Dejurnal.com, Bandung – Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan kebudayaan, Pemkab Bandung telah menghadirkan Dinas Kebudayaan yang berdiri secara mandiri. Ke depan, pemerintah daerah juga akan memperluas ruang ekspresi bagi para pelaku seni melalui penyelenggaraan festival budaya yang lebih masif.
Hal tersebut disampaikan Bupati Bandung, Dadang Supriatana saat menghadiri Pagelaran Seni Budaya Sunda se-Jawa Barat yang diselenggarakan Paguyuban Seniman dan Seniwati Pasundan (PSSP) di Gedong Budaya Sabilulungan di Soreang, Selasa 2 Juni 2026.
Dadang Supriatna mendorong agar Kapela Dinas Kebudayaan untuk membuat program yang lebih masif. “Saya menantang Kepala Dinas Kebudayaan untuk membuat program yang lebih masif. Insyaallah setelah semester kedua dan APBD Perubahan 2026, kita akan melaksanakan Festival Seni dan Budaya dalam tiga episode, yakni pada Agustus, Oktober, dan akhir tahun 2026,” Katanya.
Selain itu, Dadang Supriatna juga mengungkapkan bahwa Pemkab Bandung tengah menyiapkan sinergi antara sektor kebudayaan dan pariwisata untuk meningkatkan daya tarik daerah sekaligus memperluas ruang tumbuh bagi seni budaya Sunda.
“Di Kabupaten Bandung, Bahasa dan Budaya Sunda menjadi muatan lokal yang wajib dipahami peserta didik. Ini merupakan bagian dari upaya membangun karakter generasi muda agar mengenal dan mencintai budaya daerahnya sendiri,” katanya.
Bupati menyampaikan apresiasi atas konsistensi PSSP dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya Sunda di tengah arus modernisasi.
Dadang Supriatna juga mengajak PSSP untuk berkolaborasi dengan dunia pendidikan dalam memperluas edukasi budaya kepada para pelajar. Dengan sekitar 1.600 sekolah yang ada di Kabupaten Bandung, ia melihat peluang besar untuk memperkuat pengenalan bahasa, sastra, dan seni budaya Sunda kepada generasi penerus.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup melalui pertunjukan seni, tetapi harus menjadi bagian dari proses pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Bandung mewajibkan Bahasa dan Budaya Sunda sebagai muatan lokal di jenjang SD dan SMP.
“Kita ingin budaya Sunda tetap eksis. Karena itu ke depan akan ada kolaborasi antara sektor pariwisata dan kebudayaan sehingga potensi seni budaya dapat berkembang lebih luas,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menekankan pentingnya kaderisasi sebagai langkah strategis menjaga keberlangsungan seni dan budaya Sunda di masa depan. Menurutnya, generasi muda harus diberikan ruang dan kesempatan untuk belajar, berkarya, serta melanjutkan estafet pelestarian budaya.
“Generasi muda harus dipersiapkan. Harus ada kaderisasi dan pewarisan nilai-nilai budaya secara berkelanjutan agar seni budaya Sunda tetap hidup dan berkembang,” katanya.
Dadang Supriatna juga mengajak seluruh seniman dan seniwati untuk turut menanamkan nilai-nilai budaya Sunda melalui kepedulian terhadap lingkungan.
“Saya titip kepada seluruh seniman dan seniwati, kalau kita sayang dengan budaya Sunda, kalau kita mau melestarikan budaya Sunda, maka jangan lupa bersih-bersih di lingkungan masing-masing. Dengan lingkungan yang bersih kita akan sehat, dan dengan tubuh yang sehat kita akan lebih berkualitas dalam menjalankan aktivitas sehari-hari,” ujarnya.
Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas budaya, lembaga pendidikan, dan masyarakat, pelestarian budaya Sunda diharapkan terus berkembang sebagai bagian penting dalam memperkuat identitas daerah sekaligus mendukung terwujudnya Kabupaten Bandung yang BEDAS menuju Indonesia Emas 2045.*** Sopandi













