CIAMIS, deJurnal – Menjadi Wawakil Kerajaan Galuh bagi Raden Rafiq Hakim Radinal bukan sekadar menerima sebuah penghormatan. Di balik amanah tersebut, ia melihat tanggung jawab untuk ikut menjaga marwah, sejarah, serta nilai-nilai budaya yang diwariskan para karuhun.
Rafiq menyampaikan rasa syukur atas amanah yang diterimanya sebagai Wawakil Kerajaan Galuh. Ia berharap peran tersebut dapat menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk mempererat persatuan dan membangun kebersamaan di tengah masyarakat.
Baginya, nilai-nilai yang diwariskan para leluhur masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Kanyaah, gotong royong, saling menghargai, dan kecintaan terhadap tanah kelahiran merupakan nilai yang dinilai tetap relevan di tengah perubahan zaman.
“Kanyaah dipersatukan, semoga dapat membantu kita semua untuk menjadi satu yang jauh lebih baik, sesuai dengan apa yang diharapkan para karuhun kita,” ujar Rafiq.
Wawakil Galuh Bukan Sekadar Simbol
Rafiq menegaskan, amanah sebagai Wawakil Kerajaan Galuh tidak semestinya dimaknai sebatas kedudukan ataupun simbol adat. Lebih dari itu, terdapat tanggung jawab moral untuk ikut merawat sejarah dan memastikan nilai-nilai luhur Galuh tetap dikenal serta diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menurutnya, budaya Galuh memiliki kekayaan nilai yang tidak cukup hanya dikenang sebagai bagian dari masa lalu.
Warisan tersebut perlu terus dihidupkan melalui kehidupan masyarakat, terutama dalam membangun hubungan sosial yang dilandasi kebersamaan dan rasa saling menghormati.
Karena itu, Rafiq melihat pelestarian budaya sebagai pekerjaan bersama. Pemerintah, keraton, budayawan, seniman, tokoh masyarakat, generasi muda, hingga masyarakat secara luas memiliki ruang dan peran masing-masing dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya Galuh.
Ia berharap kehadiran Wawakil Galuh dapat menjadi salah satu jembatan untuk memperkuat komunikasi dan kebersamaan antarelemen masyarakat.
Menjaga Warisan Karuhun di Tengah Perubahan Zaman
Rafiq menyadari tantangan pelestarian budaya semakin besar seiring perubahan zaman. Generasi muda tumbuh dalam lingkungan yang semakin terbuka dan dekat dengan berbagai pengaruh budaya dari luar.
Namun, menurutnya, perubahan tersebut tidak harus membuat masyarakat meninggalkan akar budayanya. Justru nilai-nilai lokal dapat menjadi pijakan untuk menghadapi perubahan tanpa kehilangan identitas.
Semangat gotong royong, kanyaah, menghargai sesama, serta mencintai tanah kelahiran merupakan nilai yang menurut Rafiq perlu terus ditanamkan dan diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia pun berharap generasi muda tidak hanya mengenal Galuh melalui catatan sejarah, tetapi juga memahami nilai yang terkandung di dalamnya.
“Harapannya tentu kita semua bisa berjalan bersama, menjaga apa yang sudah diwariskan para karuhun dan menjadikan nilai-nilai itu sebagai pijakan untuk membangun masa depan yang lebih baik,” katanya.
Kanyaah sebagai Perekat Persatuan
Bagi Rafiq, kata kanyaah memiliki makna penting dalam menjaga kebersamaan. Kecintaan terhadap budaya dan tanah kelahiran, kata dia, seharusnya tidak berhenti pada simbol atau seremoni, tetapi diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama dan lingkungan sekitar.
Ia berharap semangat tersebut dapat menjadi perekat di tengah masyarakat sehingga perbedaan tidak menjadi penghalang untuk berjalan bersama.
“Mudah-mudahan amanah ini bisa menjadi jalan untuk mempererat persatuan, menjaga kanyaah terhadap karuhun, dan membawa kebaikan bagi kita semua,” harapnya.
Rafiq juga berharap amanah sebagai Wawakil Kerajaan Galuh dapat memberikan manfaat yang lebih luas, terutama dalam mendorong tumbuhnya kecintaan masyarakat terhadap sejarah dan budaya daerah.
Dengan semangat tersebut, ia ingin nilai-nilai Galuh tidak berhenti sebagai warisan masa lalu. Nilai itu diharapkan tetap hidup, tumbuh, dan menjadi inspirasi bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. (Nay Sunarti)















