CIAMIS, Dejurnal,- Di tengah persaingan industri kuliner modern, makanan tradisional khas Sunda tetap memiliki penggemar setia.
Salah satunya adalah wajit ketan jadul “Kareeut Rasa”, produk UMKM binaan rumahan asal Desa Nasol, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis, yang konsisten bertahan selama tujuh tahun dan kini berhasil menembus pasar Jawa Tengah dan DIY. 
UMKM yang diproduksi oleh Kartikasari Snack ini dikelola langsung oleh Tati Sumiati, dengan mengedepankan cita rasa autentik berbahan alami.
Wajit ketan Kareeut Rasa dibuat dari ketan pilihan, kelapa segar, dan gula, sehingga menghasilkan tekstur lengket khas (kareeut) dan rasa legit yang menjadi ciri makanan jadul.
Komitmen menjaga mutu dan keamanan pangan dibuktikan dengan diraihnya Sertifikat Pemenuhan Komitmen Produksi Pangan Olahan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) dari Pemerintah Republik Indonesia, yang berlaku hingga 8 Desember 2026.
Legalitas tersebut sekaligus memperkuat kepercayaan konsumen dan membuka peluang pasar yang lebih luas.
“Alhamdulillah, dengan legalitas ini kami lebih percaya diri memasarkan produk, baik di Ciamis maupun ke luar daerah,” ujar Tati.
Dalam operasionalnya, produksi wajit ketan dilakukan secara fleksibel, menyesuaikan dengan permintaan pasar. Dalam kondisi normal, produksi dilakukan tiga hingga empat kali dalam seminggu.
Namun, saat pesanan dari luar daerah khususnya Magelang meningkat, proses produksi bisa dilakukan setiap hari.
Produk wajit ketan Kareeut Rasa dipasarkan dengan harga Rp40.000 per kilogram, serta tersedia dalam kemasan eceran seharga Rp15.000 per bungkus. Dari penjualan tersebut, UMKM ini mampu mencatatkan omzet rata-rata sekitar Rp12 juta per bulan.
Distribusi produk tidak hanya menyasar toko-toko oleh-oleh di Kabupaten Ciamis, tetapi juga telah menjangkau wilayah Magelang dan Yogyakarta, dengan target pengembangan pasar ke Semarang, Jogjakarta, dan sekitarnya. Pengiriman terjauh saat ini tercatat hingga Magelang dan Jogjakarta.
Selain menggerakkan ekonomi keluarga, UMKM Kareeut Rasa juga berperan dalam pemberdayaan masyarakat sekitar. Saat ini, usaha tersebut mempekerjakan empat karyawan perempuan dan satu karyawan laki-laki. Pada saat produksi padat, jumlah tenaga kerja laki-laki dapat bertambah untuk membantu proses pengolahan.
“Kalau pesanan banyak, Alhamdulillah bisa memberdayakan ibu-ibu dan saudara dekat rumah,” tutur Tati.
Meski demikian, pelaku UMKM ini tidak lepas dari tantangan. Ketersediaan bahan baku tertentu, terutama cangkang jagung, menjadi kendala tersendiri saat permintaan melonjak. Selain itu, keterbatasan modal usaha juga menjadi tantangan ketika volume pesanan meningkat tajam.
“Dukanya itu ketika pesanan banyak, bahan baku cangkang jagung sulit didapat, dan modal juga sering terbatas,” ungkapnya.
Ke depan, Tati berharap adanya dukungan kebijakan yang lebih berpihak kepada UMKM pangan tradisional, khususnya dalam hal kemudahan dan keberlanjutan legalitas usaha.
“Harapannya, legalitas bisa dibantu dan tidak terlalu memberatkan, sehingga kami bisa fokus menjaga kualitas produk dan memperluas pemasaran,” ujarnya.
UMKM Wajit Ketan Kareeut Rasa beralamat di Dusun Desa RT 17/RW 05, Desa Nasol, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis. Informasi dan pemesanan dapat dilakukan melalui WhatsApp 0852-8393-1956, serta media sosial Instagram @kartikasarisnack dan Facebook Kartikasari.
Keberadaan UMKM menjadi bukti bahwa makanan jadul yang legit dan berkualitas, jika dikelola secara konsisten dan didukung legalitas, mampu bertahan, berkembang, serta berkontribusi nyata dalam menggerakkan ekonomi lokal. (Nay Sunarti)










