Dejurnal.com, Garut – Pemerintah Kabupaten Garut mulai merancang arah pengembangan city branding dan village branding sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas daerah sekaligus mendorong potensi pariwisata. Langkah awal tersebut dilakukan melalui kegiatan sharing session dan lokakarya edukasi tentang city branding dan village branding yang berlangsung di Aula Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Garut, Rabu (28/10/2026).
Wakil Bupati Garut, drg. Hj. Luthfianisa Putri Karlina, M.BA., mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang belajar dan berdiskusi untuk merumuskan konsep branding daerah yang sesuai dengan karakter, potensi, serta cita-cita pembangunan Kabupaten Garut.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Garut sengaja menghadirkan rekan sekaligus senior dari Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai strategi membangun identitas daerah. Pertemuan itu juga melibatkan komunitas serta sejumlah perwakilan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang diharapkan menjadi bagian dari penggerak pelaksanaan program.
“Teman saya yang merupakan senior dari UGM saya undang untuk bertemu dengan teman-teman komunitas dan SKPD. Kami membicarakan arah branding Kabupaten Garut. Saat ini semuanya masih dalam tahap perancangan. Kita belajar dan memahami terlebih dahulu sebelum menyusun konsepsi yang nantinya akan dilaksanakan,” ujar Putri Karlina seusai kegiatan.
Memperjelas Identitas dan Arah Masa Depan Garut
Wabup Putri menjelaskan, membangun city branding bukan sekadar membuat slogan, logo, atau identitas visual yang menarik. Lebih dari itu, branding harus berangkat dari pemahaman mengenai jati diri daerah dan tujuan yang ingin dicapai dalam jangka panjang.
Menurutnya, sebuah daerah perlu memiliki gambaran yang jelas tentang masa depannya. Kabupaten Garut harus menentukan karakter dan posisi yang ingin dibangun sehingga setiap program pembangunan dapat berjalan searah dengan identitas yang telah dirumuskan.
Ia mengibaratkan proses tersebut seperti seseorang yang memiliki cita-cita. Sebelum menentukan langkah untuk meraih keberhasilan, seseorang harus mengetahui terlebih dahulu ingin menjadi apa. Hal serupa berlaku bagi sebuah kabupaten dalam menentukan arah pembangunan dan keunggulan daerahnya.
“Kalau kita sebagai manusia punya cita-cita ingin menjadi apa, sebuah daerah juga harus menentukan ingin menjadi kabupaten seperti apa. Sekarang ini kita masih perlu memantapkan arah tersebut. Karena itu, kita kumpulkan para pihak untuk belajar dan menyamakan pemahaman,” tuturnya.
Melalui proses tersebut, Pemkab Garut berharap terbentuk konsepsi branding yang tidak hanya menarik secara komunikasi, tetapi juga memiliki dasar yang kuat dalam menggambarkan potensi dan keunikan daerah.
Pariwisata Menjadi Salah Satu Arah Pengembangan
Dalam proses perumusan tersebut, sektor pariwisata menjadi salah satu arah yang tengah dibahas. Garut memiliki berbagai potensi wisata alam, budaya, dan ekonomi kreatif yang dapat dikembangkan untuk memperkuat daya tarik daerah.
Putri Karlina menyebut Banyuwangi dan Yogyakarta sebagai contoh daerah yang dapat dipelajari dalam membangun identitas wilayah, terutama berkaitan dengan pengembangan pariwisata.
Namun, menurutnya, keinginan untuk membangun Garut sebagai kabupaten pariwisata perlu diikuti dengan pemahaman mengenai unsur-unsur yang harus disiapkan. Branding tidak akan berjalan optimal jika hanya mengandalkan promosi, sementara para pelaku dan sektor pendukungnya belum bergerak secara terarah.
Karena itu, pemerintah mulai menghimpun pihak-pihak yang dinilai memiliki peran penting sebagai penggerak. Mereka diharapkan dapat membangun kesamaan visi, mengidentifikasi potensi unggulan, serta menyusun langkah nyata untuk mendukung pengembangan pariwisata Garut.
“Kalau kita ingin menjadi kabupaten pariwisata, tentu harus memahami apa saja yang dibutuhkan dan siapa yang menjadi penggeraknya. Karena itu, sekarang kita mengumpulkan para penggerak terlebih dahulu,” jelasnya.
Pendekatan tersebut menempatkan branding sebagai bagian dari strategi pembangunan daerah yang perlu melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah, komunitas, pelaku usaha, hingga masyarakat di tingkat desa.
Utamakan Langkah Kecil, Konsisten, dan Berkelanjutan
Salah satu pesan utama yang disampaikan Putri Karlina dalam kegiatan tersebut adalah pentingnya memulai dari langkah-langkah kecil yang dapat dilaksanakan secara konsisten.
Menurutnya, program yang dirancang besar-besaran belum tentu memberikan hasil maksimal apabila hanya dilakukan sekali tanpa keberlanjutan. Sebaliknya, langkah sederhana yang dilakukan secara rutin dan terarah berpotensi menghasilkan perubahan yang lebih nyata.
Prinsip tersebut, kata dia, perlu menjadi landasan dalam membangun city branding maupun village branding di Kabupaten Garut. Setiap gagasan yang dirumuskan harus diterjemahkan ke dalam tindakan konkret yang dapat dijalankan dan dikembangkan secara bertahap.
“Yang paling penting adalah aksi kecil-kecil. Daripada membuat sesuatu yang besar tetapi hanya dilakukan sekali, lebih baik memulai dari hal kecil, tetapi konsisten,” ungkapnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa keberhasilan branding daerah tidak semata-mata diukur dari seberapa cepat sebuah program diluncurkan, melainkan dari kemampuan seluruh pihak untuk menjalankannya secara berkelanjutan.
Dalam konteks pariwisata, misalnya, upaya membangun citra daerah perlu didukung oleh pembenahan destinasi, peningkatan kualitas pelayanan, penguatan produk lokal, pelestarian budaya, serta keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan dan kenyamanan pengunjung.
Dengan demikian, citra positif yang dibangun melalui promosi harus sejalan dengan pengalaman nyata yang dirasakan wisatawan ketika berkunjung ke Garut.
Village Branding dan Peran Desa
Selain identitas kabupaten secara keseluruhan, village branding juga menjadi bagian penting dari pembahasan. Pendekatan ini dapat diarahkan untuk mengenali dan mengembangkan keunggulan khas setiap desa berdasarkan potensi lokal yang dimiliki.
Desa-desa di Kabupaten Garut memiliki karakter dan sumber daya yang beragam. Ada desa yang berpotensi dikembangkan melalui wisata alam, seni dan budaya, produk pertanian, kerajinan, kuliner, maupun kegiatan ekonomi masyarakat.
Melalui branding desa yang tepat, potensi tersebut dapat diperkenalkan secara lebih terarah sekaligus membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi lokal.
Namun, pengembangan identitas desa perlu dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat dan keunikan masing-masing wilayah. Branding tidak seharusnya menyeragamkan seluruh desa, tetapi justru menonjolkan ciri khas yang membuat setiap desa memiliki daya tarik tersendiri.
Sinergi antara city branding dan village branding diharapkan dapat membangun identitas Garut secara menyeluruh, mulai dari tingkat kabupaten hingga desa, tanpa menghilangkan keragaman potensi lokal.
Belum Ada Target Peluncuran, Pemkab Fokus Mematangkan Konsep
Terkait waktu peluncuran atau launching program branding, Putri Karlina menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada tanggal pasti yang ditetapkan.
Menurutnya, proses tersebut tidak perlu dipaksakan hanya demi mengejar seremoni peluncuran. Pemerintah ingin memastikan bahwa proses pembelajaran, perumusan konsep, dan pengumpulan para penggerak berjalan terlebih dahulu.
Ia menekankan bahwa upaya membangun branding Garut harus terus bergerak melalui tahapan yang realistis. Ketika konsep dan pelaksanaannya semakin matang, program tersebut diharapkan dapat berkembang secara alami dan menunjukkan hasil yang dapat dirasakan masyarakat.
“Untuk launching, belum ada tanggal yang pasti. Pokoknya kita jalankan terus prosesnya. Kita belajar, mematangkan konsep, dan mulai melakukan langkah-langkah yang diperlukan,” katanya.
Meski demikian, tahap perencanaan tersebut perlu diikuti dengan penyusunan target, pembagian peran, serta indikator keberhasilan agar gagasan branding tidak berhenti pada forum diskusi.
Tantangan Berikutnya: Membuktikan Branding Melalui Hasil Nyata
Dimulainya pembahasan city branding dan village branding menjadi langkah awal bagi Kabupaten Garut untuk merumuskan identitas daerah yang lebih terarah. Namun, tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana konsep tersebut diterjemahkan menjadi program yang terukur dan berkelanjutan.
Kejelasan visi, keterlibatan komunitas, konsistensi kebijakan, serta koordinasi antar perangkat daerah akan menjadi faktor penting dalam proses tersebut. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa branding tidak hanya menjadi agenda promosi, tetapi terintegrasi dengan pembangunan sektor pariwisata, pemberdayaan desa, penguatan ekonomi kreatif, dan peningkatan kualitas pelayanan publik.
Keberhasilan program nantinya dapat dilihat dari sejauh mana identitas yang dirumuskan benar-benar tercermin dalam kebijakan dan aktivitas masyarakat, serta mampu memberikan manfaat bagi pelaku usaha lokal dan warga Garut.
Dengan mengutamakan proses belajar, pematangan konsep, dan langkah kecil yang konsisten, Pemkab Garut berharap dapat membangun identitas daerah yang kuat. Harapannya, Garut tidak hanya dikenal melalui slogan atau promosi, tetapi juga melalui karakter, pengalaman, dan potensi nyata yang dimiliki setiap wilayahnya.***Willy Esha



















