CIAMIS, deJurnal,- Festival kolaborasi musik bertajuk Harmoni Tanpa Batas: Suara yang Tak Terpenjara yang akan digelar Selasa 16 Juni 2026 dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Ciamis ke-384 dan menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah ternyata menyimpan makna yang jauh lebih besar dari sekadar pertunjukan musik.
Di balik panggung hiburan yang akan menghadirkan musisi nasional, terdapat cerita tentang proses panjang pembinaan warga binaan di Lapas Kelas IIB Ciamis yang selama ini berlangsung di balik tembok pemasyarakatan.
Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BP2D) Kabupaten Ciamis, Endang Haris Juandana, M.M., mengatakan masyarakat selama ini kerap memandang warga binaan hanya dari masa lalu mereka.
Padahal, selama menjalani masa pidana, mereka mendapatkan berbagai pembinaan untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat.
“Sering kali orang hanya melihat kesalahannya. Padahal di dalam Lapas mereka dibina, dididik, diberi keterampilan, dibangun mental dan spiritualnya agar ketika kembali ke masyarakat memiliki bekal untuk hidup mandiri,” ujar Endang.
Menurutnya, salah satu alasan kegiatan Harmoni Tanpa Batas digelar adalah untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa proses pembinaan tersebut benar-benar menghasilkan karya dan potensi yang layak diapresiasi.
Berbagai program keterampilan selama ini dijalankan di Lapas Ciamis. Warga binaan dibekali kemampuan membuat berbagai produk yang memiliki nilai ekonomi, mulai dari kerajinan tangan, keset, perlengkapan rumah tangga, hingga berbagai produk kreatif lainnya yang telah memiliki pasar.
Harapannya, ketika masa pidana berakhir, mereka tidak kembali pada kesalahan yang sama, melainkan mampu menciptakan sumber penghasilan secara mandiri melalui keterampilan yang telah diperoleh selama menjalani pembinaan.
Namun yang paling menarik, kata Endang, adalah munculnya kreativitas di bidang seni dan musik dari sejumlah warga binaan.
Di antara mereka terdapat sosok-sosok yang memiliki kemampuan menciptakan syair lagu dan karya musik yang tidak kalah dengan musisi profesional.
Bahkan beberapa karya tersebut telah dibawakan dan dipopulerkan oleh musisi yang telah dikenal masyarakat luas.
“Ada warga binaan yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menciptakan lirik lagu. Karyanya sudah dinyanyikan oleh penyanyi yang cukup dikenal. Ini membuktikan bahwa kreativitas tidak pernah bisa dipenjara,” katanya.
Kemampuan tersebut terus diasah melalui program pembinaan yang berjalan di dalam Lapas. Dalam kurun waktu sekitar satu tahun terakhir, kualitas karya musik yang dihasilkan dinilai semakin baik dan layak dipertunjukkan kepada publik.
Karena itu, Harmoni Tanpa Batas menjadi momentum penting untuk memperlihatkan hasil pembinaan tersebut secara langsung kepada masyarakat.
Endang menilai, ketika masyarakat dapat melihat karya-karya yang lahir dari proses pembinaan, maka stigma negatif terhadap warga binaan perlahan dapat berubah menjadi dukungan dan kesempatan kedua bagi mereka untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
“Kita ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki harapan, memiliki kemampuan, dan memiliki kesempatan untuk berubah. Ketika nanti kembali ke masyarakat, mereka tidak lagi dipandang dari masa lalunya, tetapi dari karya dan kemampuannya,” ujarnya.
Gagasan menghadirkan karya warga binaan dalam rangkaian Hari Jadi Kabupaten Ciamis mendapat respons positif dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Ciamis, Polres Ciamis, serta sejumlah elemen masyarakat yang mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Kolaborasi lintas instansi itu dinilai menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap proses reintegrasi sosial warga binaan sekaligus memperkenalkan sisi lain pembinaan pemasyarakatan yang selama ini jarang diketahui masyarakat.
Selain menampilkan karya warga binaan dan pertunjukan musik, kegiatan tersebut juga akan diramaikan berbagai layanan publik dari perangkat daerah serta stan UMKM lokal yang menampilkan produk khas Kabupaten Ciamis.
Melalui Harmoni Tanpa Batas, masyarakat tidak hanya diajak menikmati hiburan, tetapi juga melihat secara langsung bahwa di balik tembok Lapas terdapat proses pembinaan yang melahirkan keterampilan, kreativitas, harapan, dan kesempatan untuk memulai kehidupan yang lebih baik. (Nay Sunarti)















