CIAMIS, deJurnal,- Badan Promosi Pariwisata Daerah (BP2D) Kabupaten Ciamis terus memperkenalkan wajah baru pariwisata daerah melalui program Smiling Enjoy Galuh.
Dengan mengusung konsep wisata berbasis pengalaman (experience tourism), BP2D mengajak rombongan profesor, dosen, peneliti, dan mahasiswa dari Filipina, Jepang, serta Indonesia menjelajahi warisan budaya Tatar Galuh menggunakan Gatrik (Galuh Tour Kota Klasik), Minggu (26/07/2026).
Sebanyak 26 peserta mengikuti kegiatan Islamic Southeast Asia Traveling Classroom, program mobilitas akademik yang diselenggarakan SEASREP Foundation (Southeast Asian Studies Regional Exchange Program) bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM). Program ini menghadirkan studi lapangan mengenai sejarah Islam, keberagaman budaya, dialog antaragama, dan kehidupan masyarakat multikultural di Indonesia.
Perjalanan dimulai dari Hotel Priangan Ciamis. Satu per satu peserta menaiki armada Gatrik yang membawa mereka menyusuri Kota Ciamis menuju sejumlah destinasi budaya unggulan.
Penggunaan kendaraan wisata ramah lingkungan tersebut menjadi bagian dari pengalaman yang sengaja dirancang BP2D agar wisatawan menikmati perjalanan sejak pertama menginjakkan kaki di Kabupaten Ciamis.
Ketua BP2D Kabupaten Ciamis, Endang Haris Juandana, mengatakan konsep Smiling Enjoy Galuh dibangun untuk memperkenalkan Ciamis bukan hanya melalui destinasi wisata, melainkan melalui pengalaman yang melibatkan budaya, masyarakat, sejarah, dan kuliner lokal.
Menurutnya pariwisata saat ini telah bergeser. Wisatawan tidak lagi sekadar mencari tempat yang indah untuk difoto, tetapi mereka ingin mendapatkan pengalaman yang otentik.
“Karena itu kami menghadirkan Smiling Enjoy Galuh sebagai konsep yang mengajak wisatawan menikmati Ciamis secara utuh, mulai dari perjalanan, budaya, masyarakat, hingga kulinernya,” ujarnya
Endang menjelaskan Gatrik menjadi salah satu ikon baru pariwisata Kabupaten Ciamis yang memperkuat citra daerah sebagai destinasi yang ramah lingkungan dan nyaman bagi wisatawan.
“Gatrik bukan hanya kendaraan pengantar wisatawan. Kami ingin menjadikannya bagian dari atraksi wisata,” katanya.
Endang menambahkan, BP2D terus mengembangkan promosi pariwisata berbasis pengalaman karena diyakini menjadi cara paling efektif memperkenalkan potensi daerah kepada dunia.
“Jika wisatawan hanya datang melihat objek wisata, mungkin yang mereka bawa hanya foto. Tetapi ketika mereka ikut membuat angklung, berbincang dengan pengrajin, menyaksikan toleransi yang hidup di Kampung Kerukunan, lalu menikmati kuliner khas Sunda, mereka akan membawa cerita yang jauh lebih berharga. Cerita itulah yang akan menjadi promosi terbaik bagi Kabupaten Ciamis,” tuturnya.
Belajar Membuat Angklung Bersama Pengrajin
Destinasi pertama yang dikunjungi adalah Kampung Angklung di Desa Panyingkiran. Di lokasi ini para peserta menyaksikan langsung proses pembuatan angklung, mulai dari pemilihan bambu, pembentukan, penyetelan nada hingga menjadi alat musik yang siap dimainkan.
Rombongan kemudian berdialog dengan para pengrajin sebelum memainkan angklung bersama di amfiteater desa.
Ketua Yayasan Kampung Angklung sekaligus pengrajin, Nunu, mengaku bangga Kampung Angklung kini menjadi salah satu tujuan wisata edukasi bagi tamu dari luar negeri.
“Alhamdulillah kami sangat bersyukur. Terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Ciamis dan BP2D yang telah membawa tamu dari berbagai negara ke Kampung Angklung. Kami bangga karena hasil karya para pengrajin kini dikenal hingga mancanegara,” katanya.
Nunu menjelaskan, saat ini terdapat lebih dari 10 kelompok pengrajin angklung di Desa Panyingkiran yang melibatkan sekitar 70 perajin aktif.
Ia menilai kunjungan wisatawan memberikan dampak positif terhadap keberlangsungan para pengrajin.
“Pengaruhnya sangat terasa, baik terhadap penjualan maupun promosi. Wisatawan biasanya membagikan pengalaman mereka melalui media sosial sehingga Kampung Angklung semakin dikenal. Dampaknya, kepercayaan masyarakat meningkat dan peluang kunjungan berikutnya juga semakin besar,” ujarnya.
Mahasiswa Filipina Terkesan
Salah seorang peserta, Rafael Sandoy, mahasiswa asal Filipina, mengaku terkesan dapat melihat langsung proses pembuatan angklung yang selama ini hanya dikenalnya melalui buku dan internet.
“Saya sangat senang berada di sini. Melihat sendiri bagaimana angklung dibuat merupakan pengalaman yang luar biasa. Bermain angklung bersama masyarakat menjadi momen yang tidak akan saya lupakan. Orang-orang di Ciamis sangat ramah dan budayanya sangat kaya,” ungkap Rafael.
Menyaksikan Harmoni di Kampung Kerukunan
Setelah dari Kampung Angklung, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kampung Kerukunan di Lingkungan Lebak, Kelurahan Ciamis, Kecamatan Ciamis.
Di kawasan tersebut para peserta melihat secara langsung kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan dalam keberagaman agama.
Mereka mengunjungi kawasan Kampung Kerukunan yang di dalamnya terdapat lima rumah ibadah, di antaranya masjid, gereja, klenteng, serta rumah ibadah agama lainnya yang berdiri berdampingan sebagai simbol kuatnya toleransi masyarakat Ciamis.
Dialog bersama tokoh masyarakat memberikan gambaran kepada para akademisi mengenai bagaimana nilai toleransi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Tatar Galuh.
Ditutup Menikmati Kuliner Khas Sunda
Rangkaian kunjungan kemudian ditutup dengan makan siang bersama di Saung Tampani. Dalam suasana pedesaan yang asri, rombongan menikmati beragam hidangan khas Sunda dan kuliner tradisional Ciamis.
Bagi BP2D, pengalaman menikmati kuliner lokal merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari konsep Smiling Enjoy Galuh.
Melalui perpaduan perjalanan menggunakan Gatrik, kunjungan ke sentra budaya, wisata toleransi, hingga sajian kuliner khas daerah, BP2D berharap setiap tamu membawa pulang pengalaman yang berkesan sekaligus menjadi duta promosi bagi pariwisata Kabupaten Ciamis di tingkat internasional. (Nay Sunarti)

















