Ciamis, deJurnal,- Pondok Pesantren Darussalam memulai langkah besar yang diyakini bukan hanya membangun fisik bangunan, tetapi juga menanam fondasi peradaban. Pembangunan Masjid Raya Darussalam resmi dimulai dengan peletakan batu pertama pada Jumat (13/2/2026), di lingkungan pesantren tersebut.
Momentum Tersebut menjadi bagian dari rangkaian pasca peresmian Wisma Ikhada, sekaligus penanda dimulainya proyek strategis keumatan yang diproyeksikan menjadi ikon baru religiusitas dan pendidikan Islam di Kabupaten Ciamis.
Prosesi berlangsung khidmat dengan dihadiri berbagai unsur pimpinan daerah dan tokoh masyarakat. Tampak hadir Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis, Ketua DPRD Kabupaten Ciamis, Asisten Daerah III, Ketua Baznas Kabupaten Ciamis, Ketua DMI, unsur umaro, alim ulama, tokoh agama, hingga masyarakat umum.
Kehadiran para alumni Darussalam menjadi sorotan tersendiri. Dukungan moral dan komitmen mereka memperlihatkan bahwa pembangunan Masjid Raya Darussalam bukan hanya agenda pesantren, melainkan gerakan kolektif lintas generasi.
Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam, Dr. KH. Fadili Yani Ainusyamsi (Ang Icep), menegaskan bahwa peletakan batu pertama memiliki makna historis yang dalam dalam tradisi Islam.
Ia mengingatkan Masjid Quba merupakan masjid pertama yang dibangun Nabi Muhammad SAW pada tahun pertama Hijriah, diawali dengan peletakan batu pertama sebagai simbol dimulainya peradaban Islam di Madinah.
Tradisi tersebut, lanjutnya, telah dikenal sejak masa Nabi Ibrahim AS hingga Nabi Muhammad SAW.
“Hari ini kita tidak sekadar membangun bangunan. Kita sedang melanjutkan nilai-nilai luhur itu. Masjid adalah pusat lahirnya ilmu, akhlak, dan solusi umat,” ujar Ang Icep.
Dikatakan Ang Icep pembangunan Masjid Raya Darussalam harus dimaknai sebagai investasi spiritual dan sosial jangka panjang.
Masjid Raya Darussalam direncanakan berdiri di atas lahan kurang lebih 420 bata. Bangunan utama akan memiliki dimensi sekitar 40 x 40 meter, dengan luas ruang dalam 36 x 28 meter.
Selain ruang utama salat, desain masjid akan dilengkapi dengan halaman representatif serta area penunjang yang memanjang ke bagian belakang.
Area tersebut dirancang untuk mendukung berbagai kegiatan pendidikan, dakwah, dan aktivitas sosial kemasyarakatan. Total estimasi anggaran pembangunan diperkirakan mencapai Rp8,5 miliar.
Ang Icep menyampaikan optimisme dengan niat ikhlas dan semangat gotong royong melalui wakaf, pembangunan dapat berjalan lancar dan tepat waktu.
“Membangun rumah Allah adalah investasi yang tidak pernah rugi. Kita berikhtiar maksimal, tetapi hasilnya kita serahkan kepada Allah SWT. Dengan kebersamaan, insya Allah prosesnya akan dimudahkan,” tegasnya.
Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis, Dr. H. Andang Firman Triyadi, yang mewakili Bupati Ciamis, menekankan bahwa pembangunan masjid tidak boleh dipersempit hanya sebagai proyek fisik.
Ia mencontohkan Masjid Nabawi yang dibangun Nabi Muhammad SAW bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pemerintahan, pendidikan, musyawarah, dan penyelesaian persoalan sosial.
“Masjid ini harus menjadi pusat ibadah, ruang belajar santri, tempat musafir singgah, laboratorium ilmu keislaman, sekaligus ruang diskusi untuk menjawab persoalan sosial. Dari sinilah lahir peradaban,” ujarnya.
Menurutnya, Masjid Raya Darussalam memiliki potensi menjadi pusat solusi yang dampaknya tidak hanya dirasakan di Ciamis, tetapi juga di tingkat regional hingga nasional.
Ia pun mengajak masyarakat dan para dermawan untuk berpartisipasi aktif dalam gerakan wakaf pembangunan.
“Ini ladang amal jariah yang terbuka luas. Setiap kontribusi adalah bagian dari investasi akhirat,” tambahnya.
Sementara itu Ketua Pelaksana Pembangunan Masjid, H. Agung, menegaskan bahwa Masjid Raya Darussalam dirancang sebagai fondasi ukhuwah dan masa depan generasi Ciamis.
“Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi pusat cahaya. Tempat anak-anak belajar Al-Qur’an, ruang tumbuhnya akhlak, ilmu, dan kepedulian sosial,” katanya.
Setiap bata yang tersusun dan setiap rupiah yang diinfakkan akan menjadi amal jariah yang terus mengalir pahalanya.
Dengan semangat kebersamaan pesantren, alumni, dan masyarakat, Agung berharap Masjid Raya Darussalam dapat menjadi simbol kebangkitan peradaban Islam.
“Masjid ini nantinya bukan hanya berdiri megah secara fisik, tetapi hidup sebagai pusat pembinaan umat di Kabupaten Ciamis dan sekitarnya,” pungkasnya. (Nay Sunarti)


















