatan produktif dengan melibatkan generasi muda, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh jamaah, tetapi juga masyarakat di sekitarnya.
Ekonomi Boleh Berkembang, Akidah Tetap Utama
Meski mendorong masjid mengambil peran dalam pemberdayaan ekonomi, Nanang mengingatkan agar aktivitas tersebut tidak menggeser tujuan utama masjid sebagai tempat memperkuat keimanan dan ketakwaan.
Ia menegaskan, keberhasilan ekonomi harus ditempatkan sebagai bagian dari ikhtiar, bukan tujuan akhir yang membuat seseorang melupakan nilai-nilai ibadah.
“Ekonomi itu bonus, bukan tujuan. Yang utama adalah meluruskan akidah dan tauhid. Jangan sampai keberhasilan ekonomi justru melahirkan penyakit hati seperti merasa paling berjasa atau menjadikan uang sebagai tujuan hidup,” tegasnya.
Nanang berharap generasi muda mampu memadukan semangat berwirausaha dengan penguatan karakter dan spiritualitas. Dengan demikian, aktivitas ekonomi yang tumbuh dari masjid tetap memiliki orientasi pada kemaslahatan umat.
Masjidpreneur Muda Buka Peluang Usaha Digital
Kegiatan Masjidpreneur Muda berlangsung selama dua hari, Sabtu–Minggu (31 Oktober–1 November 2026), dengan materi digital entrepreneurship dan affiliate marketing.
Sekitar 85 peserta dari Ciamis dan luar daerah mengikuti pelatihan tersebut. Mereka dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk memanfaatkan platform digital sebagai sarana membangun usaha, mengembangkan pemasaran, serta menghasilkan konten kreatif.
Ketua PD DMI Kabupaten Ciamis, Drs. H. Syarif Hidayat, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mewujudkan visi DMI untuk memakmurkan dan dimakmurkan masjid.
Menurutnya, masjid sejak zaman Rasulullah SAW tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat kehidupan sosial dan ekonomi umat.
Melalui program ini, DMI ingin mendorong lahirnya wirausaha baru berbasis masjid, membangun kemandirian ekonomi, serta mengembangkan konten kreatif untuk mendukung kegiatan dakwah.
“Kami berharap setelah pelatihan ini peserta langsung mempraktikkan ilmu yang diperoleh sehingga mampu menghasilkan karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Masjid berdaya, pemuda berdaya, ekonomi kita pun ikut berdaya,” katanya.
Sementara itu, Ketua PC DMI Kecamatan Ciamis, H. Nizar Muhammad Fasya, mengatakan pelatihan tersebut menjadi ikhtiar menghadirkan masjid sebagai pusat pembinaan generasi muda sekaligus pemberdayaan ekonomi umat.
Ia berharap peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga mampu membangun keterampilan dan jejaring kolaborasi untuk mengembangkan usaha digital yang tetap berlandaskan nilai-nilai Islam.
“Kami ingin peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan niat untuk memanfaatkan peluang ekonomi digital melalui pembentukan tim kreatif yang tetap berlandaskan nilai-nilai Islam,” ujarnya.
Nizar berharap Masjidpreneur Muda menjadi awal terbentuknya jejaring entrepreneur muda berbasis masjid yang dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi bagi kemandirian ekonomi masyarakat. (Nay Sunarti)




















